Main Menu

Menata Proyek Keras Kepala ala Perupa Eko Nugroho

Mukhlison Sri Widodo
05-03-2018 19:24

Peluncuran toko seni DGTMB Shop(GATRA/Arif Koes/re1)

Yogyakarta, Gatra.com - Nakal, liar, dan tak lepas dari kritik sosal. Itulah karya seniman Eko Nugroho dengan visual ala komik dan mural yang selama ini menjadi karakternya.

Eko, yang berangkat dari seni komik fotokopian bernama Daging Tumbuh atau DGTMB, kemudian terkenal ketika karyanya tampil di skena seni nasional dan internasional. 

Salah satu imej visualnya digunakan merek ternama dunia, seperti Louis Vitton dan Samsung, serta produk nasional, Aqua. Sosok dan karyanya bahkan ikut nongol dalam film laris "Ada Apa dengan Cinta? 2".

Namun dengan rekam jejak itu, Eko yakin seniman tak hanya harus berkarya, namun juga harus menata diri serta mengelola karya-karyanya tersebut dengan baik.

"Seniman bukan sosok yang bisa mengatur dirinya sendiri. Seniman bukan hanya harus banyak ide, tapi juga sadar diri harus mau ditata. Saya siap untuk ditata," ujarnya saat peluncuran  toko seni  miliknya DGTMB Shop di Kota Yogyakarta, Sabtu (3/03).

Outlet seni miliknya, DGTMB Shop sebenarnya sudah ada sejak 2008. Namun pengelolaannya belum baik dan belum mandiri. Lokasinya pun sering  berpindah. 

Selama ini, Eko menpertahankan toko tersebut semata demi menjaga semangat seni "generasi Xerox" atau generasi fotokopi yang marak sejak 1990-an ketika ruang seni di Yogyakarta terbatas. 

Di toko ini, dijual berbagai karya "kecil" Eko, terutama komik Daging Tumbuh yang dicetak hanya 30-200 eksemplar tiap edisi dan bebas difotokopi, juga karya fesyen dan cenderamata berdasar desain visual Eko.

"Istilahnya ini proyek keras kepala. Saya sering tombok. Kesenangan itu mahal harganya. Tapi kalau begitu terus, DGTMB Shop bisa selesai," ujar dia seraya tertawa.

Karena itu, pada usianya yang ke-10, Eko ingin DGTMB lebih profesional. Ia membuka DGTMB Shop dengan format baru. Bukan hanya mengandalkan dunia maya, melainkan juga lapak juga di tengah kampung yang menawarkan pengalaman berkesenian secara langsung.

Dengan tema Sunny Sunshine Darling, Eko menyediakan toko sekaligus ruang pameran seni mini menampilkan karya muralnya, seperti objek tentakel dan sulur makhluk bawah laut, yang memenuhi interior dinding dan langit-langit toko tersebut. 

Dalam kesempatan ini, ia juga merilis komik terbarunya, DGTMB volume 16 berjudul "Mencerdaskan Batu".

"Saya mau memberikan pengalaman berbeda pada publik. Di zaman selfie ini, orang pengen jadi bagian dari sesuatu. Orang bisa menikmati, merasaka langsung. Ini bentuk komuniaksi saya yang jarang berpameran di Yogyakarta dan menjadi stimulus untuk indusri kreatif," tuturnya.

Ratri Kartika Sari, dari ARS Management, selaku General Manager DGTMB Shop

mengatakan, Eko termasuk segelintir seniman yang mau mengelola diri dan karyanya. Selain toko seni, studio seni Eko dan lini pendidikan Eko Nugroho Art Class, juga memiliki manajemen secara terpisah dan mandiri.

"Dengan lorong-lorong berbeda ini, seniman tahu  arahnya mau ke mana. Satu ide liar misalnya, jangan di (bagian manajemen) sini, tapi di sini. Seniman mengeksplorasi ide-idenya dan melalui diskusi, manajemen meluruskan," ujar Ratri.


Reporter : Arif Koes

Editor : Mukhlison

Mukhlison Sri Widodo
05-03-2018 19:24