Main Menu

Pentas Penutup Lakon yang Mustahil Teater Koma

Hidayat Adhiningrat P.
10-11-2017 11:01

Pentas Sie Jin Kwie Teater Koma. (Dok. Image Dynamic)

Artikel Terkait

Jakarta, GATRA.com - Lima tahun berlalu sejak Teater Koma mementaskan lakon Sie Jin Kwie Di Negri Sihir (2012). Dimana Sie Jin Kwie kalah dan akhirnya menemui ajal. Namun, bagi sutradara sekaligus pendiri Teater Koma Nano Riantiarno, rasanya Sie Jin Kwie belum selesai. Musuh besarnya, Souw Po Tong, belum juga mati.

“Bagaimanapun, lakon ini diselesaikan hingga Kerajaan Tang tidak punya musuh lagi di Tartar Barat,” ucap Nano. Maka, sesudah lima tahun, Teater Koma coba melanjutkan lakon ini.

Sie Jin Kwie - Melawan Siluman Barat menjadi pentas terbaru Teater Koma. Produksi ke 150 dalam rangkaian ulang tahun ke 40 Teater Koma. Dipentaskan di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki setiap hari, pada 10 - 19 November 2017. Anak Sie Jin Kwie, Sie Teng Sang dan menantunya, Hwan Lie Hoa sudah menjadi jenderal dan harus melawan siluman-siluman.

Berawal dari lakon Sie Jin Kwie (2010), Sie Jin Kwie Kena Fitnah (2011) dan Sie Jin Kwie Di Negri Sihir (2012), lakon keempat ini menutup kisah Sie Jin Kwie Ceng See atau Sie Jin Kwie Menyerbu Ke Barat. Nano Riantiarno mengadaptasinya dari novel karya Lokoanchung dan Tiokengjian.

Siejinkwie (Xue Rengui atau Hsieh Yen Kuei) adalah cerita klasik. Penulisnya, Tiokengjian, hidup di Zaman Goan (1271-1368). Kisah itu kemudian diedit oleh Lokoanchung yang hidup pada Zaman Dinasti Ming (1368-1644). Kisah Siejinkwie pertama kali diterbitkan di Indonesia pada tahun 1894 oleh Penerbit Kho Cheng Bie & Co.

Oleh Teater Koma, Sie Jin Kwie dikemas dalam perbauran antara drama, potehi, wayang kulit Cina-Jawa, wayang tavip, wayang golek menak dan wayang wong. Nano mengakui, begitu berniat menggelar Sie Jin Kwie, langsung tergambar tingkat kesulitannya. Kesulitan itu muncul dari busana, silat, musik, juga durasi.

Gatra ikut menyaksikan pentas Sie Jin Kwie - Melawan Siluman Barat (9/11), sehari sebelum pentas dibuka untuk umum. Naskah dan adegan yang panjang disiasati oleh hadirnya Wayang Tavip yang menjembatani cerita demi cerita. “Wayang Taviplah yang nanti meringkasnya. Lumayan untuk potong waktu,” ujar Nano.

Strategi ini bisa dibilang berhasil. Selain memotong durasi yang begitu panjang -menurut Nano naskah ini seharusnya bisa memakan waktu hingga 8 jam-, wayang tavip bisa memberikan warna tersendiri dalam pementasan.

Tuturan dalang yang diperankan oleh Budi Ros, dan celetukan-celetukan nakal para asistennya sukses memancing gelak tawa para penonton. Disusupi oleh kritikan-kritikan politik kekinian yang kerap ada dalam hampir setiap pementasan Teater Koma.

Pementasan Sie Jin Kwie Melawan Siluman Barat kali ini didukung oleh Idris Pulungan, Tuti Hartati, Budi Ros, Rangga Riantiarno, Ade Firman Hakim, Joind Bayuwinanda, Subarkah Hadisarjana, Daisy Lantang, Dorias Pribadi, Alex Fatahillah, Supartono JW, Ratna Ully, Raheli Dharmawan, Dana Hassan, Bayu Dharmawan, Budi Suryadi, Angga Yasti, Suntea Sisca, Andhini Puteri, Adri Prasetyo, Sir Ilham, Sriyatun Arifin, Ina Kaka, Sekar Dewantari, Julung Zulfi, M. Tavip, dan masih banyak lagi.

Pementasan menampilkan 22 perang, baik perang besar maupun kecil. Koreografi peperangan ditangani oleh Sentot S dan Djoko SS. Mereka mengajarkan para aktor Teater Koma, agar bisa melaksanakan peperangan. Teater Koma pun meminta bantuan Wushu dari Universitas Binus. Perannya cukup signifikan, membuat adegan perang terasa lebih hidup.

Fero A. Stefanus, menggarap 23 lagu dalam lakon ini dengan arahan instruktur vokal Naomi Lumban Gaol. Segala jenis musik Tiongkok menjadi musik penghantar peperangan yang diiringi oleh Sekolah Musik Miladomus.

Sementara untuk kostum tetap menggunakan batik sebagai bagian utama dalam kostum yang didesain oleh Rima Ananda bersama tata rias dan rambut garapan Sena Sukarya dibantu konsultan tata rias dan rambut Subarkah Hadisarjana dengan dukungan PAC Martha Tilaar. Kemudian berpadu dengan skenografi dan tata cahaya panggung besutan Taufan S. Chandranegara.

Lakon ini juga mendapat sentuhan tata grafis Saut Irianto Manik. Semua didukung oleh pimpinan panggung Ariffano Marshal, pengarah teknik Tinton Prianggoro serta pimpinan produksi Ratna Riantiarno, di bawah arahan co-sutradara Ohan Adiputra dan sutradara N. Riantiarno.


Reporter: Hidayat Adhiningrat P

Editor : Bernadetta Febriana

Hidayat Adhiningrat P.
10-11-2017 11:01