Main Menu

Evolusi Ilustrasi dalam Reka Rupa Rasa

Hidayat Adhiningrat P.
20-07-2018 17:49

Pengunjung melihat karya ilustrasi dalam pameran Reka Rupa Rasa. (GATRA/Hidayat Adhiningrat P/RT)

Jakarta, Gatra.com - Menggali inspirasi dari wonderland-nya sendiri, Koichiro Kashima menciptakan ilustrasi yang mengharukan dan menawan. Menggunakan teknik sapuan kuas cat air yang transparan dan halus, seniman asal Osaka, Jepang ini memperkenalkan dunia ajaib yang ada dalam dirinya ke dunia luar.

 

Dunia ajaib itu terejawantahkan dalam berbagai medium ilustratif. Mulai dari buku anak-anak, sampai ke animasi dan figur karakter. Koichiro tampilkan karya tersebut dalam gelaran pameran “Reka Rupa Rasa,” di galeri Dia.Lo.Gue, Kemang, Jakarta Selatan.


Koichiro menjadi satu dari belasan ilustrator yang ikut memamerkan karyanya di pameran “Reka Rupa Rasa”. Acara ini merupakan sebuah festival ilustrasi yang mengajak publik untuk ikut serta merayakan dan menikmati kekayaan bentuk ilustratif dengan menampilkan proses berpikir dan eksperimen estetika.

“Selain art dan keren, ilustrasi sebenarnya punya fungsi dan penting. Kita melihat mereka (para ilustrator) yang punya pengaruh dan punya value yang baik,” kata kurator pameran, Hermawan Tanzil, di lokasi pameran, Jumat (20/7/2018).


Ilustrasi, saat ini, berevolusi secara cepat. Terutama di masa ketika mata menjadi indra manusia yang paling penting. Indikator dari evolusi itu bisa terlihat dari jumlah ilustrator yang semakin bertambah dan bentuk perhatian serta apresiasi dari publik yang semakin baik.


Namun, dibalik fungsinya sebagai pembangkit perasaan ‘suka’ dan ‘berbagi’, peran penting ilustrasi yang sesungguhnya adalah sebagai perantara berbagai disiplin ilmu dan sebagai media untuk menjelaskan ilmu pengetahuan sehingga dapat mudah dengan mudah berlintas budaya tanpa menjadi bagian dari agenda elitis.

Pameran “Reka Rupa Rasa” ini diikuti oleh tiga ilustrator internasional. Selain Koichiro Kashima dari Jepang, ada juga Ye Ji Yun dari Korea Selatan, serta Nuttapong Daovichitr dari Thailand. Festival ini pun dimeriahkan oleh sepuluh ilustrator lokal maupun studio yang mewakili berbagai bidang.


Di antara ilustrator lokal yang tampil adalah Percolate Galactic dengan medium GIF, Caravan Studio yang didirikan Chris Lie dengan konsep seni untuk film, Lala Bohang dengan ilustrasi buku, Sandy Lee dan Kendra Paramita yang keduanya adalah ilustrator editorial masing-masing untuk majalah NatGeo dan Tempo, Debbie Tea yang piawai menerjemahkan ilustrasi ke dalam produk, juga Wanara Studio dengan terjemahan estetika lokal ke bentuk ilustrasi.


Kemudian ada Kendra Ahimsa dengan pendekatan musik pada praktek ilustrasi, Citra Marina yang menggeluti dunia ilustrasi sebagai dunia alternatif, hingga Mulie Addlecoat yang merajahkan ilustrasi ke kulit manusia.


Selain itu juga dipamerkan infografis perjalanan ilustrasi Indonesia yang dikerjakan oleh Heimlo Studio. Tak lupa pula tersaji wall of fame yang menampilkan sejumlah karya penting maestro dan ilustrator muda terbaik Indonesia, seperti Pak Raden, Mice, sampai ke Emte dan Mayumi Haryoto.


Kurator pameran lainnya, David Irianto, mengatakan bahwa pameran ini berusaha memperlihatkan ilustrasi secara seimbang. Meskipun, dalam proses kuratorial, mereka melihat bahwa bidang ilustrasi yang awalnya disangka sempit ternyata luas.


“Belum ada pameran yang memperlihatkan ilustrasi secara seimbang. Tidak terlalu berat di seni seperti galeri tapi juga tidak begitu berat untuk industri,” kata David.



Reporter: Hidayat Adhiningrat P
Editor : Flora L.Y. Barus

 

Hidayat Adhiningrat P.
20-07-2018 17:49