Main Menu

Ratusan Foto Soekarno Dipamerkan di Yogyakarta

Rosyid
28-09-2017 09:56

Pameran Foto tentang Soekarno di Jogja Gallery (GATRA/Arif Koes Hernawan/AK9)

Yogyakarta,GATRAnews - Sebanyak 135 foto tentang kehidupan sehari-hari dan acara resmi presiden pertama Indonesia Soekarno dipamerkan di Jogja Gallery, Kota Yogyakarta, 27-30 September 2017. Digelar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bersama Kinara Vidya, pameran ini coba mengenalkan Soekarno secara lebih dekat ke publik.



Pameran bertema ‘Soekarno, Pemuda, dan Seni’ ini terbagi dalam empat klasifikasi cerita kehidupan Sang Proklamator.

“Klasifikasi pertama adalah kehidupan pribadi Soekarno dan keluarganya. Soekarno selain dikenal sebagai negarawan ulung juga pecinta seni rupa terutama lukisan. Tercatat dia berkawan baik dengan 50 perupa di zamannya,” kata kurator pameran Mike Susanto, Rabu (27/9).

Dalam potret kehidupan sehari-hari, Soekarno tidak bisa lepas dari lukisan. Salah satunya dalam foto pada 1960-an yang memuat dirinya dan Ratna Sari Dewi berlatar belakang lukisan Basuki Abdullah. Selain itu, ada foto Soekarno bersama putrinya, Megawati Soekarnoputri,
di meja kerja yang memiliki latar belakang buku dan lukisan karya Ries Mulder.

Bagian pertama juga menceritakan aktivitas Soekarno ketika mengadakan lawatan ke luar negeri. Saat itu, nyaris tidak ada media massa yang memberitakan kegiatan Soekarno ketika berkunjung ke museum dan galeri seni di setiap negara. Bukti otentik justru terekam lewat foto Soekarno di sejumlah museum seni rupa luar negeri pada 1950-an, termasuk foto bersama Kepala National Gallery USA, David Findley, pada 1956.

Pada klasifikasi kedua, kurator mengambil tema kedekatan Soekarno dengan para perupa seperti Dullah, Affandi, Basuki Abdullah, dan Edhi Sunarso.

Kedekatan Soekarno dengan mahasiswa Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta menghasilkan tiga monumen di Jakarta yaitu Patung Selamat Datang di Bundaran HI, Patung Dirgantara Pancoran, dan Patung Pembebasan Irian Barat di Lapangan Benteng.

Pada klasifikasi ketiga, tema yang diangkat adalah "Soekarno dan Karya Seni". Karya seni digambarkan sebagai anak-anak ideologis Bung Karno. Di bagian ini, Mike menceritakan Soekarno pernah menampar pembantunya karena menjual sebuah lukisan ketika tinggal di Pegangsaan Timur.

Terakhir, foto-foto yang menggambarkan kedekatan Soekarno dan tamu istana saat Bung Karno menjadi pemandu dan bercerita detail tentang karya seni yang miliknya.

“Salah satunya adalah foto Duta Besar Yugoslavia di Istana Merdeka pada 1960 dan PM Rusia Nikita Khrushchev
yang meninjau lukisan di Istana Tampaksiring, Bali, pada 1957,” jelasnya.

Mike menuturkan dirinya berburu dari arsip yang disimpan di enam istana negara dan koleksi pribadi keluarga untuk menemukan 135 foto ini.

Sejarawan Universitas Sanata Dharma (USD) Baskara T Wardaya mengatakan lewat pameran ini Soekarno terlihat bukan hanya seorang orator ulung, politikus, dan proklamator, melainkan juga sosok manusia yang cinta kepada manusia melalui karya seni.

"Soekarno membangun Indonesia tidak hanya struktur luar yang kasat mata, tetapi juga membangun manusia Indonesia, melalui seni yang memungkinkan dia untuk masuk ke sana," ujar Baskara.

Menurut dia, dari pameran ini, ada tiga hal pembelajaran yakni relasi sosial bukan hanya mementingkan relasi politik atau transaksional, tetapi juga aspek kemanusiaan termasuk seni. Selain itu, pameran ini menghubungkan manusia masa kini dengan masa lalu sehingga terdorong untuk belajar sejarah. "Pameran ini juga menjadi cara bagus untuk menanamkan cinta bangsa kepada generasi masa kini," kata Baskara.




Reporter: Arif Koes H
Editor: Rosyid

Rosyid
28-09-2017 09:56