Main Menu

Mengangkat Derajat Perempuan Penenun Indonesia

Hidayat Adhiningrat P.
11-08-2018 12:45

Press conference dan talkshow Torajamelo (dok TORAJAMELO/yus4)

Jakarta, Gatra.com – TORAJAMELO menghadirkan koleksi kain tenun bertajuk ‘Menenun Cerita Indonesia’ pada ajang Asian Textiles Exhibition, atau Pameran Wastra Asia, yang bertempat di Museum Tekstil Jakarta selama sebulan penuh dari tanggal 9 Agustus hingga 9 September 2018 mendatang. Ajang Asian Textiles Exhibition diselenggarakan sebagai bagian dari rangkaian acara menyambut Asian Games 2018.


Pameran Wastra Asia ini mengusung tema ‘Share Roots, Diverse Growth, Celebrating Asia’s Textiles Traditions’ dan diselenggarakan oleh Pemerintah Kota DKI Jakarta dengan mitra penyelenggara TORAJAMELO dan Wastra Indonesia.

Dinny Jusuf, Pendiri TORAJAMELO, merasa gembira dapat berpartisipasi di ajang Asian Textiles Exhibition. Dinny berkata, “Kami tentunya bangga terlibat menjadi pendukung dalam ajang Asian Textiles Exhibition atau Pameran Wastra Asia ini. Ajang ini merupakan pameran prestisius, yang menampilkan tak hanya kain tradisional Nusantara saja tetapi juga kain-kain tradisional dari negara-negara Asia lain," kata Dinny (10/8/2018).

Berdasarkan data Bank Dunia tahun 2017, Indonesia yang merupakan negara padat penduduk dengan populasi sekitar 252 juta jiwa, memiliki lebih dari 28 juta jiwa yang masih hidup di bawah garis kemiskinan. Sebanyak 11,2% diantaranya berpenghasilan kurang dari Rp. 25,000 (USD 2) per hari dan sebagian besar bermukim di wilayah pedesaan. Adapun angka kemiskinan di pedesaan mencapai sekitar 13,8% sementara di perkotaan jauh lebih kecil yaitu 8,2%.

Menurut data statistik pula sekitar 70% penduduk miskin adalah perempuan. Banyak di antara mereka kemudian memilih untuk bekerja di luar negeri sebagai pembantu rumah tangga untuk membantu keuangan keluarga mereka. Banyak pula diantara para tenaga kerja perempuan ini mengalami berbagai tindakan kekerasan sehingga akhirnya kembali lagi ke Tanah Air.

Angka kemiskinan yang miris ini, serta didominasi kaum perempuan, menggerakkan TORAJAMELO untuk turut berperan aktif dalam mengatasi kemiskinan dan kekerasan yang mereka alami. TORAJAMELO adalah komunitas yang peduli dengan seni dan budaya, khususnya dalam bidang tenun, dan memiliki tujuan serta visi untuk memberikan kehidupan yang lebih baik bagi para perempuan penenun, sekaligus melestarikan dan meremajakan seni budaya tekstil tenunan tangan Indonesia.

Di ajang ini, TORAJAMELO menampilkan koleksi kain tenun karya para perempuan penenun dari Toraja dan Mamasa, Sulawesi dan Adonara dan Lembata, Nusa Tenggara Timur. Pada koleksi terbarunya, TORAJAMELO menampilkan inovasi kain tenun dengan warna yang lebih kekinian serta bahan yang lebih popular sehingga kain tenun semakin digemari oleh masyarakat umum, khususnya pecinta kain tradisional. Koleksi kain tenun TORAJAMELO yang ditampilkan bukan saja dalam wujud kain tetapi juga busana trendy yang dibuat dari tenun, aksesoris serta cinderamata berkualitas.

TORAJAMELO turut menyelenggarakan Asian Textile Exhibition dengan alasan karena ajang ini adalah kesempatan yang istimewa yang menempatkan wastra Nusantara di sebuah pameran internasional. Tak hanya kain tradisional dari Indonesia saja, ajang ini juga menampilkan berbagai kain dari negara-negara Asia lainnya.

Meskipun terdapat keragaman bangsa dan budaya di benua Asia, namun terdapat banyak kesamaan yang mengkaitkan beberapa bangsa satu sama lain. Salah satunya yang menjadi benang merah budaya di Asia adalah seni tenun. Keterlibatan TORAJAMELO di ajang ini pun semakin menegaskan posisinya sebagai salah satu wajah untuk kain tenun kebanggaan Indonesia.

"ini tentunya akan meningkatkan kepercayaan diri para pengrajin, khususnya penenun, untuk berinovasi dengan corak, warna, desain hingga material yang lebih kekinian. Harapan kami, kain tenun asli bukan pabrikan dapat semakin dicintai oleh masyarakat Indonesia khususnya dan menjadi warisan budaya Bangsa yang patut di lestarikan,” ucap Dinny.

Keseriusan TORAJAMELO dalam membina para perempuan penenun di beberapa desa di Toraja selama 10 tahun terakhir ini membawa banyak kemajuan dengan dipamerkannya hasil karya para penenun berdampingan dengan koleksi dari negara Asia lain. Tentunya membutuhkan dedikasi dan semangat yang tinggi dari tim TORAJAMELO untuk membina para penenun di daerah-daerah terpencil untuk membuat kain tenun tangan asli yang memiliki banyak ragam keunikan dari masing-masing daerah tersebut.

Dinny Jusuf menceritakan bahwa awal berdirinya TORAJAMELO didasari kecintaannya akan kain tradisional Nusantara, khususnya kain tenun. Karena suaminya berasal dari Toraja, Dinny Jusuf ingin berbuat sesuatu untuk daerah keluarga suaminya tersebut.

Keseriusan dan dedikasi dibutuhkan untuk membina para perempuan penenun yang tinggal di daerah terpencil agar dapat mandiri dan berdikari. TORAJAMELO percaya bahwa kita semua berperan agar kain tenun dapat tetap eksis dan menjadi warisan bangsa, dan jangan sampai di klaim oleh negara lain.

Untuk itu TORAJAMELO pun menghormati para perempuan penenun sebagai artisan dan menghargai hasil karya kain tenun mereka dengan harga yang pantas. Hal ini mereka lakukan untuk menyakinkan para penenun bahwa kain tenun merupakan pekerjaan yang menjanjikan, yang dapat menjadi sumber penghasilan mereka. Hingga kini, banyak sudah tertarik untuk terus berkarya dengan menenun sekaligus merangsang generasi muda untuk tertarik terjun menjadi penenun.

TORAJAMELO didirikan pada tahun 2008 di Toraja dan bertujuan untuk menghentikan kemiskinan dan kekerasan perempuan melalui kain tenun. TORAJA MELO lebih memfokuskan kepada pengembangan komunitas penenun, khususnya penenun yang menggunakan alat tenun gedhog, sehingga mereka dapat menghasilkan uang sembari bekerja dari rumah dan tetap dapat menjaga keluarga mereka.

Dengan suksesnya kerja TORAJAMELO di Toraja serta atas permintaan banyak komunitas, maka sejak tahun 2013 TORAJAMELO merambah ke Mamasa, Sulawesi Barat untuk membina para perempuan penenun di sana. Pada tahun 2014, TORAJAMELO bekerjasama dengan PEKKA (Asosiasi Perempuan Kepala Keluarga) dan memulai kerja di pulau Adonara dan Lembata di Nusa Tenggara Timur.

Secara keseluruhan Toraja Melo bekerjasama dengan komunitas penenun yang terdiri dari sekitar 1,000 perempuan penenun. Mulai tahun 2018, ketika para penenun di keempat daerah tersebut sudah mandiri dan stabil sebagai pemasok kain tenun, maka TORAJAMELO kemudian lebih memfokuskan diri untuk meningkatkan sisi bisnis mereka.

Menurut TORAJAMELO sebagian besar dari 300 kelompok pengrajin etnis yang tinggal di Indonesia dapat menenun, terutama di daerah termiskin dan paling terpencil, dimana tidak banyak peluang penghasilan. Oleh karena itu, untuk komunitas seperti ini, TORAJAMELO mempersiapkan para penenun tak hanya semakin trampil dengan karya tenunnya saja tetapi juga mempersiapkan mereka untuk dapat menghadapi pasar dunia.

Bersama PEKKA, TORAJA MELO mengadakan Program Pengorganisasian Masyarakat dan Peningkatan Kapasitas dengan topik seperti tren mode, desain kain dan sebagainya. Disamping itu mereka memberikan akses pada pembiayaan mikro dan tunjangan sosial seperti beasiswa, layanan kesehatan dan obat. TORAJAMELO juga mengupayakan regenerasi untuk meneruskan pengetahuan menenun kepada generasi muda. Cita-cita TORAJA MELO adalah untuk bisa membina sekitar 5,000 penenun di seluruh Indonesia.

Dari sisi bisnis, TORAJAMELO menghasilkan lini mode, aksesoris dan produk cinderamata berkualitas tinggi. Semuanya dibuat dari kain tenun tangan asli dari semua daerah kerja TORAJAMELO. Tim TORAJAMELO berfokus pada desain yang modis, fungsional dan berkualitas tinggi, yang bisa diperkenalkan dan dipasarkan baik di Indonesia maupun di mancanegara.

TORAJAMELO berkolaborasi dengan Komunitas Perempuan Penenun Miskin Pedesaan dan Perempuan Miskin Kota untuk menghadirkan tenun yang semakin memperkaya warna-warni tenun Nusantara sekaligus mengangkat derajat tenun sebagai bahan yang fashionable. Masing-masing desain terinspirasi dari kecintaan TORAJA MELO pada kebudayaan Indonesia.

TORAJAMELO mendesain dan menghasilkan produk berkualitas tinggi, dan bekerja secara profesional dengan standard prosedur yang tinggi. Semua produk harus melalui pengecekan mutu yang ketat, misalnya. Seluruh penenun merupakan perempuan dan tim TORAJAMELO semuanya perempuan. Pelanggan TORAJAMELO pun kebanyakan perempuan, sehingga kolaborasi ini adalah ‘Dari Perempuan, Oleh Perempuan untuk Dunia”.

Untuk produk mode dan cinderamata yang dikembangkan TORAJAMELO, Dinny Jusuf menambahkan, tujuan TORAJAMELO menjual produk mode dan cinderata berkualitas tinggi yang semuanya terbuat dari kain tenun tangan asli adalah untuk memberi added value pada kain tenun tersebut.

“Kami bersama pelaku kreatif muda tentunya sangat dibutuhkan oleh daerah-daerah terpelosok, untuk dapat mengindentifikasi warisan lokal untuk dapat di inovasikan menjadi produk-produk yang berdaya ekonomi tinggi, sehingga secara tidak langsung dapat menggairahkan ekonomi kreatif di daerah-daerah yang ada di Indonesia sehingga dapat mandiri dan lebih maju. Kami pun ingin mendorong dan membantu pengembangan potensi ekonomi kreatif lokal”, tutup Dinny Jusuf.


Reporter: Hidayat Adhiningrat P

Editor : Sandika Prihatnala

 

Hidayat Adhiningrat P.
11-08-2018 12:45