Main Menu

Cerita Drupadi Menggeser Pakem

Andhika Dinata
17-02-2017 19:18

seno Gumira Ajidarma meluncurkan novel Drupadi (GATRA/Rifki M Iryad)

[quote width="auto" align="left|right|none" border="blue" color="black" title=""]Bermula dari cerita bersambung, sastrawan Seno Gumira Ajidarma menuntaskan kisah Drupadi sebagai novel. Bagian dari proyek kerja sama lawasnya dengan Danarto. Drupadi yang ini, tidak mau kalah oleh takdir.  [/quote]

Jakarta, GATRAnews - Jatuh  hati kepada lukisan, Seno Gumira Ajidarma buru-buru menuangkannya dalam tulisan. Lahirlah ''Drupadi''. Peristiwa itu, seingatnya, terjadi saat ia menjadi wartawan di majalah mingguan Zaman (1983-1984). Adalah sastrawan dan pelukis Danarto yang menjadi redakturnya kala itu.

 

Seno selalu kagum pada Danarto tiap kali melukis ilustrasi tokoh pewayangan di Zaman. Bukan hanya karena keindahan lukisannya, melainkan juga keberanian perupa jebolan Akademi Seni Rupa Indonesia itu keluar dari pakem, bermain dengan kreativitasnya sendiri.


Seno menilai Danarto punya cara sangat unik dalam menggambarkan karakter wayang. Dengan pendekatan visual, Danarto mengetengahkan tokoh wayang yang tak sesuai dengan kerangka kebudayaan Jawa pada umumnya. Cenderung 'berantakan'.

 

Bagi Seno, lukisan wayang Danarto yang 'berantakan' itu adalah sumber inspirasi. ''Rambutnya kayak orang Jepang, aksesoris kayak orang Romawi. Ada kuda, sisiknya kayak naga,'' tutur cerpenis ''Sepotong Senja untuk Pacarku'', menggambarkan lukisan wayang Danarto yang nyeleneh itu.


Seperti Danarto, sejak lama Seno menaruh kecintaan pada wayang. Saat masih bocah hingga remaja, penggubah novel silat Naga Bumi itu mengagumi karya-karya komik R.A. Kosasih. Seno mengenal cerita wayang pertama kali lewat pertunjukan Ngesti Pandowo di Alun-alun Utara, Kota Yogyakarta.


Majalah Zaman telah mempertemukan Seno dengan Danarto. Keduanya berinteraksi, mengobrol seputar perwayangan dan bikin proyek bareng. Danarto menaruh wayang dalam lukisan surealisnya. Seno lantas menggubahnya dalam bentuk cerita bersambung. Kedua seniman itu berkolaborasi menggarap cerita wayang Drupadi.

 

Baca Juga: Seno GA: Wayang Bisa Dikembangkan Secara Telanjang

 

Walhasil, "Drupadi" terbit di majalah Zaman sepanjang 1983-1984, bersamaan dengan cerita Aswatama, Karna, Kunti, Trijata, dan Wisanggeni. Cerita yang terdiri dari 10 bab ini tak ditulis tuntas oleh Seno, tapi dicicil dan dipublikasikan secara terpisah di beberapa media massa.

 

Di Majalah Zaman, bab 1 sampai 4 dimuat bersambung (14 Januari hingga 11 Februari 1984), dan bab 5 ditulis belakangan pada 22 Desember 1984. Sementara bab lanjutannya dalam bentuk cerita pendek yang terserak di berbagai media massa pada 2000-2014.

 

Danarto terlibat di sepanjang proyek naskah ini sebagai ilustrator dan pelukis gambar dalam "Drupadi". Tak hanya itu, ia turut berperan dalam pemberian judul bab 1 sampai 4 cerita tersebut.


Novel Drupadi tercatat sebagai karya ke-39 Seno Gumira Ajidarma. Sebagai novel yang mengangkat fiksi pewayangan, Drupadi merupakan karya ketiga sastrawan kelahiran Boston ini, setelah Wisanggeni Sang Buronan (2000) dan Kitab Omong Kosong (2004). Salah satu kesamaan lain dari ketiga karya itu adalah sama-sama berasal dari cerita bersambung.


Drupadi diterbitkan Gramedia Pustaka Utama. Pada diskusi peluncuran perdana novel ini di Dia.Lo.Gue Artspace, di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Rabu (8/2) lalu, Seno tampil sebagai narasumber bersama penulis dan sastrawan Ayu Utami.

 

Drupadi merupakan salah satu tokoh dewi dari wiracarita Mahabharata yang menjadi istri lima ksatria Pandawa (Pandawa Lima). Kisah putri Pancala ini, oleh Seno, dibeberkan mulai kelahiran, perjalanan hidup, cinta hingga kematiannya. Drupadi--sang perempuan poliandris--menjalani getirnya kehidupan, perjuangan, dan medan hidup yang berat.


Seno menggambarkan keelokan paras Drupadi dengan ''kecantikan yang melebihi mimpi''. Ia menulis, ''Dari langit tujuh cahaya pelangi menyorot dari balik awan ke arah Dewi Drupadi. Matanya berkilat-kilat melebihi segenap kilatan perhiasan di sekujur tubuhnya, dan ketika ia tersenyum para kesatria seketika itu bagaikan langsung terjerat hatinya,'' (Bab 1 "Kecantikan yang Melebihi Mimpi").


Drupadi yang cantik jelita menjadi rebutan di gelanggang pertandingan. Dalam sayembara busur panah, ia menjadi incaran bidikan para kesatria di Bumi Bharatawarsha (India Kuno) yang kelak bila menang akan menjadi suami Drupadi. Sasarannya seekor burung yang bertengger di atas kepala seorang penari. Dalam pertempuran sengit itu kesatria Pandawa, Arjuna dan Bima berhasil memenanginya. Hingga kemudian takdir menjadikannya istri dari kelima Pandawa (Yudhistira, Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa).


Tapi Drupadi versi Seno ini juga dewi yang tidak menyukai suratan. Tidak pula kalah oleh takdir. Ia perempuan cerdas dan tangguh: mampu membela diri dari represi kekuasaan. Ini bukan tentang keberpihakan kepada feminsime. ''Feminisme tidak sepenuhnya tertampung di sini. Dalam kultur patriarki sekalipun, ada suatu politik perempuan untuk bisa berkuasa,'' ucap pria yang pernah mengenyam pendidikan Sinematografi di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) itu.


Karena itu, Seno 'meluruskan' pakem cerita, misalnya pada bagian penodaan kesucian Drupadi (Bab 4 ''Pelajaran Terakhir dari Penderitaan''). Dalam kisah klasik Mahabrata, diceritakan Yudisthira kalah dalam permainan dadu atas ajakan Sangkuni--paman dari para Kurawa. Kekalahan tersebut membuat Drupadi jatuh ke tangan Kurawa. Drupadi menolak menyembah Duryudhana.Akibatnya, Putri Pancala itu dipaksa menanggalkan busananya di Balairung di hadapan para Kurawa. Atas kuasa Dewa Krishna hal itu tak terjadi, lantaran kainnya tidak kuasa dilepas.

 

Seno Gumira Ajidarma diskusi peluncuran novel Drupadi (GATRA/Rifki)
Seno Gumira Ajidarma diskusi peluncuran novel Drupadi (GATRA/Rifki)

Sementara Seno menggambarkan peristiwa itu dengan gamblang. Kain Drupadi berhasil dilepas. Selanjutnya para Kurawa yang konon berjumlah seratus orang itu (namanya ditulis rinci dalam Novel) merenggut kehormatannya secara bergilir. ''Moral perlindungan Drupadi dalam melindungi kesucian itu, saya kisahkan berbeda'', ujarnya.


Tak hanya itu, dalam Novel ini, Seno menjadikan Pancawala sebagai anak Drupadi dari kelima ayahnya. Tanpa diketahui ayah biologis dari Pancawala. Pilihan yang jelas berbeda dari teks Kakawin Bharata-Yuddha ataupun kisah versi Jawa Baru, yang menyebutkan Pancawala sebagai anak Drupadi dari Pandawa sulung, Yudhistira.


Singkatnya, novel 149 halaman ini memenuhi kriteria sebagai cerita yang asyik dibaca tanpa harus menghilangkan sisi sejarah pewayangannya. Seno tak lupa menyertakan bacaan referensial di halaman buncit novel ini, serta membubuhkan pula catatan akhir atas penjelasan teks yang dikutipnya sebagai modal pengayaan pembaca.


Selain itu, Seno mencoba memenuhi kebutuhan dramatik novel ini melalui plot karakter Drupadi sebagai sosok yang cantik, jadi rebutan, namun di sisi lain juga 'terlunta-lunta' dengan penderitaannya. 


Reporter: Andhika Dinata

Editor : Bambang Sulistyo

 

Andhika Dinata
17-02-2017 19:18