Main Menu

Pesan Lanskap dalam Teater Puyang

Iwan Sutiawan
19-02-2018 17:11

Teater Puyang(GATRA/Tasmalinda/re1)

Artikel Terkait

Palembang, Gatra. com - Siapa sangka, hewan buas dengan postur tubuh tegap dan pemakan daging seperti halnya harimau Sumatera telah memposisikan manusia sebagai temannya. Malah, manusia dianggap sebagai mahluk yang dituakan atau dalam bahasa daerah Sumatera Selatan (Sumsel) disebut puyang.


Puyang menjadi judul teater yang dimainkan oleh dua pemain dalam bahasa monolog dengan sastra tutur guritan seperti halnya bahasa daerah di Lahat dan Ogan Komering Ulu (OKU). Sang sutradara, Conie Sema dalam penampilan teater dengan durasi sekitar 20 menit itu mampu menyampaikan banyak pesan perlindungan (konservasi) terhadap lanskap Sumsel, termasuk pada satwa seperti halnya harimau Sumatara.

Teater yang mainkan dengan interaksi bersama penonton itu menyampaikan suatu hal yang paradoks. Katanya, selama ini, habitat atau ruang hidup satwa hutan seperti halnya harimau Sumatera menjadi sasaran kepentingan banyak pihak.

Sementara, jauh dari itu, sang satwa ternyata memberikan penghormatan dengan memposisikan manusia sebagai puyangnya yakni mereka yang dituakan. Kepada mereka yang dituakan, satwa tidak akan melakukan penyerangan, kecuali sang satwa atau ruang hidupnya diganggu.

"Perlu kiranya, nilai konservasi disampaikan melalui pendekatan budaya, seperti halnya teater. Harimau kehilangan tempat hidup, tersingkir ke kawasan pemukiman hingga muncul konflik, atau hewannya sengaja diburu," ungkap mantan jurnalis televisi ini.

Teater yang diperankan di ruang terbuka di Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya, Gandus, Palembang, Sumsel, berusaha menyampaikan pesan soal konservasi agar kawasan lanskap Sumatera khususnya Sumsel terus dirawat. Lanskap yang juga merupakan ruang hidup satwa menjadi penanda kelestarian lingkungannya.

"Keberagaman di lanskap mengharuskan manusia melihat lanskap sebagai persatuan mahluk, baik itu satwa, manusia itu sendiri dan tumbuhan. Lanskap menjadi penanda keharmonisan alam yang perlu dirawat," ujar Conie.

Penampilan teater ini menjadi pertunjukan pembuka dalam forum multi pihak Dangku-Meranti, akhir pekan lalu. Staff Khusus Perubahan Iklim Pemprov Sumsel, Najib Asmani, menyampaikan, pembentukan forum tersebut berupaya menyatukan berbagai elemen dalam perlindungan lanskap Dangku-Meranti yang berada di Sumsel.

Menurutnya, dengan menyatukan berbagai pihak melalui pendekatan yang beragam, mulai dari ekonomi, sosial, budaya, hingga historis mengajak masyarakat untuk menjaga lanskap tersebut dari berbagai ancaman terutama kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

"Pelibatan banyak steakholder dan pemangku kepentingan terutama perusahaan menjadi penting dalam pelindungan berbagai kekayaan di lanskap Sumsel termasuk satwa harimau," ujarnya.

Tahun ini, pemerintah melalui upaya restorasi telah melakukan pembahasan wilayah (reweeting) hampir di seluruh kawasan gambut. Lebih dari 10.000 titik telah dilakukan pembasahan agar tidak kembali terbakar di musim kering mendaang. "Namun jika revegetasi, mengganti tanaman agak lebih sulit, sebaiknya itu membiarkan siklus alam tubuh menjadi hutan kembali," katanya.


Reporter: Tasmalinda
Editor: Iwan Sutiawan

Iwan Sutiawan
19-02-2018 17:11