Main Menu

Ketika Gila dan Romansa Berpadu Lewat Interpretasi Agus Noor

Flora Librayanti BR K
11-02-2018 09:51

Pertunjukan berjudul “Romantisme & Kegilaan Agus Noor” (Dok. Djarum Bakti Budaya Foundation/FT02)

Jakarta, Gatra.com - Sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan minat baca dan memajukan literasi di Indonesia, Kayan Production & Communications bersama Galeri Indonesia Kaya (GIK) mempersembahkan pertunjukan berjudul “Romantisme & Kegilaan Agus Noor”. Pementasan ini diangkat dari buku kumpulan cerpen Agus Noor, Lelucon Para Koruptor yang diluncurkan pada 2017 silam. Buku ini menggambarkan kisah-kisah gila, ganjil dan penuh kelucuan-kelucuan satir dari perilaku para koruptor, yang menggetarkan akal sehat para pembacanya.



“Pementasan ini menggambarkan sisi lain dari Agus Noor yang dikenal dengan gaya satirnya. Hari ini para penikmat seni akan dihibur dengan fragmen-fragmen komedi berdasarkan cerita-cerita dalam buku Lelucon Para Koruptor. Disamping itu juga akan dihadirkan sisi romantisme Agus Noor yang tercermin melalui puisi-puisinya,” ujar Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation, Renitasari Adrian di Jakarta, Sabtu (10/2).

Acara yang diselenggarakan di Auditorium GIK, Mall Grand Indonesia, Jakarta Pusat ini menghadirkan sejumlah seniman. Sebut saja Sujiwo Tejo, Butet Kartaredjasa, Sha Ine Febriyanti, Inayah Wahid, Akbar, Tatok, Vika Aditya, Bagustian Iskandar, dan Andy Sri Wahyudi. Dengan gaya yang kocak, para pelaku seni ini membawakan lelucon-lelucon kocak karya Agus Noor yang membuat para penikmat seni tidak hanya tertawa terbahak-bahak, namun juga diajak berpikir akan makna lelucon yang disampaikan.

Selama sekitar 60 menit, pementasan ini memberikan gambaran sekaligus refleksi atas perilaku-perilaku manusia yang melakukan tindakan-tindakan korupsi. Suasana kegilaan dan keganjilan tetapi penuh kelucuan dari para koruptor ditampilkan dengan sangat baik di atas panggung oleh para pelaku seni.

“Saya berharap pertunjukan hari ini mampu memberikan cara pandang baru bagi penonton dalam memandang koruptor dengan kisah-kisah perilaku mereka yang ganjil dan penuh dengan kelucuan yang menggetarkan akal sehat yang menyaksikan. Di tengah candaan atau lelucon yang dibawakan di atas panggung, saya bisa menyampaikan hal-hal serius dengan cara santai,” ujar Agus Noor.

Agus Noor dikenal sebagai penulis. Tetapi Ia tak pernah ingin disebut sebagai penulis dengan aliran tertentu dan tak pernah mau terpaku pada satu gaya penulisan. Namun pada setiap tulisan-tulisannya, Agus Noor seringkali berhasil menciptakan anomali dan romantisme yang menggiring pembacanya keluar dari batas-batas umum. Bagi Agus Noor, sastra yang baik adalah karya yang mampu memberi cara pandang baru terhadap dunia.




Editor : Flora L.Y. Barus

Flora Librayanti BR K
11-02-2018 09:51