Main Menu

17 Seniman Gelar Pameran Kontemporer Bertema '''Turbulensi''

Iwan Sutiawan
07-02-2017 02:58

Jakarta, GATRAnews - Sebanyak 17 seniman memamerkan karyanya dalam pameran seni kontemporer bertajuk "Contemporary Art and Social Turbulance", di Edwin's Gallery, Kemang, Jakarta Selatan, pada 6 sampai 19 Februari 2017. Rifky Effendi (Goro), kurator pameran ini, judul "turbulence" diambil karena Indonesia saat ini, khususnya Jakarta, sedang mengalami "turbulensi" yang menjadi perhatian internasional, akibat adanya gejolak politik menghadapi pilkada.  

"Seni itu harus ikut berjuang, dalam artian bukan harus turun ke jalan, tapi persoalan yang ada di Tanah Air, misalkan intoleransi, etnisitas, korupsi, dan lain-lain itu persoalan yang kita hadapi. Seniman itu radar dari satu masyarakat," katanya, dalam jumpa pers di Erwin's Gallery, Senin petang (6/2).

Selain itu, media sosial juga sangat ramai dan kerap menduplikasi dan diduplikasi. Karya seni dari 17 seniman yang dipamerkan di sini merupakan ungkapan atas turbulensi kondisi saat ini.

Adapun ke-17 seniman Indonesia yang memamerkan karya seninya adalah Abdi Setiawan, Adi Gunawan, Aliansyah Chaniago, Arya Pandjalu, Ayu Rista Murti, Dodi Sofyanto, Francy Vidriani, Kara Andarini, dan Muhammad Vilhamy. Kemudian Mujahidin Nurrahman, Reza Ayudya, Rudi Atjeh, Rudi Herdianto, Septiawan Hariyoga, Tara Astari Kasenda, Yosefa Aulia, dan Yogie A Ganjar.

Beberapa seniman mengepresikan atas isu situasi urban perkotaan, di antaranya Kara Andarini menyajikan drawing-drawing yang merujuk pada kepadatan kota dan degup kehidupan kota melalui karya bertujul "Alur Lanskap #1&#2".

Patung-patung karya Arya Pandjalu berjudul "Lindungi Aku dari Cahayamu", "Bukan Lele" karya Abdi Setiawan dan "The Dreams" karya Adi Gunawan menyajukan fotret manusia-manusia urban yang sering kali terpinggirkan dalan suatu masyarakat kota.

Sementara karya patung Rudi Hendriatno berjudul "Komposisi #1" menanggapi perkembangan interaksi manusia dengan mesin dengan cara penuh ironi. "Solaris" karya Tara Astari Kasenda merepresentasikan bagaimana imej dan identitas diri menjadi terduplikasi, bahkan bisa manupulatif di dalam dunia maya sosial-media.

Adapun karya instalasi Rudy Atjeh "The Next Unkown/Follower Generation" merefleksikan suatu kekhawatiran kepada hal yang paling nyata yang sedang dihadapi masyarakat Indonesia. Bagaimana jika nilai-nilai pluralisme yang ada di dalam kehidupan berbangsa di Indonesia tergerus dan terpecah belah.

Managing Director PT Pernod Richard Indonesia, mengatakan, Martell memberikan wadah untuk seniman Indonesia untuk berkreasi. Kegiatan ini juga bertujuan untuk lebih meningkatkan kerja sama asosiasi dari produk Martell dengan dunia seni (art) di Indonesia.

"Dalam era sekarang, sosial media sangat dekat, kita harus melihatnya sebagai peluang binsis, dalam galeri pun online gallery is coming. Kita bisa menjual karya seni di Indonesia, tapi juga Singapura, Belanda, dan di manapun," katanya.


Reporter: Iwan Sutiawan
Editor: Tian Arief

Iwan Sutiawan
07-02-2017 02:58