Main Menu

Agus Noor: Media Massa Mengukur Pencapaian Sastra

Fahrio Rizaldi A.
30-04-2016 06:45

Jakarta, GATRAnews - Minimnya ruang sastra di media masa saat ini, akan berakibat pada regenerasi penulis. Hal ini diakui oleh penulis sekaligus sutradara teater Agus Noor. Sastra dan media cetak, terutama koran, kata Agus, memiliki sejarah yang panjang. Di tahun 1970an, sastrawan nasional memiliki media khusus untuk mempublikasi karyanya.

"Seiring perkembangan zaman, media sastra khusus itu surut. Tahun 1980 an media sastra seperti majalah Horison mulai redup. Akhirnya perannya digantikan oleh koran berita, seperti Tempo, Kompas, Suara Merdeka, dan lain-lain," ujar Agus, saat mengisi materi dalam diskusi Senjakala Sastra di Media Masa, Kamis (28/4) di bilangan Kota Tua, Jakarta Barat.

Koran, kata Agus, sangat membantu para penulis untuk memperkenalkan karyanya. Di masa itu penerbit masih sangat sedikit. Agar bisa dimuat dalam buku, penulis perlu menunggu selama dua sampai lima tahun. "Penulis yang sudah punya draf saja harus menunggu karyanya dibukukan selama dua sampai lima tahun. Kemunculan rubrik sastra di media berita, membantu penulis untuk mempublikasi karyanya," jelasnya.

Saat ini media mulai berubah, perkembangan teknologi membuat orang bebas menciptakan karya. Di tahun 2000an, fenomena menulis melalui blog mulai mewabah.

Tidak ada yang salah, kata Agus Noor, namun tulisan di Blog tidak bisa dinilai lebih jauh karena bersifat bebas. "Blog kan suka-suka, nulis, posting tanpa terpengaruh aturan media. Tapi, kalau mau masuk koran, karya sastra harus melalui penilaian dari redaksi. Hanya yang sesuai selera yang bisa dimuat," seloroh Agus.

Singkatnya, lanjut dia, media masa harus terus menerbitkan rubrik sastra. Sebab, ruang ini lah yang menjadi tolok ukur kualitas penulis. "Kalau tidak dimuat media, penulis akan bertanya apakah tulisannya kurang bagus. Jadi, media itu berfungsi untuk mengukur pencapaian sastra," tandasnya.



Reporter: Rizaldi Abror
Editor: Edward Luhukay

Fahrio Rizaldi A.
30-04-2016 06:45