Main Menu

ET CETERA #1 Pencapaian Ungkapan Visual Perupa Komunitas 22 Ibu

Birny Birdieni
02-08-2018 11:01

Perupa Komunitas 22 Ibu. (Dok. Komunitas 22 Ibu/FT02)

Bandung, Gatra.com- Sebuah lirik lagu "Et Cetera" dari group band rock Jepang "One Ok Rock" menjadi rangsang awal bagi resepsi dan interpretasi karya "Komunitas 22 Ibu" dalam pameran bertajuk "Et Cetera #1". Makna kata dari bahasa latin ini memiliki arti dan lain-lain. 


Lagu tersebut ditulis sang vokalis Taka yang kemudian digubah oleh Alex, mantan gitaris band yang selalu berlatih jam 1 malam tersebut. Alex keluar dari grup tersebut pada 2009 lalu.

Ada dua puluh perupa "Komunitas 22 Ibu" yang berpameran dalam perhelatan yang bertempat di Galeri Thee Huis sejak 1 Agustus hingga 7 Agustus 2018 mendatang itu. Mereka adalah Ariesa Pandanwangi, Arti Sugiarti, serta Ayoeningsih Dyah Woelandhary, dan Belinda Sukapura Dewi.

Juga Endah Purnamasari, Endang Caturwati, serta Dini Birdieni, Ika Kurnia Mulyati, dan Mia Syarief. Kemudian Neny Nurbayani, Nida Nabila, dan Niken Apriani.

Ada juga Nina Irnawati, Nita Dewi, dan Nuning Damayanti. Rina Mariana, Risca Nogalesa Pratiwi dan Shitra Noor Handewi. Serta Sri Sulastri dan Yustine.

Komunitas 22 Ibu merupakan komunitas para ibu dari lintas institusi, yang mewadahi kesamaan berkarya seni, pameran, penulisan buku tentang seni rupa, workshop dan lain-lain. Mereka berasal dari pendidik seni rupa dari berbagai wilayah di Indonesia, pengusaha, desainer, serta seniman.

Agenda ini merupakan bagian dari rangkaian Bandung Art Month yang berlangsung selama Juli hingga Agustus ini. Perhelatan tersebut melibatkan banyak pihak, seperti seniman, galeri, museum, studio, dan juga banyak pihak lainnya.

Kurator Diyanto mengatakan bahwa ide awal tajuk karya KOmunitas 22 Ibu diambil dari potongan lirik berbunyi, "Momometen da Hoshiin, da Etosetora". Yang artinya, aku memintamu, aku menginginkanmu, dan lain-lain.

"Karya yang dipamerkan merupakan pencapaian estetik para perupa dalam Komunitas 22 Ibu dalam rentang 3 tahun terakhir," ungkap Diyanto dalam rilis yang diterima Gatra.com, Kamis (2/8).

Menurut Diyanto, dunia seni rupa saat ini tidak hanya tumbuh menjadi semakin kaya. Namun juga berkembang kompleks. "Perkembangan dan geseran itu bukan hanya dalam soal pencapaian nilai estetis, tetapi juga terkait kriteria dan proses penciptaan," ungkapnya. 

Diyanto memaprkan bahwa suatu objek seni yang diproduksi menuntut kondisi tertentu di mana tidak hanya berbasis faedah pengetahuan seni saja. Akan tetapi perlu pengetahuan kebudayaan, sosial, dan filsafat.

Dalam banyak sisi, lanjut Diyanto, proses kreasi saat ini tidak lagi nampak steril dan individual dengan mengandalkan intuisi, kepekaan emosi, serta rasa dan keterampilan belaka. "Keintiman, dan keseriusan para perupa terhadap perkara kognitif dalam kaitan mengamati, mengenali, dan membaca bagaimana kebudayaan bergerak juga sangat dibutuhkan," pungkasnya. 

Pameran ini dibuka oleh Bapak Iwan Gunawan selaku Kasi Atraksi Seni Budaya-UPTD Pengelolaan Kebudayaan Daerah Jawa Barat. Dalam sambutannya ia berharap atmosfir seni yang dibangun oleh para perempuan berbagai lintas institusi ini dapat memberi warna tersendiri dalam event Bandung Art Month.


Editor : Birny Birdieni 

Birny Birdieni
02-08-2018 11:01