Main Menu

Mengenalkan Dunia Maritim lewat Pentas Visual "Cerita Anak"

Mukhlison Sri Widodo
28-04-2018 20:56

pertunjukan Cerita Anak (Child's Story).(GATRA/Arif Koes/re1)

Artikel Terkait

Yogyakarta, Gatra.com - Empat puluh bocah dan orangtuanya berada di dalam kapal besar. Lautan yang semula tenang tiba-tiba bergejolak. 

 

Seisi kapal berteriak ketakutan, namun setelah itu berbagai makhluk lautan yang indah menampakkan diri.

Itulah kesan pertunjukan Cerita Anak (Child's Story)  yang dimainkan dalam satu ruang tertutup nan gelap. 

Pertunjukan ini menarik karena mengandalkan permainan cahaya dan bayangan, juga properti sederhana seperti mainan anak dan kain yang disulap layaknya gelombang lautan.

Tak kalah menarik, interaksi para pemain anak-anak yang tidak sadar tengah bermain peran dan ditonton banyak orang. 

Pentas ini dibawakan di Padepokan Seni Bagong Kusudiardja, Bantul, 27-28 April.

Pementasan di Yogyakarta ini merupakan hasil kerjasama kelompok teater boneka dari Yogyakarta, Papermoon Puppet Theatre, bersama kelompok seni Australia, Polyglot Theatre, sebagai bagian pameran seni ARTJOG 2018.

"Cerita ini terinspirasi dari kisah maritim di Lasem dan dikombinasikan dengan pencarian suaka bocah Srilanka ke Australia," kata Maria Tri Sulistyani, penggagas Papermoon Puppet Theatre di sesi pertunjukan Sabtu (28/4).

Pertunjukan di Yogyakarta merupakan pementasan kedua dengan versi berbeda dari pentas sebelumnya di Asia Topa Melbourne dan Perth Festival.

Di versi awal, karya ini semula hanya bisa dinikmati oleh 40 orang penonton yang kemudian menjadi penumpang yang menjadi bagian dalam pementasan. 

Namun kali ini pertunjukkan bisa dinikmati oleh 200 orang dalam sekali pertunjukan, dengan adanya penonton yang menyaksikan pementasan di balik kain kelambu.

Dan 40 orang penumpang tersebut beraksi secara natural karena tidak menyadari bahwa mereka menjadi 'penampil' yang ditonton.

"Peristiwa di atas panggung adalah reaksi spontan mereka atas stimulan yang diberikan melalui musik dan suara, tata cahaya, proyeksi video dan juga akting tiga aktor yang berperan sebagai anak buah kapal," jelas Maria yang akrab disapa Ria Papermoon.

Tema pertunjukan mengenai sejarah maritim dan  kisah nyata seorang anak Srilangka yang menjadi salah satu pencari suaka di Australia pun memiliki makna tersendiri, terutama bagi pemain dan penonton anak-anak.

"Pementasan ini membawa makna lain bagi pertunjukan teater untuk anak-anak. Bahwa ada lapisan yang sangat mudah dinikmati oleh anak, dan ada makna yang dalam yang bisa ditangkap melalui kacamata orang dewasa," kata Ria.


Reporter : Arif Koes
Editor : Mukhlison

Mukhlison Sri Widodo
28-04-2018 20:56