Main Menu

Seni Sebagai Terapi, Pameran Lukis Para Seniman Art Brut

Fitri Kumalasari
28-07-2018 18:33

Pameran lukisan crlebrating therapeutic art activities di galery cipta III TIM. (GATRA/Fitri Kumalasari/RT)

Jakarta, gatra.com - Puluhan Lukisan Kepala Wayang Dalam Satu Frame dan 150 Lukisan Anak Ayam karya Dwi Putra Mulyono membikin senyum terkembang. Lukisannya penuh tokoh wayang dan anak ayam pada kanvas yang digelar di lantai.

Hanya wayang dan anak ayam isi torehan kuas dari tangannya. Repetisi tapi lukisannya bukan seperti fotokopi. Selalu ada kebaruan dalam tiap gambar saat dilihat saksama oleh mata yang tenang. Hal ini bisa terlihat dari perubahan bentuk objek maupun warna.

Bagi sebagian orang yang tak paham, lukisan Dwi Putra akan dianggap sepele, terlalu kekanak-kanakkan, tak begitu istimewa. Sementara untuk anak-anak atau orang dewasa yang mampu menikmati pikiran bebas lepas, lukisan Pakwi -Dwi Putra biasa disapa- terasa menyenangkan. Sama menyenangkannya saat memandangi karya-karya Hana Madness yang kaya aneka objek nan “lucu”.

Atau karya Ramandhika Asra yang lukisan-lukisannya memiliki karakter unik dengan permainan garis serta warna yang membuat mata dapat bingkisan panorama semarak. Lukisan-lukisan yang ditampilkan Ramandhika utamanya berupa pemandangan dengan judul-judul sederhana seperti Masjid, Pura di Bali atau Saint Basil’s Cathedral.

Selain mereka, ada juga berbagai lukisan dari Anfield Wibowo, Norman Salim, Maison, Nelson, Audrey Gunawan, dan Raynaldy Halim yang ikut dipamerkan di Galeri Cipta III, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Sabtu (28/7).

Karya-karya yang dipamerkan dalam Celebrating Therapeutic Art Activities dalam rangkaian acara Post Fest 2018 dibuat oleh orang-orang disabilitas mental. Seperti Pakwi hidup dengan skizofrenia. Anfield Wibowo yang masih berusia 14 tahun adalah anak dengan asperger (gejala autisme) dan tunarungu. Hana Alfikih atau yang lebih dikenal dengan Hana Madness adalah perempuan muda dengan gangguan bipolar disertai halusinasi.

"Seni bagi saya adalah terapi. Saya bisa menuangkan apa yang saya lihat dan rasakan. Seni juga membuat orang mengapresiasi saya," kata Hana. Hana membuktikan diri bahwa orang dengan disabilitas mental mampu hidup mandiri tanpa stigma apapun. Pilihannya menggunakan seni sebagai medium terapi membawanya sebagai salah satu delegasi dari Indonesia dalan Festival Unlimited 2016 di London.

Bagi mereka, seni merupakan medium terapi kejiwaan. Jenis seni yang dihasilkan oleh orang-orang seperti Pakwi maupun Hana dikenal sebagai Art Brut. Genre seni ini diinisiasi oleh Adolf Wolfli (1864-1930). Wolfli merupakan pasien rumah sakit jiwa di Swiss sejak 1899.

Karya-karyanya ditemukan oleh seniman Prancis Jean Dubuffet pada tahun 1945. Dubuffet kemudian mempopulerkan genre seni baru yang dikenal sebagai art brut (seni kasar) atau outsider art, yakni karya seni yang diciptakan oleh penyandang disabilitas mental.

Pameran lukisan art brut ini berlangsung sejak 21 Juli hingga 5 Agustus 2018. Karya-karya mereka layak ditengok. Kaya emosi sekaligus terasa humanis yang terkemas otentik di tangan-tangan para seniman, yang meski hidup dengan gangguan mental, tapi jauh terasa kejujurannya.


Reporter: Fitri Kumalasari
Editor: Iwan Sutiawan

Fitri Kumalasari
28-07-2018 18:33