Main Menu

Zaini Alif : Bapak Permainan Tradisional Pendiri Komunitas Hong

Birny Birdieni
03-03-2018 23:09

Mohamad Zaini Alif, pendiri Komunitas Hong berhasil meraih Doktor (kabarkampus.com/yus4)

Mohamad Zaini Alif mendirikan Komunitas Hong Tahun 2005. Berhasil mendokumentasikan 2.500 permainan di Indonesia dan 400 permainan internasional. Pemainan tradisional menjadi filosofi dan nilai pembentuk karakter bangsa.

Kecintaan Mohamad Zaini Alif akan permainan tradisional tidak main-main. Tidak hanya sebagai praktisi, pemahaman akan itu ia jabani hingga tingkat Doktoral di Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (ITB). “Rencananya kolokium S-3 bulan ini. Lalu sidang terbuka dan tertutup Maret. Kalau lancar sesuai keinginan April bisa diwisuda,” katanya kepada GATRA.

Judul disertasi yang Zaini ambil adalah “Transmisi Nilai Permainan Tradisional Dalam Bentuk Pagawean Barudak Baduy Dalam”. Konsep Suku Baduy, transmisi nilai serta proses pengajaran anak dilakukan melalui permainan yang disebut “Pikukuh Baduy”. Menurut Zaini, transformasi anak menjadi dewasa didapat melalui permainan.

“Di Baduy, anak dihargai dengan tidak diganggu ketika main. Karena disana ada proses belajar,” kata Zaini. Usia 2,5 tahun anak lelaki disana sudah dibekali dengan golok. Mereka menggunakannya untuk main, misal membuat truk dari pohon dengan mencari material sendiri langsung ke hutan. Hingga saat usia 10 tahun mereka sudah menjadi ahli memakai golok.

Sama halnya dengan anak perempuan mereka membawa “Turub Sumbul” atau Boboko panjang yang dipakai membawa biji-biji tanaman. Mereka bermain dengan menebar biji-biji tersebut. Tanpa disadari, ketika bermain mereka sebenarnya juga belajar sesuatu.

Karenanya, Zaini selalu menerapkan konsep untuk tidak menyebut anak-anak dengan sebutan anak kecil. Tapi sebutlah manusia kecil. “Kalau begitu kan derajatnya jadi sama dengan kita. Kalau anak kecil jadi beda di bawah (orang dewasa,” kata peraih penghargaan Komunitas Penyelamat Mainan Indonesia versi Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak tahun 2012 itu.

Sebelumnya, Zaini juga sudah menempuh gelar Magister Desain di FSRD ITB dengan tesis berjudul “Perubahan Perkembangan Mainan Tradisional Jawa Barat. Sedangkan Skripsi di Desain Produk FSRD Institut Teknologi Nasional (Itenas) mengenai “Desain Mainan dan Permainan Untuk Melatih Motorik dan Kreativitas Anak.

Oktober lalu Zaini juga menggelar mini studi lewat pameran “Kaulinan Orang Lembur” atau “Permainan Orang Kampung” di ITB. Di sana ia memamerkan sekitar 250 permainan Sunda. “Saya ingin menunjukkan bahwa mainan itu merupakan pola transmisi nilai pada anak-anak,” ujarnya. Agar hal ini disadari oleh para orang tua dan guru, dalam permainan tradisional ada filosofi dan nilai yang bisa menjadi salah satu pembentuk karakter bangsa.

Kurang lebih gambaran-gambaran itulah yang akhirnya membuat Zaini mendirikan Komunitas Hong pada 2005 lalu. Hong merupakan pusat kajian serta dokumentasi untuk mainan dan permainan rakyat. Sampai saat ini, setidaknya Zaini telah mengumpulkan 2.500 jenis permainan tradisional di Indonesia. Serta 400 jenis permainan tradisional internasional dari 10 negara.

Ada beberapa alasan mengapa permainan tradisional tidak berkembang, baik umumnya di Indonesia atau khususnya ditatar tanah Sunda. Pertama karena memang tidak ada data permainan. “Coba cari buku permainan tradisional, pasti susahnya minta ampun,” ungkap pria kelahiran Subang, Mei 1975 itu.

Kedua, lanjut Zaini, karena memang tidak ada tempat bermain. Berbeda dengan zaman dahulu lahan dan areanya masih banyak. “Sekarang sudah enggak ada tempat itu, akhirnya tidak berkembang,” tutur peraih penghargaan tokoh kaulinan urang lembur dari Bupati Bandung pada 2012 lalu tersebut.

Tahun 1980-an permainan tradisional sempat berkembang. Ketika itu demam badminton melanda Indonesia, sehingga setiap RT pasti memiliki lapangan bulutangkis. Sehingga area itu bisa untuk area bermain “sondlah” atau galah. “Saat udah ngga musim, akhirnya lapangan badminton dibikin rumah sama yang punya,” kata peraih penghargaan Ashoka fellow Innovator for the public tahun 2015 ini.

Terakhir, lanjut Zaini karena tidak ada material untuk bermain. Misal untuk membuat “gogolekan” atau wayang dari pelepah daun singkong, sekarang sudah tidak ada. Dari tiga alasan itu akhirnya mendorong Zaini mendirikan “pakarangan ulin” atau halaman bermain Komunitas Hong di Bukit Pakar Utara 35 Bandung akhir tahun 2009. Awalnya mereka bermain secara sporadis di halaman mana yang memang areanya luas.

Pria dengan julukan “Bapak Permainan Tradisional” ini pun sering menjadi pembicara di dunia internasional. Akhir November lalu, Zaini juga ikut dalam kegiatan "Bandung Berdendang Bersahutan" di Penang Malaysia. Sebelumnya, Australia Plus ABC International juga mengundangnya dalam acara Oz Asia Festival di Adelaide Festival Center, Adelaide Southern Australia September lalu. " Ini undangan mengenai kesadaran manusia dalam menjaga nilai-nilai budaya di masa kekinian, " ia menjelaskan.

Di tengah perkembangan teknologi permainan modern saat ini, tidak mudah eksistensi permainan tradisional untuk melawan derasnya arus tersebut. “Kita sebenarnya tidak antipati, tapi harus menyeimbangkan saja,” kata peraih Culturepreneur Indonesia 2014 itu.

Perlu dipahami, lanjut Zaini, tujuan permainan modern adalah untuk menang. Dampak main tersebut adalah pencapaian rasa senang. Artinya senang setelah menang. Konsep seperti itu yang dikhawatirkannya bisa membentuk karakter orang menghalalkan segala cara untuk menang.

Nah hal ini tidak berlaku pada Permainan tradisional. Karena ada sistem dan pola permainannya. Hasilnya, dari kesenangan dampaknya akan menjadi menang. Tidak masalah dalam permainan permainan petak umpet, perbedaan yang menjadi kucing dan bukan itu tipis. “Kalau kucing malah enak enggak lari, tapi masalah harga diri saja,” katanya sambil tertawa.

Juga harus dipahami bahwa dalam permainan tradisional ada tiga konsep yang akan dirasakan. Pertama dalam hal mengenal diri, misal ketika melempar atau menendang bola akan terasa bagaimana pergerakan tangan dan kaki.

Kedua dalam hal pengenalan alam dan budaya. Contoh bermain layangan memanfaatkan angin. Daun atau batu jadi permainan, tanah untuk main gunung-gunungan atau gelinding pasir. Terakhir konsep mengenal tuhan. Setekah fase kagum dengan diri dan alam terpenuhi, maka dengan tak sadar mencari akan mencari konsep itu.

Menurut Zaini, berbeda dengan permainan modern tentang bagaimana mengenal dan mengulik teknologi tersebut. “Kalau seimbang, manusia akan ada pikiran maju dan karakter hebat,” katanya. Nah cara menyeimbangkannya, Bapak dua anak itu menerapkan “diet” gadget dan berupaya mengajak kedua putrinya untuk mengajak bermain permainan tradisional. “Kenalkan misal ada batu daun bisa dibeginikan,” tuturnya

Dosen Pengajar di Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung ini optimis perkembangan permainan tradisional akan mengarah lebih baik. Salah satu indikasinya, dengan mulai berkembang jurusan Etno yang fokus pada Budaya ketradisian. Disana ada mata kuliah permainan tradisional dan kriya membuat permainan.


Editor : Birny Birdieni

Birny Birdieni
03-03-2018 23:09