Main Menu

ISI Pentaskan Gending dalam Misi Antariksa Voyager

Rosyid
30-08-2017 19:16

Ketua panitia acara 24 Jam Menabuh Siswandi (tengah) memberi pernyataan pers tentang pentas gending untuk merayakan 40 tahun dibawany gending dalam misi antariksa Voyager, di kampus ISI Yogyakarta. (GATRAnews/Arief Koes/HR02)

Yogyakarta,GATRAnews - Sempat vakum lima tahun, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta kembali menggelar pentas 24 jam menabuh gamelan. Tahun ini, untuk menyambut 40 tahun gending Puswawarna yang terpilih sebagai salah satu musik dalam misi penjelajahan antariksa Voyager.

Dengan tajuk ’24 Jam Menabuh: Sounds of The Universe’ ajang ini dilaksanakan pada 5-6 September di kampus ISI Yogyakarta. Pada gelaran 2012, MURI memgganjar rekor untuk kegiatan ini sebagai ajang musik dalam tempo waktu terlama.

“Tanggal tersebut dipilih sebagai upaya napak tilas diluncurkannya pesawat penjelajah antariksa tanpa awak Voyager oleh NASA pada 1977. Gending Puswawarna karya Wasitodiningrat diikutsertakan bersama karya musisi dunia lainnya,” jelas Ketua Pelaksana 24 Jam Menabuh, Siswandi,  di kampus ISI Yogyakarta, Rabu (30/8).

Acara dimulai 5 September pukul 21.00 sampai 21.00 WIB hari berikutnya dan melibatkan 29 kelompok musik karawitan dari Jawa dan Bali.

Para penampil terdiri dari lima grup karawitan profesional, tiga karawitan anak-anak, tiga karawitan wanita, tiga karawitan SMA, 13 UKM karawitan perguruan tinggi, dan satu kelompok hadroh dari Kulon Progo. “Total ada 1000 orang personel yang terlibat dalam ajang ini,” kata Siswandi.

Selain menyajikan gending Puswawarna yang menjadi gending kebesaran Keraton Paku Alaman, DI Yogyakarta, dan Paku Buwono, Surakarta. Panitia juga akan menampilkan gending karya Paku Buwono X ‘Rondon Ageng’.

Menariknya, gending dilantunkan saat tengah malam dalam suasana gelap gulita. Menurut Siswandi, suasana ini untuk mengajak penonton menghayati kekosongan dan kesunyian yang terkadang dibutuhkan dalam menjalani kehidupan.

Kekosongan dan kesunyian ini juga seperti yang dirasakan oleh Voyager selama 40 tahun mencari tanda-tanda kehidupan di antariksa.

“Untuk mengurangi jeda waktu karena gamelan harus berbunyi terus-menerus di panggung, kami menyiapkan dua perangkat gamelan bergaya Yogyakarta dan Surakarta,” katanya.

Adapun Dekan Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) ISI  Yudi Ariani menuturkan meski sempat vakum selama lima tahun, ajang ini selalu dinantikan oleh kalangan seniman khususnya di DI Yogyakarta.

“Selain sebagai sebagai ajang pendidikan bagi mahasiswa maupun pemerhati seni karawitan, ajang ini kami anggap sebagai sosialisasi yang tepat untuk memperkenalkan karawitan yang semakin ditinggalkan generasi muda, meski terbukti sudah diakui dunia,” jelasnya.

Ariani menambahkan, karena besarnya animo, ISI berupaya menjadikan gelaran ini menjadi ajang tahunan dengan mengundang peserta nasional dan internasional.




Reporter: Arif Koes Hernawan
Editor: Rosyid

Rosyid
30-08-2017 19:16