Main Menu

Geneviève Couteau, Pelukis Penjelajah Hadirkan Identitas Perempuan

Dewi Fadhilah Soemanagara
27-01-2018 08:00

Pengunjung memperhatikan sebuah lukisan berjudul "Merenung" karya pelukis Genevieve Couteau (1924-2013) dari Perancis menjelang pembukaan pamerannya, di Galeri Nasional, Jakarta. (Antara/Dodo Karundeng/AK9)

Jakarta, Gatra.com – Dibesarkan di tengah keluarga trader saham, Geneviève Couteau justru memperlihatkan bakatnya sebagai seniman. Lulusan terbaik sekolah tinggi Beaux-Arts Nantes tahun 1951 itu membuktikan kemampuannya sebagai pelukis terkemuka di Paris dan dianugerahi piagam bergengsi Prix Lafont Noir et Blanc pada 1952.

Penulis buku “Mémoire du Laos” ini gemar melukis sketsa, surealis-imajiner maupun potret hitam putih. Kepekaannya dalam memilih warna menjadikan lukisannya unik. Ia juga menggunakan teknik seni rupa modern tanpa menonjolkan modernisme. Guratan garis dan komposisi warnanya menggambarkan emosi yang jelas dalam setiap karyanya.

Dalam pameran lukisan dan gambar “Geneviève Couteau: The Orient and Beyond”, mulai 25 Januari 2018 hingga 14 Februari 2018 di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, para penikmat seni akan disuguhkan karya-karya Geneviève Couteau yang datang ke Asia pada akhir tahun 1960-an sekaligus memantik diskusi mengenai konstruksi sejarah seni rupa Asia, khususnya Bali.

Perempuan yang pernah menetap di Bali selama beberapa waktu ini menampilkan karya dari sudut pandang khas seorang perempuan, dengan empati menekankan persamaan jati dirinya. Fokus karya Geneviève Couteau tidak seperti seniman-seniman pada zamannya, Ia tidak fokus pada tubuh perempuan, melainkan wajah sang perempuan yang uniknya selalu menghadap ke depan.

Dalam karyanya yang berjudul “Papillon vole ou cerfs volants” misalnya, Geneviève Couteau menggambarkan anak-anak perempuan yang bermain dengan selendangnya, mengesankan goresan seolah selendang tersebut adalah layang-layang. Kesan impresionis yang sedikit futuristik dengan paduan warna yang teduh adalah salah satu dari sekian banyak karyanya, menggugah penafsiran yang tak sekadar berpatok pada teknis berkesenian, tetapi juga intelektualitas Geneviève Couteau dan perhatiannya terhadap sosok perempuan.

Geneviève Couteau wafat pada 17 Desember 2013 lalu, dan hingga kini masih menginspirasi seni rupa dunia.


Reporter : DFS

Editor : Sandika Prihatnala

Dewi Fadhilah Soemanagara
27-01-2018 08:00