Main Menu

Menyaksikan Talenta Para Seniman Belia Omah Cangkem

Mukhlison Sri Widodo
10-07-2018 10:31

Pertunjukan bertajuk “Cangkem Bertaburan” di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta (GATRA/Arif Koes Hernawan/yus4)

Artikel Terkait

Yogyakarta, Gatra.com - Daerah Istimewa (DI) Yogyakarta terus melahirkan bibit-bibit baru dalam dunia seni.

 

Salah satunya para bocah dari studio seni “Omah Cangkem” yang piawai berolah vokal, menabuh gamelan, menari hingga bermain drama dan komedi.

Kemampuan mereka dapat disaksikan dalam pertunjukan bertajuk “Cangkem Bertaburan” yang digelar secara cuma-cuma dan dipadati 800-an penonton di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta, Senin (97/) malam.

Omah Cangkem adalah studio seni binaan seniman Yogyakarta, Pardiman Djoyonegoro, yang mendirikan kelompok Acapella Mataraman pada 1992.

Grup ini dikenal dengan ciri khas penampilannya yang memadukan olah vokal acapella dengan musik tradisi dan dagelan ala Yogyakarta.

Di pentas ini, sekitar 40 anak dan remaja atau adik-adik kelas grup Acapella Mataraman hingga generasi kelima yang unjuk kebolehan.

Mereka punya nama sendiri yang unik, yakni Icipili Mataraman untuk kelompok anak-anak, dan OTW Acapella Mataraman yang beranggota para remaja.

Kemampuan seni pertunjukan mereka lumayan lengkap. Mereka membawakan senandung bercorak pop, medley lagu daerah, hingga tembang macapat dan lagu berbahasa Spanyol.

Semua lagu bernada ceria dengan tema-tema tentang persahabatan dan alam.

Para bocah dan remaja ini juga piawai beracapella. Penampil perempuan bernyanyi lagu seperti “Suwe Ora Jamu”, sedangkan laki-laki mengiringi dengan bebunyian menirukan alat musik dari mulut mereka.

Meski terampil tampil tanpa alat musik, mereka juga fasih memainkan berbagai instrumen. Dari alat musik modern seperti gitar dan violin, sampai piawai bermain karawitan dengan gamelan.

Beberapa anggota juga jago menari  terutama tari tradisi Jawa, bahkan dikombinasikan dengan gestur gerak tari Bali dan Batak.

Tak ketinggalan, anak-anak Omah Cangkem tampak menguasai panggung saat bermain peran. Mereka mengisinya dengan fragmen-fragmen komedi yang sanggup mencairkan suasana.

Bahkan, saat ada sejumlah kesalahan teknis, anak-anak usia TK dan SD ini mampu berimprovisasi.

Pardiman juga muncul sambil berkolaborasi dengan anak didiknya. Ia bermain rebab disusul sepasang bocah beradu main saron dan bonang dengan ritme yang cepat di tengah deretan bangku penonton.

Menurut Pardiman, pentas ini agar aktivitas seni para bocah “Omah Cangkem” tidak vakum. Dengan pertunjukan ini, anak-anak pun berlatih keras hingga bermalam di studio yang berlokasi di Bangunjiwo, Kasihan, Bantul ini.

“Ada yang bilang cangkem (mulut) itu kasar. Tapi sebenarnya tidak. Di muka kita, semua punya dua lubang, kecuali cangkem kita. Filosofinya, hendaknya kita melihat, mendengar, dan merasakan dua kali lebih banyak sebelum berbicara,” kata dia tentang makna pentas ini.


Reporter : Arif Koes
Editor : Mukhlison

Mukhlison Sri Widodo
10-07-2018 10:31