Main Menu

Mengenal Bubur Tamarin, Malam Dingin untuk Membatik

Birny Birdieni
26-04-2018 13:51

Workshop membatik dengan bubur tamarin di Bentara Budaya Bali. (Dok. Komunitas 22 Ibu/FT02)

Bali, Gatra. com- Adonannya seperti untuk membuat kue. Dua sendok besar tepung dicampur dengan sesendok mentega. Namun tepung disini bukan tepung biasa, dia berasal dari biji asam jawa yang telah diekstrak sebelumnya.


 

Kemudian diberikan air panas dan diaduk merata. Dan dicairkan dengan air dingin hingga berbentuk bubur. Setelah dimasukkan dalam plastik segitiga, adonan bubur tamarin itu harus didiamkan selama semalam sampai akhirnya bisa dipakai.

 

Jangan bayangkan hasilnya akan enak atau tidak. Karena ternyata demo itu bukan untuk membuat kue. Melainkan ini menjadi salah satu aktivitas Workshop Batik yang dilakukan Komunitas 22 Ibu dalam rangkaian Hari Kartini bersama dengan Bentara Budaya Bali pada Minggu (22/4) kemarin.

 

"Kegiatan kali ini pengenalan membatik dengan malam dingin dari bubur tamarin," kata salah satu inisiator Komunitas 22 Ibu yang juga trainer dalam Workshop Batik tersebut, Ariesa Pandawangi kepada Gatra.com, Kamis (26/4). Agenda ini juga untuk mengenalkan proses membatik yang Eco Green.

 

Sebelum digunakan, adonan dalam plastik itu digunting pada bagian bawahnya. "ini untuk jalan keluarnya adonan," kata wanita yang akrab disapa Esa itu. Pemakaiannya mirip menyemprotkan adonan kue semprit.

 

Adonan digariskan ke atas kain yang telah dibentangkan di atas spanram, bingkai kayu tempat menempatkan kain. Dimana sudah ada pola gambar batik yang ingin dibuat. "Proses pembuatan garis jangan sampai putus, karena fungsinya sebagai perintang warna," ungkap Esa.

 

Setelah selesai, objek yang sudah jadi dikeringkan di bawah sinar matahari. Atau bisa juga dibantu oleh hair dryer. Setelah kering akan dilanjutkan dengan proses pewarnaan.

 

Aktivitas itu menjadi serangkaian dari pameran "Sang Subjek" karya Komunitas 22 Ibu yang dilaksanakan sejak 21 April hingga 30 April ini. Komunitas 22 Ibu merupakan wadah perkumpulan para Kartini dari profesi dosen, guru ataupun personal lainnya.

 

Yakni seperti desainer, pengusaha, seniman yang berkiprah dalam bidang seni. Mereka berasal dari lintas institusi, bahkan lintas angkatan. Dimana anggota termuda berusia 23 tahun dan tertua 70 tahun.

 

Sebanyak 50 peserta ikut dalam pelatihan tersebut. Mereka sebagian besar merupakan mahasiswa dari Udayana, Universitas Pendidikan Ganesha(UNDIKSHA), dan Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar. Juga ada Siswa SMA ataupun SMP yang berbaur dengan masyarakat umum

 

Salah seorang peserta, I Wayan mengaku baru mengetahui ada sejenis tanaman di Indonesia yang dapat dimanfaatkan sebagai pengganti malam panas dalam membatik. Ia berharap materi pengajaran itu juga dapat diajarkan di kampusnya.

 

Menurut Wayan akan baik sekali bila ini masuk ke dalam materi pengetahuan bahan dalam seni rupa. "Keren ya Indonesia, yang lebih keren lagi yang bisa menemukan adonan ini," paparnya sambil tersenyum.

 

Penemuan Bubur Tamarin

 

Adonan bubur tamarin ditemukan oleh Niken Apriani, yang juga merupakan anggota Komunitas 22 Ibu. Kelebihan dari bubur tamarin, menurutnya menggunakan bahan ramah lingkungan yang bisa digunakan dalam proses membatik. "Bahkan aman digunakan anak kecil pun," kata guru SMPN 3 Cimahi, Jawa Barat tersebut yang kini dipromosikan menjadi Kepala Sekolah itu.

 

Berbeda dengan proses membatik tradisional yang menggunakan canting dengan lilin panas dan api. Bubur Tamarin bisa menjadi pengganti malam panas dalam proses membuat batik.

 

Menurut Niken, sebenarnya penggunaan bubur tamarin itu tak jauh beda dengan proses membatik pada umumnya. Kelemahannya, dia tidak terjangkau motif yang kecil. Lalu perlu pengetahuan jenis tekstil untuk kekentalan adonan. "Untuk kain yang agak tebal misal harus lebih encer, tapi. untuk kain tipis bisa agak kental," ungkapnya.

 

Niken berharap, temuan adonan pengganti malam panas tersebut dapat dipergunakan dalam proses pembelajaran seni batik dan diajarkan di sekolah-sekolah seluruh Indonesia. "Setiap daerah di Indonesia hampir selalu mempunyai keunikan motif batik yang dapat langsung diperkenalkan sejak dini," ungkapnya.

 

Sehingga muatan dalam pengajaran itu tidak hanya memperkenalkan ilmu pengetahuan keunggulan tanaman asam jawa di Indonesia. namun sekaligus memperkenalkan tradisi membatik serta motif batik aman dan ramah lingkungan pada generasi muda.


Editor: Birny Birdieni

Birny Birdieni
26-04-2018 13:51