Main Menu

Terlahir Kembali; Sang Profesor Cinta

Andhika Dinata
23-03-2017 11:56

pada suatu hari nanti
jasadku tak akan ada lagi
tapi dalam bait-bait sajak ini
kau takkan kurelakan sendiri
...
(Sapardi Djoko Damono, “Pada Suatu Hari Nanti”)

Jakarta, GATRAnews - Banyak orang mengenal Sapardi Djoko Damono sebagai penyair sajak-sajak cinta. Anggapan itu makin dikenang ketika ia mencipta “Aku Ingin” yang terkenal itu. Sesudahnya, lalulalang kepenyairan penyair bertopi kep itu menghiasi halaman cerita anak-anak muda pada zamannya. Sapardi menawarkan perenungan dan kekuatan estetika dalam perjalanan kreatifnya. Ia menyulap kata menyuguhkannya kepada khalayak, seperti ia bilang, “sebermula adalah kata/baru perjalanan dari kota ke kota”.

 

Tak banyak diingat, Sapardi pernah menulis sajak-sajak yang “keras”. Ia menunjukkan kapasitas kepenyairannya yang tidak mampu lepas dari kepekaan. Impresi sosial itu terlihat pada “dongeng Marsinah” dalam kumpulan sajak “Arloji” (1998). Sapardi merasa gundah ketika Marsinah, buruh pabrik di Sidoarjo itu, diculik dan dihabisi sesaat berunjuk rasa menuntut kenaikan upah. Sapardi membatini kepergian perempuan malang itu dalam tuntutannya yang sederhana: sekedar hidup layak, hidup demi sebutir nasi.

 

Ia membayangkan Marsinah sebagai arloji sejati, “tak lelah berdetak/memintal kefanaan/yang abadi”. Kepedulian sosial ala Sapardi juga turut terlihat dalam “Tentang Mahasiswa yang Mati, 1996” yang termuat dalam kumpulan puisi “Ayat-ayat Api” (2000).

 

Ia merasakan kehilangan itu: 

Aku mencintainya sebab ia mati ketika ikut rame-rame hari itu.

Aku tak mengenalnya, hanya dari koran, tidak begitu jelas memang,

kenapanya atau bagaimananya (bukankah semuanya demikian juga?)

tetapi rasanya cukup alasan untuk mencintainya.

(“Tentang Mahasiswa yang Mati, 1996”).

 

Ekspresi sosial itu diakuinya ditulis dalam masa-masa amarah. “Saya nulis, marah, nulis, marah. Sampai hari ini saya masih marah, tapi karena sudah jadi puisi jadi tidak marah lagi,” kata Sapardi.**

 

Tak banyak yang setia berkarya hingga terus dan lama. Sapardi Djoko Damono salah satu di antaranya. Dalam usia yang sudah senja, genap 77 tahun (Sapardi lahir 20 Maret 1940), ia masih gigih berkarya. Sebuah perjalanan panjang kepenyairan yang menuntut kesetiaan.

 

Pensiunan Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya UI mengakui godaan berkarya terus menyelimutinya, sehingga upaya pensiun dari dunia sastra tak kurun bisa ia lakukan. Kegelisahan ini pernah ia tulis dalam suatu pengantar “Ada Berita Apa Hari ini, Den Sastro?” (Indonesia Tera, 2002), ia merasa kumpulan sajak yang ditulisnya di 2001 itu akan menjadi yang terakhir. Ternyata tidak.

 

Dalam peringatan hari lahir yang ke-77, Sapardi menggelar luncuran buku dan musikalisasi puisinya pada Rabu malam (22/3) di Bentara Budaya Jakarta. Tujuh (7) mahakarya-nya terdiri dari enam buku puisi: Ada Berita Apa Hari ini, Den Sastro ?, Ayat-ayat Api, Duka-Mu Abadi, Kolam, Namaku Sita, Sutradara itu Menghapus Dialog Kita, dan sebuah Novel Pingkan Melipat Jarak (Novel kedua dari Trilogi Hujan Bulan Juni).

 

Luncuran buku karya Sapardi itu istimewa karena berdekatan dengan momentum Hari Puisi Sedunia yang jatuh pada 21 Maret.

 

Goenawan Muhammad, menyebut “kelahiran kembali” sang profesor cinta. GM terbilang penyair yang kerap bercengkrama dengan Sapardi, berbincang tentang karya sastra dan puisi. “Saya beruntung kenal dia karena tiga hal. Pertama, sama-sama menyukai puisi, Kedua, saya mengenal Sapardi sejak 1960-an. Dan ketiga, kami masih bersama melewati usia 75 tahun”, katanya.

 

Penyair “Senja pun Jadi Kecil, Kota pun Jadi Putih” itu memuji kesetiaan berkarya teman sejawatnya itu. “Sapardi tidak ulang tahun, tapi ia dilahirkan kembali,” tukas GM.

 

Dalam catatannya, karya Sapardi lebih bercerita tentang metafora: cinta, kematian, persahabatan, gerimis, hujan. Sapardi membuat repetisi yang menjadi “efek kejut” dalam karya-karyanya. Getaran repetisi ala Sapardi, tutur GM, menjadikan sajak-sajaknya berhasil dikenang dan dinikmati pembaca.

 

“Puisi membuat repetisi, tidak melulu membuat pengulangan yang itu-itu saja”. Getaran repetisi Sapardi dalam sajak-sajaknya, menurut GM, memperbaiki proses pengulangan yang oleh sebagian penyair dibikin kaku, tak dinamis. “Repetisi itu tiba-tiba memperbaiki apa yang diulang”. Getaran repetisi itu terlihat berhasil dalam sajak “Aku Ingin”, “Gerimis di Jalan Jakarta, Malang” dan “Berjalan ke Barat Waktu Pagi”.

 

Peringatan 77 Tahun kelahiran Sapardi Joko Damono, Bentara Budaya, Jakarta, Maret 2017 (GATRA/Andhika Dinata)
Peringatan 77 Tahun kelahiran Sapardi Joko Damono, Bentara Budaya, Jakarta, Maret 2017 (GATRA/Andhika Dinata)

Sajak itu (juga pada sajak-sajaknya yang lain) menceritakan serangkaian citra aku lirik dalam menangkap momen indah, penting, abadi, dalam peristiwa hidupnya.

 

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
(Sapardi Djoko Damono, “Aku Ingin”)

 

Upaya menangkap peristiwa, mengungkap pengertian, menikamnya dalam bait-bait puisi juga terlihat dalam “Berjalan ke Barat Waktu Pagi”. Yang diakui Sapardi, sebagai sajak yang paling digemarinya dari setumpukan sajak yang pernah ia buat.

 

Ia menulis metafora, “aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara kami/yang telah menciptakan bayang-bayang, aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa di antara/kami yang harus berjalan di depan”. Seperti berfilsafat, Sapardi tengah bermain kata, menggubah kata menjadi makna.

 

Dengan itu, tak sedikit yang tertarik menyadur puisi-puisi Sapardi ke dalam bentuk lagu. Repetisinya yang teratur, indah, penguasaan kata yang khidmat, menjadikan sajak Sapardi enak dilagukan.

 

Baginya, ruang mengolah puisi menjadi lagu, film atau apapun adalah hal lumrah sebagai kelanjutan proses kreatif. “Membuktikan bahwa sastra itu bukan hanya huruf-huruf yang berjejeran di halaman, tapi dia bisa jadi apa saja,” tukas Sapardi.

 

Sang penyair hujan itu juga sering membuat kejutan dalam puisi-prosaisnya. Contohnya dalam sajak “Surah Penghujan: Ayat 1-24” dalam kumpulan puisi “Ada Berita Apa Hari ini Den Sastro ?”.

 

Baca Juga: Sapardi di Mata Jokpin

 

Puisi yang ditulis Sapardi dengan gaya kredo bersambung begitu saja (tanpa tanda titik dan koma). Ditulisnya mengalir dan bercerita. “Aku” dan “Ku” ditulis dalam letter kapital menunjukkan maksud yang tak lagi biasa. Sapardi, saat itu, benar-benar memanfaatkan licentia poetica secara penuh guna mendapatkan citraan yang kuat pada pembacanya.

 

Ia menulis,

musim harus berganti musim

agar langit menjadi biru untuk kemudian kelabu

agar air menguap untuk kemudian membeku

agar pohon tumbuh untuk kemudian rubuh

agar akar menyerap air untuk dikirim ke tunas daun untuk kemudian gugur

agar lebah menyilangkan putik dan benang sari untuk kemudian layu

agar rumput meriap untuk kemudian kering

agar telur menetas dan burung terbang untuk kemudian patah sayapnya

agar hari bergeser dari minggu ke sabtu

agar kau mengingat untuk kemudian melupakan-Ku..”

 

Penyair Joko Pinurbo menyebutkan karya-karya Sapardi yang puisi-prosais itu sebagai khasnya. Puisi-prosais seringkali terlihat dalam karya Sapardi, baik dalam sajak bersambung “Catatan Masa Kecil”, maupun karya sesudahnya.

 

Jokpin menyebut itu sebagai karya hybrid (persilangan antara puisi-prosa) sebagai bentuk corak karya. Pengetahuan luas Sapardi itu diperoleh dari pengalamannya sebagai dosen, penerjemah maupun pelaku sastra yang berkelindan dengan aneka perkembangannya. “Sapardi ini antara akademisi-penyair, karyanya itu nampak dari ia menyerap (pengetahuan) dari berbagai penjuru”.

 

Jokpin juga mengagumi loyalitas dan dedikasi tinggi Sapardi terhadap perkembangan kancah kesusastraan Indonesia. Menurutnya dari usia Sapardi yang kian meninggi, ia tak lelah berkarya, memungut kata, berpetualang dari kota ke kota. Bahkan beberapa karya puisi dan novel yang digubah Sapardi semakin memperlihatkan kejelian dan kelihaian kreatifnya. ”Justru yang saya kagumi dari beliau bahwasanya kreatifitas itu tidak mengenal usia,” terang penyair “Telepon Genggam” itu.

 

Akhirnya Sapardi setia memuisi pada jagat sunyi. Kesantunan dan kelembutan metafora menjadi ciri khasnya karyanya. Bait-bait puisi terdalam, disembahkan penuh kepada pembacanya. Seperti yang ditulisnya dalam sajak “Solitude” itu: “dari tangan-tanganku yang sunyi/dari jemariku yang gemetar dalam sunyi/kaudengar puisi, sorotmata yang sunyi/yang sampai kepadamu/santun-lembut, adalah puisi". ***


Penulis : Andhika Dinata

Editor: Dani Hamdani 

 

Andhika Dinata
23-03-2017 11:56