Main Menu

Lika-liku Tari Balet dan Perkembangannya di Indonesia

Edward Luhukay
03-10-2016 09:38

Jakarta, GATRAnews - Indonesia Dance Company (IDCO) resmi diluncurkan pada Sabtu (1/10) di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), Jakarta. IDCO merupakan pengembangan dari Marlupi Dance Academy yang didirikan sekitar 60 tahun silam oleh Marlupi Sijangga. Lika-liku mengembangkan tari balet di Indonesia kini menjadi tantangan bagi Fifi Sijangga dan Claresta Alim melalui IDCO.

Claresta Alim menyatakan, talenta-talenta balet bertebaran di penjuru negeri ini. Namun perkembangan balet di Indonesia, tidak seperti Singapura yang menurutnya telah memiliki akademi khusus balet. "Saya lihat dari sekolah balet kami saja yang sudah 60 tahun berdiri, sebenarnya banyak penari-penari muda balet yang sangat bertalenta," tutur Claresta kepada wartawan, di GKJ, Jum`at (30/9) petang.

"Saya yakin, dari situ, sayang kalau mereka nggak punya wadah. mereka sudah belajar menari, tapi mereka tidak punya wadah atau wadah untuk menunjukkan hasil karya yang mereka sudah pelajari dari kecil," tambah Artistic Director IDCO ini.

Lebih lanjut Claresta menjelaskan, sebagai sebuah institusi, dengan pengalaman puluhan tahun melalui Marlupi Dance Academy, IDCO fokus dalam pengembangan seni tari di Indonesia, khususnya balet.

Sementara, Executive Director IDCO Fifi Sijangga menjelaskan, tantangan besar bagi pihaknya dalam memasyarakatkan tari balet di Indonesia. Berbeda halnya dengan sejumlah negara lain, yang menurutnya sudah menjadikan balet sebagai sebuah profesi atau industri. "Ini langkah sulit, karena di Indonesia belum biasa," kata Fifi.

"Di luar negeri, banyak penari yang ada di sebuah company dibayar per minggu. Jadi tergantung dari tingkat level skill mereka. Seperti clarissa saat di luar negeri yang dibayar per minggu sekian ratus dolar," tambahnya.

Sebagai langkah awal, lanjut Fifi, IDCO merekrut para penari terbaik mereka dari Marlupi Dance Company. Melalui upaya tersebut diharapkan bakal terbentuk pola industri di bidang seni tari balet Indonesia.



Editor: Edward Luhukay

Edward Luhukay
03-10-2016 09:38