Main Menu

Melihat Puisi dari Mata Penyair Lintas Generasi

Fitri Kumalasari
24-02-2018 19:37

Pertunjukkan Melihat Puisi di Galeri Indonesia Kaya, Sabtu (24/2). (GATRA/Fitri Kumalasari/FT02)

Jakarta, Gatra.com - “Bahasa ibu, bahasa rasa. Jika surga ada di bawah telapak kaki ibu, maka bahasa ibu juga bahasa surga,” demikian maktub yang disampaikan Godi Surwarna, penyair senior dari tanah Sunda. Penonton yang mendengar sebagian terkikik geli.

 

Godi mendeklamasikan “Studio Armageddon”, puisi berbahasa Sunda yang ia tulis pada tahun 70-an. Godi berkisah puisi tersebut terbit saat ia kali pertama menginjakkan kaki di Bandung dan masuk diskotik. “Gegar budaya saya. Dunia berasa kayak mau kiamat,” ungkapnya dalam pertunjukkan Melihat Puisi di Galeri Indonesia Kaya, Sabtu (24/2).

 

Tak hanya Godi Suwarna yang membacakan puisi dengan gaya eklektik. Tampil juga Hanna Fransisca, penyair yang kental berpuisi dengan nuansa Tionghoa. Hanna mengaku puisi-puisinya sangat terpengaruh dengan budaya Cina. Ia sendiri penyair keturunan Tionghoa yang lahir di Singkawang, Kalimantan Barat.

 

Lainnya turut serta berpuisi H.S Dewandani, penyair muda berbahasa Inggris, Ni Made Purnama Sari dan Faisal Syahreza yang keduanya juga merupakan penyair muda berkualitas Indonesia. Kelima penyair lintas generasi ini berpuisi ditemani alunan musik EDM oleh Tesla Manaf dan dinaratori oleh Joind Bayuwinanda. Pementasan ini disutradarai oleh Heliana Sinaga, pengiat teater berdarah Batak.

 

“Pementasan puisi ini adalah bagian menyentuh, menyuarakan dan menggelorakan kata-kata di dalamnya. Baik dari sisi perkembangan kepenyairan, pertumbuhan di masyarakat sampai di atas panggung hingga menjadi sebuah pertunjukkan,” kata Heliana. Pertunjukkan ini selain didukung oleh Bakti Budaya Djarum Foundation juga oleh Titimangsa Foundation.

 

Pentas puisi lintas generasi ini menarik. Bagaimana tiap generasi menyoroti berbagai persoalan sekitarnya dengan gaya bahasa masing-masing. Puisi-puisi mereka adalah buah kegelisahan yang dialami melihat kehidupan sekitar. Seperti yang Joind tegaskan dalam pembuka narasinya, “Sastra adalah kata-kata penuh makna.” Puisi makin membuatnya berwarna. Kelima penyair umbar kata-kata, merayakan bahasa. Sementara penonton “Melihat Puisi” di mana-mana.



Reporter : Fitri Kumalasari

Editor : Bernadetta Febriana

 

Fitri Kumalasari
24-02-2018 19:37