Main Menu

Teater Koma Hadirkan Fiksi Ilmiah dalam Pementasan Gemintang

Hidayat Adhiningrat P.
29-06-2018 13:28

Pementasan Gemintang Teater Koma.(Dok. Image Dinamic/re1)

Jakarta, Gatra.com – Untuk petama kalinya Teater Koma mengangkat tema fiksi ilmiah dalam pertunjukan teater mereka.

Berkisah tentang sosok Wibowo yang adalah seorang tokoh partai yang menjadi anggota Dewan Rakyat. Pada satu titik, tak ada lagi yang bisa dilakukan pria beristri dua tersebut untuk menghindari jerat hukum yang mengintainya. Lembaga antirasuah segera datang untuk menangkapnya.

Nun jauh di Lembang, Arjuna coba menggapai cintanya di semesta yang lebih jauh. Anak kedua Wibowo ini jatuh cinta pada Sumbadra. Ini bukan cinta orang biasa. Nama asli Sumbadra adalah Ssumphphwttsspahzaliapahssttphph. Dia berasal dari planet Ssumvitphphpah yang jaraknya 12 milyar tahun dari bumi. Mereka bertemu dengan cara teleportasi.

Meski terpisah jarak yang jauh, Arjuna bersikeras ingin menikahi Sumbadra. Dia membawa Sumbadra untuk menemui keluarganya untuk mendapatkan restu. Di saat keluarga sibuk mengurus kasus sang kepala keluarga, Arjuna datang membawa "masalah" baru.

Itu adalah cuplikan lakon Teater Koma dengan judul Gemintang. Produksi ke-153 Teater Koma yang dipentaskan di Graha Bakti Budaya, Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki mulai tanggal 29 Juni hingga 8 Juli 2018.

"Sengaja kami hadirkan seperti itu. Artistik tetap megah seperti biasanya tapi di belakangnya full layar ada multimedia yang dibantu animator-animator dari ISBI Bandung," ujar sutradara Teater Koma, Nano Riantiarno usai pertunjukan di Jakarta Pusat pada Kamis malam (28/6/2018).

Meski setting panggung ini terasa baru, karakter khas Teater Koma tetap hadir selama pementasan. Adegan-adegan dengan lelucon-lelucon satir mengenai Indonesia dan politiknya bisa dirasakan penonton. Tidak hanya hiburan, Teater Koma pun tetap ingin mengedukasi dan menyampaikan pesan moral bagi masyarakat.

Dalam pementasan ini, pesan itu muncul terkait maraknya budaya korupsi serta upaya anak muda untuk tidak jatuh dalam kebobrokkan dan kesalahan generasi sebelumnya. Beberapa adegan memperlihatkan karakter-karakter manusia yang hanya mendambakan kekuasaan dan kekayaan sehingga menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan.

"Apa yang terjadi ketika generasi muda mencoba memberontak, melepaskan diri dari jerat kebobrokan generasi sebelumnya. Inilah kisah manusia yang mencari cinta di negeri tanpa cinta," kata Nano.

Hal lain yang berbeda dalam pementasan Teater Koma kali ini adalah kemunculan aktor-aktor muda. Dalam panggung tersebut ada 14 pemain muda yang masuk dalam program PATEKO (Pembekalan Anggota Teater Koma) di awal 2018 lalu.

Kehadiran mereka memberikan nuansa baru dalam pementasan Teater Koma. Meskipun, masih terasa ada kesenjangan antara pemain senior dengan junior. Dengan pengalaman panggung yang mumpuni, aktor senior memang masih terlihat lebih "menguasai panggung".

Terlepas dari perbedaan keluwesan dalam berakting tersebut, langkah Teater Koma ini patut diapresiasi. Setidaknya, para anak muda ini terlihat begitu enerjik dalam koreografi.

"Dua kali produksi mereka lolos mementaskan. Tadi kita lihat juga ada dua adegan koreografi dan lagu yang anak muda banget. Yang satu judulnya Rapper, satu lagi lirik lagunya kata-kata masa kini. Enerjik banget, ya itu buat menarik generasi milenial juga," tutur Nano.


 

Reporter: Hidayat Adhiningrat P
Editor : Flora L.Y. Barus

 

Hidayat Adhiningrat P.
29-06-2018 13:28