Main Menu

Menikmati Karya Mice Tanpa Kehadiran Benny

Hidayat Adhiningrat P.
29-07-2018 02:37

Pengunjung mengamati salah satu karya Mice di Galeri Indonesia, Jakarta. (GATRA/Adi Wijaya/FT02)

Jakarta, GATRA.com - Muhammad "Mice" Misrad menggelar pameran yang diberi tajuk "Indonesia Senyum - 20 Tahun Mice Berkarya" di Galeri Nasional, Jakarta, 21 Juli - 4 Agustus 2018. Karya-karya yang dipamerkan mencakup lima kategori, yakni kartun politik, kartun keseharian urban, kartun yang membicarakan gawai atau gadget, kartun aneka profil dan kartun dalam media digital.

Yulian Ardhi, kurator pameran tersebut, mengatakan bahwa semua karya yang ditampilkan dalam pameran ini adalah karya ciptaan Mice. Pernyataan ini penting untuk dikemukakan. Pasalnya, sebagian besar karya Mice yang tampil kepada publik dalam dua dekade terakhir seakan tak lepas dari nama Benny.

"Pernah suatu ketika, saat kami (kurator) sedang memilih karya Mice untuk ditampilkan di pameran, kami memilih kartun yang dibuat oleh Benny. Kami pikir itu buatan Mice. Karya mereka berdua ini identik, sulit dibedakan," kata Yulian melalui sambungan telepon kepada Gatra.

Nama "Benny & Mice" hingga tahun 2010, memang sulit dipisahkan. Karya kartun buatan mereka selalu menyapa khalayak tiap akhir pekan di salah satu koran nasional. Melalui lelucon khasnya, mereka kerap menyentil kehidupan keseharian masyarakat urban.

Karakater Mice sebagai kartun lebih banyak menampilkan dirinya dalam keseharian urban yang lugu, sok tahu, dan norak. Sifat dan tingkah yang ditampilkan di dalam panel-panel kartun tersebut seringkali membuat pembacanya tersenyum hingga mengeluarkan tawa terbahak-bahak.

Ditemui di kediamannya, kawasan Serpong, Tanggerang Selatan, Mice sempat menceritakan awal mula perkenalannya dengan Benny Rachmadi. Mereka berdua berkuliah di satu kampus yang sama, Institut Kesenian Jakarta. Keduanya terlibat untuk mengurus koran dinding kampus. "Kami jadi redaksinya, di situlah awal mula saya merasa klop sama Benny," kata Mice.

Saat itu, dia membuat kartun tentang mahasiswa-mahasiswa seni yang hanya menampilkan dandanan ala seniman tapi sebenarnya tidak punya karya apa-apa. Karya itu ditampilkan di koran dinding tadi. "Ramai loh waktu itu, malah kartun semacam ini ditunggu-tunggu sama mahasiswa. Wah, mereka mau bikin apalagi nih setelah ini? begitu pikir mereka," kenang Mice.

Kolaborasi ini pun terus berlanjut, hingga mereka berdua terlibat dalam proyek kartun opini di sebuah koran nasional. Kartun opini "Benny & Mice", secara rutin, terbit setiap akhir pekan di koran tersebut. Tak hanya itu, karya kolaborasi mereka berdua pun tersaji dalam beberapa buku.

Di tahun 2010, mereka berdua memutuskan untuk tidak lagi bersama. Keduanya tetap mengeluarkan karya-karya kartun, tapi sekarang mereka membuatnya sendiri-sendiri. Keputusan ini, saat itu, sempat disesalkan oleh para penikmat kartun mereka. Baik Benny maupun Mice, tetap keukeuh untuk mengeluarkan karya tanpa embel-embel kata "dan" di antara nama mereka.

Dalam pembukaan pameran "Indonesia Senyum", menurut pengakuan salah seorang yang hadir di lokasi, Mice sempat terlihat meneteskan air mata saat membicarakan Benny dalam sambutannnya. Kepada Gatra, Mice mengaku bahwa dia sangat mengharapkan kehadiran Benny dalam pembukaan pamerannya ini.

"Saya undang, tapi dia berhalangan hadir. Itu (saat pembukaan pameran) saya sedang coba berimajinasi, membayangkan Benny ada di sana saat itu," katanya.

Perpisahan tersebut nyatanya memang tidak serta merta mengubah gaya kartun Mice yang lucu dan satire. Pameran "Indonesia Senyum" memperlihatkan hal tersebut, dengan atau tanpa Benny, karakter kartun-kartun Mice tidak berbeda secara signifikan.

Melalui kartun yang menyindir, memuji, meledek, dan mengangkat perangai orang Indonesia dari latar yang beragam, Mice tetap menggambarkan suasana Indonesia yang multikultural. Representasi Indonesia multikultural ini seakan bandul yang terus bergerak di antara kemelut dan harapan, keputusasaan dan optimisme, juga keterpurukan dan kenyataan. Seperti karya-karyanya saat masih bersama Benny dulu.

Perpisahan ini, dikatakan Mice, sebenarnya tetap membuat perubahan. Namun, perubahan yang dimaksud hanyalah dalam proses menghasilkan karya. "Positifnya, saya jadi bisa lebih bebas menentukan karya. Tapi, beratnya, saya jadi harus memikirkan semuanya sendiri," ucap Mice.

Senada dengan Mice, Yulian juga melihat pengaruh perpisahan pada proses teknis berkarya, yang semula mereka berdua brainstorming ide dan bergantian menggambar kartun, sekarang dikerjakan sendirian.

Sementara karakter tokoh kartun masing-masing tidak berubah meskipun keduanya telah berpisah "Setelah pisah dengan Benny, Mice lebih banyak mengangkat isu seputar pengalaman keluarga,'' kata Yulian.


Reporter: Hidayat Adhiningrat P

Editor : Bernadetta Febriana

Hidayat Adhiningrat P.
29-07-2018 02:37