Main Menu

20 Tahun Mice Berkarya: Serius tapi Senyum

Hidayat Adhiningrat P.
01-08-2018 15:25

ebuah karya kartun berjudul "Cuci Otak" ( ANTARA FOTO/Dodo Karundeng/yus4)

Jakarta, gatra.com - Mulut lelaki botak itu disumpal telepon seluler pintar. Pada kepala, mata, telinganya juga tertancap benda serupa. Dari telepon genggam pintar itu, terjuntai kabel-kabel penambah daya. Kabel-kabel tersebut kemudian masuk ke dalam kepala, leher, membelit lengan, hingga masuk ke dalam pusar. Oleh pelukisnya, karya yang mengkritik tingkat ketergantungan manusia terhadap telepon pintar itu diberi judul ''Sumpel''.

Karya "Sumpel" menjadi semacam interupsi dalam ruang pameran Gedung D Galeri Nasional, Jakarta. Kesan interuptifnya bukan muncul dari perdebatan urusan estetika, melainkan karena profil si pelukisnya. Karya tersebut dibuat oleh Mice.

"Saya bikin lukisan, akhirnya. Lima lukisan. Isinya masih soal potret kehidupan sehari-hari, politik, dan profil," Begitu penjelasan Muhammad "Mice" Misrad tentang lukisannya itu. Karya tersebut dipajang dalam pameran ''Indonesia Senyum-20 Tahun Mice Berkarya'' yang digelar di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, 21 Juli-4 Agustus 2018.

Selama ini, Mice lebih dikenal sebagai kartunis yang konsisten membicarakan isu urban, politik, dan gaya hidup dalam visual kartun. Karakter Mice sebagai kartun lebih banyak menampilkan dirinya dalam keseharian urban. Kesan lugu, sok tahu, dan norak merupakan sifat dari karakter Mice yang kerap membuat pembaca tersenyum oleh tingkahnya.

Kemunculan karya dalam bentuk seni lukis tadi seakan menunjukan usaha eksplorasi bagi karya terbaru Mice. Ia mulai mencoba bermain-main dengan medium yang lebih ''serius'', dengan tidak menanggalkan ciri khas isi pesannya yang nyental-nyentil berbagai hal dalam kehidupan masyarakat urban dan bikin orang tersenyum. "Ini jadi semacam tantangan dari kami (para kurator) pada Mice. Bisa tidak membuat karya yang lain? Dia buatlah lukisan itu, ternyata hasilnya oke juga," kata kurator pameran, Yulian Ardhi.

Yulian membagi karya-karya Mice yang dipamerkan dalam lima kategori, yaitu: kartun politik, kartun keseharian urban, kartun yang membicarakan gawai atau gadget, kartun aneka profil, dan kartun dalam media digital. Sesuai dengan judulnya, dalam lima kategori itulah karya-karya Mice selama dua puluh tahun terakhir dihadirkan kembali. Sementara tema ''Indonesia Senyum'', menurut Yulian, adalah ide yang ditawarkan Mice.

"Kondisi negara lagi gak asik, jadi saya mau ada kata senyum biar setidaknya menurunkan tensi politiklah. Biar gak debat cebong-kampret melulu," kata Mice berseloroh ketika ditanya tentang alasan mengangkat tema tersebut.

Tak sulit bagi kurator untuk menyeleksi karya-karya Mice yang sesuai dengan tema pameran. Toh selama ini, kata Yulian, karya kartun buatan Mice memang selalu mengundang senyum dan tawa pembacanya. Melalui kartun yang menyindir, memuji, meledek, dan mengangkat perangai orang Indonesia dari latar yang beragam, Mice menggambarkan suasana Indonesia yang multikultural.

Representasi Indonesia multikultural ini seakan bandul yang terus bergerak di antara kemelut dan harapan, keputusasaan dan optimisme, juga keterpurukan dan kenyataan. "Lama-lama saya pikir inilah hebatnya Indonesia, ketidakteraturannya ini yang justru menjadi kelebihan kita dibanding negara lain," kata Mice.

Dalam kategori politik, Mice membuat karya kartun mengenai keadaan pascakrisis ekonomi 1997 dan reformasi. Di sini dia memperlihatkan sudut pandang masyarakat akar rumput dalam melihat isu politik dan perilaku politisi.

Ada juga sindiran mengenai kontrasnya perbedaan hukuman bagi koruptor di Arab Saudi, Cina, dan Indonesia. Di Indonesia, Mice menggambarkan bahwa justru pemerintah ''menghadiahi'' koruptor dengan mengurangi masa tahanan alih-alih memberikan hukuman yang berat.

Jenis kartun lain yang menjadi andalan Mice adalah kartun yang menggambarkan gaya dandan, profesi dan profil unik orang Indonesia dengan membedah stereotip khasnya. Mice menyebutnya sebagai "kartun menelanjangi karakter".

Ia, antara lain, memuat penggambaran lucu dan jahil tentang perilaku pembantu rumah tangga era modern yang lebih banyak bergaya daripada bekerja. Tidak lupa Mice memberi perbandingan dengan pembantu rumah tangga masa lalu yang bekerja dengan dedikasi yang tinggi. Ada juga pengambaran yang nakal tentang pemandangan lazim encik-encik (wanita setengah baya dari etnis Tionghoa) yang selalu berjalan-jalan ke mal dengan penampilan ala anak-anak remaja.

Praktisi komik, Chris Lie, menyebut Mice sebagai salah satu kartunis Indonesia yang-melalui karyanya--berhasil menggambarkan wajah masyarakat Indonesia yang sebenarnya. Bahkan, dalam pandangan Chris, tidak ada kartunis lain di Indonesia yang terpikir untuk membuat kartun profil seperti yang dilakukan Mice. Hal ini menjadi nilai tambah karya-karya Mice. "Saya pribadi lebih suka sama kartun-kartun Mice yang menggambarkan perilaku masyarakat sehari-hari," katanya.

Mice menyebut tiga nama kartunis yang memengaruhinya dalam berkarya selama 20 tahun terakhir. Mereka adalah Datuk LAT (kartunis asal Malaysia) dan Tantio Ajie (dosennya saat kuliah di Institut Kesenian Jakarta). "Satu lagi, tentu saja Benny," kata Mice.

Benny yang dimaksud Mice adalah Benny Rachmadi. Sampai tahun 2010, nama Mice tak terlepaskan dari Benny. Mereka selalu menyapa pembacanya pada akhir pekan lewat komik strip "Benny & Mice" di sebuah koran nasional. Akhirnya, mereka berpisah dan masing-masing memutuskan untuk berkarya sendiri.

Perpisahan ini, diakui Mice, berakibat pada perubahan dalam proses menghasilkan karya. "Positifnya, saya jadi bisa lebih bebas menentukan karya. Tapi, beratnya, saya jadi harus memikirkan semuanya sendiri," ucap Mice.

Senada dengan Mice, Yulian juga melihat pengaruh perpisahan pada proses teknis berkarya, yang semula mereka berdua brainstorming ide dan bergantian menggambar kartun, sekarang dikerjakan sendirian. Sementara karakter tokoh kartun masing-masing tidak berubah meskipun keduanya telah berpisah "Setelah pisah dengan Benny, Mice lebih banyak mengangkat isu seputar pengalaman keluarga,'' kata Yulian.


Reporter: Hidayat Adhiningrat P

Editor : Bambang Sulistiyo

Hidayat Adhiningrat P.
01-08-2018 15:25