Main Menu

Menikmati Refleksi Gamelan di “Serupa Bunyi”

Mukhlison Sri Widodo
13-08-2018 09:56

Pameran "Serupa Bunyi: Menjangka Suara-Merangkai Dunia" di Taman Budaya Jawa Tengah, Solo. (GATRA/Arif Koes/FT02)

Yogyakarta, Gatra.com - Karya seni rupa, artefak gamelan, foto hingga penampilan gending para bocah  menyemarakkan pameran “Serupa Bunyi: Menjangka Suara-Merangkai Dunia” pada 10-15 Agustus 2018 di Taman Budaya Jawa Tengah, Solo. Ajang ini bagian dari International Gamelan Festival 2018.

 

Karya-karya ini hasil olah artistik lima perupa yakni Edwin Rahardjo, Hadjar Satoto, Hanafi, Heri Dono, dan Nindityo Adi Purnomo. 

Para perupa tersebut menerjemahkan gamelan ke dalam visualisasi bahasa rupa yang artistik, dalam beragam media dari lukisan, patung, instalasi, hingga karya intermedia.

Kehadiran pameran karya rupa persembahan Galeri Nasional Indonesia ini salah satu pembacaan atas eksistensi gamelan. 

Karya seni rupa merupakan ajang refleksi atas gamelan, selain upaya mengingat lagi (remembrance) melalui artefak dan membaca berbagai dokumentasi gamelan yang dianggap sebagai resonansi atau gema eksistensi gamelan selama ini.

Artefak arkeologis gamelan yang dipamerkan itu mulai dari relik relief candi, manuskrip, lontar, kalangwan, hingga ragam dokumentasi arsip, notasi, dan kitab organologi.  

Artefak ini koleksi dari Balai Pelestarian Cagar Budaya Yogyakarta, Balai Konservasi Borobudur, Pusat Kajian Arsip dan Dokumen KRT Wiroguno Yogyakarta.

“Serupa Bunyi” juga  memamerkandokumentasi  ragam gamelan nusantara dalam serangkaian karya fotografi dari para fotografer Indonesia. 

Tak lupa juga ditampilkan karya-karya finalis lomba fotografi  yang digelar oleh IGF 2018.

Dalam pameran ini, juga dihadirkan beragam dokumentasi audio-visual seperti kaset dan piringan hitam  karawitan dari para pecinta gamelan. 

Keberadaan dokumentasi ini sangat penting untuk melihat pola distribusi dan diseminasi gamelan dan seni karawitan.

Melalui pameran “Serupa Bunyi”, pihak Galeri Nasional berharap acara ini dapat memberikan sajian yang inspiratif, edukatif, dan rekreatif bagi publik luas, khususnya masyarakat yang berada di Solo dan sekitarnya.

“Selain itu kami juga berharap masyarakat dapat mengenal lebih dekat para perupa Indonesia serta memperoleh inspirasi dari karya-karya yang ditampilkan,” kata Kepala Galeri Nasional Indonesia Pustanto dalam rilis yang diterima GATRA, Minggu (12/8).

Kurator pameran Suwarno Wisetrotomo menyebut pameran ini menunjukkan betapa gamelan merupakan sumber inspirasi tanpa tepi, sebuah ruang luas yang tak terbatas untuk dijelajahi.

Peristiwa ini juga membuktikan upaya revitalisasi, rekreasi, merawat, dan menghidupkan seni tradisional, dengan cara menggubah dengan cara-cara baru, dan dengan sendirinya akan menghadirkan makna baru.  

“Gamelan sebagai artefak, tanpa sikap kreatif, hanya akan menemui jalan buntu,”  tulisnya.

Sikap kreatif atas gamelan itu turut diwujudkan oleh anak-anak. Di luar ruang pameran, bocah-bocah SD Negeri Tugu, Jebres, menggelar acara “Gamelan dalam Gambar”. 

Sekitar 100 siswa akan menggambar massal tentang gamelan dengan media kapur tulis warna-warni di halaman sekolah. 

Saat menggambar, mereka diiringi permainan gending gamelan oleh 10 teman sekolahnya yang sudah piawai menabuh instrumen tradisi ini.


Reporter : Arif Koes
Editor : Mukhlison

Mukhlison Sri Widodo
13-08-2018 09:56