Main Menu

Putu Wijaya Terima Gelar Doctor Honoris Causa dari ISI Jogja

Mukhlison Sri Widodo
21-02-2018 19:57

Putu Wijaya (berkursi roda) dan Rektor ISI Agus Burhan(GATRA/Arif Koes/re1)

Yogyakarta, Gatra.com - Dinilai menjadi tonggak dunia teater modern Indonesia, seniman I Gusti Ngurah Putu Wijaya mendapat gelar Doctor Honoris Causa dari Institut Seni Indonesia (ISI), Yogyakarta, Rabu (21/2). Putu menjadi orang ketiga di ISI yang menerima gelar tersebut.

Pada sambutannya, Rektor ISI Yogyakarta, Agus Burhan mengatakan, penganugerahan Doctor Honoris Causa pada Putu Wijaya ini atas dedikasinya terhadap perkembangan dan inovasi dalam ilmu keteateran Indonesia.

“Pencapaian Putu lewat karyanya, mampu menghadirkan kejutan komunikatif, inovatif, dan memberi inspirasi pada kehidupan. Meskipun terkadang ditampilkan dalam sisi gelap, esoterik, dan sulit dipahami,” kata Agus usai pemberian gelar.

Menurut Agus, karya-karya Putu, baik teater maupun sastra, bukan hanya bersifat klangenan, namun memiliki nilai adiluhung  yang luar biasa. Karyanya mampu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Semua karyanya sejak 1970-an membentuk kebebasan manusia dalam mencari jati diri.

Agus berkata, Putu dianggap memberikan sumbangan besar dalam seni Indonesia karena setiap pemikirannya  kontekstual dan memiliki pengaruh dalam kehidupan nyata.

“Dalam berkarya Putu tidak saja bersumber pada keilmuan dunia barat, namun juga mempelajari nilai-nilai tradisi. Sehingga ketika digabungkan dalam karya, memberi kegunaan pada orang lain,” katanya.

Putu menjadi orang ketiga yang menerima gelar Doctor Honoris Causa dari ISI Yogyakarta, setelah Sri Sultan Hamengku Buwono X dan seniman patung I Nyoman Gunarsa.

Promotor Putu, Yudiaryani, menceritakan  proses pengajuan gelar ini sejak 2016. “Berbagai syarat akademik Putu kami kumpulkan kemudian diajukan ke Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi guna dipertimbangkan dan mendapat penilaian khusus,” jelasnya.

Yudiaryani juga mengatakan, Putu membawa teknik-teknik pengajaran baru dalam studi teater yang diampunya. Mahasiswa dituntut miliki ‘daya hidup’ dengan diberi kebebasan melakukan improvisasi, eksplorasi, dan spontanitas gerak.

“Inilah yang menjadi tonggak sejarah keteateran Indonesia. Sebelumnya dunia teater penuh dengan formalitas dan kekakuan, dibongkar Putu menjadi longgar dan bebas,” katanya.Dalam pidato ilmiahnya, Putu tidak menyangka, setelah 49 tahun meninggalkan Yogyakarta, dia kembali lagi untuk menerima penghargaan terbesar dalam hidupnya.

“Yogyakarta sudah banyak berubah, tantangan juga berubah. Tapi manusia masih tetap sama saja di setiap zaman. Kita harus menjawab tantangan itu,” katanya.

Dalam dunia keteateran, Putu tak mau adanya jarak antara generasi tua dan muda. Yang perlu dilakukan, kata dia, sama-sama berpikir dan bekerja sebagai orang tua dan orang muda bagi kedua generasi.

Menurut dia, aktivitas seniman tidak akan pernah berhenti, selesai, maupun pensiun. Seniman sejatinya mampu meneruskan nilai-nilai kearifan lokal yang baik dan membuang yang buruk untuk diteruskan kepada generasi selanjutnya.

“Saya mendesak akademisi mendokumentasikan berbagai pementasan seniman besar seperti Rendra agar generasi muda bisa mempelajari dan membentuk ulang karya tersebut,” ujarnya.\


Reporter : Arif Koes

 

Editor : Mukhlison

Mukhlison Sri Widodo
21-02-2018 19:57