Main Menu

Menengok Jiwa Bipolar di Ekspresi Ragam Jiwa

Flora Librayanti BR K
07-04-2018 10:35

Pengunjung melihat lukisan yang dipamerkan dalam “Ekspresi Ragam Jiwa” di Galeri Cipta III, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat. (GATRA/Fitri Kumalasari/FT02)

Jakarta, Gatra.com - “Dilukis saat keadaan paranoid, gelisah, takut, dengan luapan emosi lain yang bercampur.” Demikian keterangan lukisan berjudul "Fear in Hesitation" yang dibuat oleh Vindy Ariella.

Vindy merupakan salah satu yang karyanya dipamerkan dalam “Ekspresi Ragam Jiwa” di Galeri Cipta III, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat. Aneka lukisan yang bisa dinikmati pengunjung ini merupakan hasil luapan jiwa mereka yang hidup dengan bipolar. Pameran ini berlangsung dalam rangkaian peringatan World Bipolar Day yang jatuh pada 30 Maret tiap tahunnya.

Selain Vindy, ada 22 peserta lain yang karyanya juga mejeng sejak 2 hingga 13 April 2018 di TIM. Para peserta berasal tak hanya dari Jakarta, tapi juga Bandung, Yogyakarta, dan sejumlah kota lainnya di Indonesia dengan ragam usia sekitar 20-an hingga pertengahan 30-an.

Seniman sekaligus pegiat Bipolar Center Indonesia (BCI), Joko Kisworo mengungkapkan penggunaan seni lukis sebagai media terapi untuk orang-orang spesial ini. Ia percaya dan membuktikan lewat berkesenian dapat membantu menstabilkan kondisi orang-orang dengan masalah kejiwaan. “Seni bisa menstabilkan mood di otak,” katanya di Jakarta.

Orang-orang dengan masalah kejiwaan bisa dibantu menuangkan luapan ekspresinya dalam medium seni apapun. Namun, lukis dianggap paling aman dengan peralatan yang tak membahayakan. "Orang-orang seperti ini melukis berarti menunjukkan jiwanya. Karyanya pure karena betul-betul berasal dari jiwa."

Seniman surealis ini sudah sejak 2007 memiliki minat pada kejiwaan. Ia juga caregiver bagi Vindy dan sejumlah orang dengan bipolar. Joko mengurasi karya-karya lukisan yang pameran dalam “Ekspresi Ragam Jiwa”. Proses kurasi sendiri membutuhkan waktu sekitar setahun.

Tak mudah bagi Joko meyakinkan para peserta untuk mau berpameran dan menunjukkan ekspresi jiwa mereka kepada khalayak umum. “Awalnya ada rasa takut pada mereka. Aku sempat minta bantuan kurasi dari kurator profesional tapi mereka malah nggak mau pameran,” ungkap Joko.

Orang-orang dengan bipolar perlu dipahami dan dimengerti. Tak semua hal bisa mereka ungkapkan dengan bebas dan mendapat respon baik dari sekitar. Maka perlu peran penting caregiver bagi mereka. “Menjadi caregiver butuh waktu dan kesabaran menghadapi orang dengan bipolar. Mereka (orang dengan bipolar) rerata punya persoalan menghadapi down and up feelings yang berubah cepat dan tak terkendali,” imbuh Joko.

Kondisi bipolar bisa dialami siapa saja. Tapi, orang-orang dengan bipolar bisa dibantu untuk bertahan dan melakoni hidup dengan baik. Jiwa adalah sesuatu yang juga rentan dan butuh ditengok oleh manusia. Jadi, tengoklah ia di “Ekspresi Ragam Jiwa” untuk silaturahmi dengan aneka jiwa yang lain, untuk lebih kenal diri sendiri.



Reporter: Fitri Kumalasari
Editor : Flora L.Y. Barus

 

Flora Librayanti BR K
07-04-2018 10:35