Main Menu

Empat Dasawarsa Teater Tanpa Titik

Hidayat Adhiningrat P.
22-08-2017 18:06

Jakarta, GATRAnews - Seorang penulis tua bernama Kirdjomuldjono pergi dari rumahnya untuk tinggal di sebuah panti jompo. Harapannya, sebuah karya masterpiece bisa lahir dari tempat ini. Apa yang diharapkan nihil belaka. Alih-alih membuat buku, satu kalimat pun tak berhasil ia tuliskan. Sehari-hari Kirdjo hanya menggerutu dan menggerutu demi mendengar teriakan Munan, manula lain yang selalu dihantui bayangan si anak sulung yang menjadi koruptor.



“Itu bukan uangmu, itu uang negara! Jangan kau ambil, jangan kau korupsi! Kembalikaaan!”

Berulang kali dan selalu tiba-tiba, Munan berteriak memecah keheningan. Tak sabar, Kirdjo berdiri memasang raut muka tak senang sambil mengacungkan tongkatnya ke arah Munan. Toh, yang diacungi bergeming. Tinggal si penulis marah-marah, menuduh Munan sebagai muara penyebab ketidakberhasilannya menulis.

Cuplikan adegan tadi berasal dari pementasan lakon Warisan, judul produksi Teater Koma ke-148 karya Nano Riantiarno yang dipentaskan dalam rangkaian ulang tahun Teater Koma ke-40 di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), pertengahan Agustus lalu. Pementasan Warisan digelar selama 10 hari dan menjadi naskah lakon terbaru Teater Koma di tahun 2017 ini.

Pada pementasan kali ini Kirdjomuldjono diperankan oleh Idries Pulungan, sementara Munan diperankan oleh Budi Ros. Kedua nama tersebut bukan nama asing bagi penonton setia Teater Koma. Idries Pulungan pertama kali naik panggung bersama Teater koma dalam lakon Maaf, Maaf, Maaf tahun 1978. Sementara Budi Ros bergabung di Teater Koma sejak tahun 1982 dan pernah menyutradarai lakon karyanya sendiri berjudul Festival Topeng tahun 2006.

Rata-rata aktor yang bermain di Warisan memang berusia di atas 50 tahun. Hanya beberapa saja yang berusia dibawah itu. Salah satunya adalah Febri Siregar yang berperan sebagai Badut. "Febri baru dua tahun di Teater Koma," ungkap Pimpinan Produksi Teater Koma Ratna Riantiarno kepada Gatra seusai pementasan.

Selain Febri, Tuti Hartati yang berperan sebagi Sulastri (anak Kirdjomuldjono) juga masuk pada golongan aktor berusia di bawah 50 tahun. "Tuti diterima di Teater Koma tahun 2000. Ada juga angkatan 2010 yang ikut terlibat di pementasan ini," ucap Ratna. Sisanya, nama-nama lama seperti Daisy Lantang, Idries Pulungan, Budi Ros, Ratna Riantiarno, Sir Ilham Jambak, dan Bayu Dharmawan Saleh.

Selama empat dekade berkarya, Teater Koma memiliki anggota yang beragam.  Di antara generasi muda yang masuk, sejumlah anak dari para pemain pun mulai ikut terlibat dalam berbagai aspek pertunjukan baik di belakang maupun di atas panggung. Hal ini sejalan dengan keragaman penontonnya. Dalam pementasan lakon Warisan, ruang pertunjukan GKJ -yang berkapasitas 470 kursi- itu dipenuhi penonton dari beragam umur. Mulai orang tua hingga anak belasan tahun.

Ada yang datang sendirian, ada yang berombongan bersama teman-temannya, ada juga yang membawa anak cucunya. "Saya sudah jatuh cinta dari sejak awal, kalau ada pertunjukan saya selalu sempatkan untuk nonton," ujar Rosi Roslita yang mengaku sepuluh tahun terakhir selalu menonton pertunjukan Teater Koma. Begitu juga dengan Regina, ia mengaku selalu hadir setiap ada pertunjukan Teater koma bersama keluarganya. "Biasanya ibu ikut, tapi hari ini dia tidak bisa. Jadi saya nonton sama adik saya saja, Ines, dulu dia pernah ikut main loh di Sampek Engtay," katanya sembari menunjuk adiknya di samping.

Sutradara sekaligus pendiri Teater Koma Nano Riantiarno pernah mengatakan bahwa cepat atau lambat Teater Koma akan membentuk masyarakatnya sendiri. Mulanya hadir sebagai penonton biasa, kemudian sebagian besar dari mereka merasa terikat oleh kebutuhan yang sama. "Mereka malah kehilangan jika ada di antara mereka yang tidak terlibat pementasan (tidak menonton)," kata Nano dalam tulisan "Masyarakat Teater Koma" yang terbit tahun 2010.  

Dan itulah yang terlihat saat ini.

Para penonton datang, menyaksikan pertunjukan, lalu memperbandingkan pertunjukan lakon yang satu dengan lakon yang lain. Mereka pun menyimpan harapan terhadap Teater Koma. Setidaknya, hal ini terlontar dari mulut enam orang penonton yang diwawancara Gatra secara acak usai pertunjukan. Awalnya mereka memberi tanggapan berbeda-beda terkait pementasan lakon Warisan dan Teater Koma itu sendiri. Namun, terdapat irisan pendapat yang sama.

Kesemuanya sepakat bahwa Teater Koma harus lebih mampu melahirkan tokoh-tokoh muda. Tokoh-tokoh muda inilah yang akan membuat Teater Koma terus menjadi "Koma" sebagai sebuah metafora yang mengartikan "gerak berkelanjutan, tiada henti, tak mengenal titik". Regenerasi juga yang akan membuat Teater Koma terus memiliki nafas panjang, senantiasa berkiprah, mengembara dalam ruang kreatifitas, terus mencari dan berupaya menemukan hal-hal bermakna. Sehingga Teater koma akan selalu menjadi teater tanpa titik.



Reporter: Hidayat Adhiningrat P

Infografis: Argy Pradipta

Editor    : Bambang Sulistiyo

Hidayat Adhiningrat P.
22-08-2017 18:06