Main Menu

Tiga Tahun Dipugar, Museum Tino Sidin Kembali Dibuka

Mukhlison Sri Widodo
15-12-2017 21:37

Mendikbud Muhajir Effendy meresmikan pembukaan kembali Museum Tino Sidin pada Kamis (14/12) di Bantul, DI Yogyakarta. (Dok. Kemendikbud/FT02)

Yogyakarta, Gatra.com - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhajir Effendy  meresmikan pembukaan kembali Museum Tino Sidin pada Kamis (14/12), usai dipugar selama tiga tahun. Selain berisi berbagai memorabilia seniman gambar itu, museum di Ngestiharjo, Sewon, Bantul, DI Yogyakarta itu juga dilengkapi patung Tino Sidin yang disebut "Sang Inspirator".

Muhajir menerangkan ,  Museum Tino Sidin kembali dibuka sejak dipugar pada 2014. Dengan museum ini, masyarakat bisa mengenang kembali tokoh yang mengenalkan seni menggambar secara menyenangkan pada periode 1970-1990 di televisi itu.

“Tino Sidin adalah pencipta jembatan  agar anak menggambar dengan perasaaan bahagia, optimistis, dan mudah. Menumbuhkan sikap menggemari proses adalah inti dari pengajaran ala Tino Sidin,” jelas Mendikbud.

Bersamaan dengan pembukaan museum, keluarga Tino Sidin dan 17 seniman DI Yogyakarta juga menggelar pameran lukisan bertajuk ‘Tribute To Tino Sidin, 92 Tahun Menginspirasi Indonesia’ . Secara spesial, pameran ini juga diikuti Menteri Keuangan Sri Mulyani.

Muhajir menjelaskan pemugaran Museum Tino Sidin dibantu pemerintah melalui Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Ditjen Kebudayaan Kemendikbud.

“Patung Tino Sidin  saya kira sesuai dengan karakter Pak Tino dalam memberi pembelajaran  menggambar. Karena kreativitas beliau saat itu, menggambar jadi kegiatan yang menyenangkan,” katanya.

Ketua panitia pameran Tribute to Tino Sidin, Yuswantoro Aji mengatakan, metode pengajaran Tino Sidin yang membebaskan anak-anak berkreasi dalam menggambar lewat garis dan warna  ternyata melahirkan ruang ekspresi yang bermanfaat bagi anak-anak.

“Dulu, sebelum kehadiran acara ‘Mari Menggambar’ Pak Tino,  anak-anak Indonesia lebih suka menggambar dua gunung dan rumah. Namun atas pengajaran Pak Tino, anak-anak mampu menggambar apa saja yang ada di otak mereka untuk disajikan dalam kertas. Sayangnya, generasi sekarang justru kembali ke gambar dua gunung dan rumah,” kata Aji.

Karena itu, Aji menantang Mendikbud untuk melahirkan kurikulum pendidikan yang mampu melahirkan keberagaman melalui cipta karya anak-anak agar mereka bisa menceritakan secara bebas pemikiran mereka.

Salah satu putri sang seniman, Titik Tino Sidin, mengatakan pembukaan kembali museum ini menandai bahwa museum telah menjadi ruang publik .

“Dari memorabilia yang ditinggalkan almarhum, masyarakat bisa mengetahui dengan jelas apa yang menarik dari Bapak yang kami kenal pendiam. Kami baru tahu bahwa ternyata Bapak cukup dekat dengan tokoh-tokoh nasional seperti Presiden Soekarno dan Chairil Anwar,” katanya. 


Reporter : Arif Koes

Editor : Mukhlison

 

Selain seniman gambar, sosok Tino Sidin ternyata figur yang kaya pengalaman. Ia seorang guru, pejuang kemerdekaan,  nasionalis, pandu, penulis , ilustrator buku, komikus, pemain film, dan sesepuh di kalangan penekun olah batin dan kawruh kasepuhan Jawa.

Mukhlison Sri Widodo
15-12-2017 21:37