A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined index: dpd-ri-update

Filename: controllers/Frontend.php

Line Number: 60

Backtrace:

File: /var/www/html/application/controllers/Frontend.php
Line: 60
Function: _error_handler

File: /var/www/html/application/controllers/Frontend.php
Line: 125
Function: default_data_body

File: /var/www/html/public/index.php
Line: 315
Function: require_once

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined index: dpd-ri-update

Filename: controllers/Frontend.php

Line Number: 64

Backtrace:

File: /var/www/html/application/controllers/Frontend.php
Line: 64
Function: _error_handler

File: /var/www/html/application/controllers/Frontend.php
Line: 125
Function: default_data_body

File: /var/www/html/public/index.php
Line: 315
Function: require_once

Farouk: Dunia Harus Belajar Toleransi Dari Indonesia
Main Menu

Farouk: Dunia Harus Belajar Toleransi Dari Indonesia

Wem Fernandez
17-10-2016 18:41

Wakil Ketua DPD RI Farouk Muhammad (Dok.Humas DPD RI/HR02)

Jakarta, GATRAnews - Wakil Ketua DPD RI Farouk Muhammad menerima rombongan Hartford Seminary dan Pengurus ICMI Pusat, Senin (17/10) hari ini. Pertemuan ini dimaksud untuk meningkatkan atau mengharmonisasi dunia melalui agama dan budaya.

 
Senator asal NTB ini merasa beruntung menerima kunjungan ini. Dia berharap hubungan Indonesia dengan berbagai negara dapat terjalin positif seperti hubungan Indonesia-AS.

 “Kemampuan Indonesia mengelola perbedaan agama dan budaya dapat menginspirasi dunia,” ucapnya di Nusantara III Komplek Parlemen, Jakarta, Senin (17/10).
 
Menurut dia, saat ini berkembang ketakutan terhadap budaya dan agama tertentu seperti munculnya Islamophobia, gerakan separatis, dan pemimpinan berpaham xenophobic (ketidaksukaan terhadap bangsa asing).
 
“Globalisasi membawa dampak positif namun juga diiringi dengan ketidakpastian dan ketakutan di berbagai penjuru dunia,” jelas Farouk.
 
Dalam ketidakpastian ini, lanjutnya, pemimpin harus menjadi penggerak perdamaian. Mereka harus menyampaikan pernyataan yang membawa keharmonisan antara budaya dan agama. Dirinya juga yakin bahwa tidak ada agama yang mendukung terorisme dan kekerasan yang mengancam kemanusiaan.
 
“Poin ini yang berhasil didorong DPD pada 24th Resolution of the 24th Annual Meeting of the Asia Pasific Parliamentary Forum (APPF) tanggal 17-21 Januari 2016 di Vancouver, Kanada,” kata Farouk.
 
Farouk menambahkan, dunia ini butuh penggerak perdamaian. Ia juga merasa senang bahwa para penggerak perdamaian hadir di acara kunjungan ini. “Sebagai kesimpulan, DPD berharap Hartford Seminary akan selalu sukses,” ujar Farouk.
 
Selain itu, DPD memiliki peran penting dalam mengelola perbedaan budaya dan agama di Indonesia melalui aspirasi yang disampaikan masyarakatnya. Lantaran, Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki berbagai agama, etnik, budaya dan bahasa yang tersebar di seluruh penjuru pulau.

“Menjadi hal yang penting untuk mendengar dan menyampaikan semua aspirasi dari Sabang sampai Merauke agar bisa didengar oleh pemerintah pusat,” jelas Farouk.
 
Sementara itu, Presiden Hartford Seminary School Heidi Hadsell mengatakan, di negaranya (Amerika Serikat), terkadang muncul sikap anti-toleransi dan paham ekstremisme yang bisa lahir dari penganut ajaran mana pun.
 
“Itu semua terjadi karena adanya kesalahan dalam hubungan antaragama, juga kesalahan hubungan lintas budaya,” terang Heidi.
 
Heidi menambahkan, paham ekstrem yang kerap ditampilkan media sebagai wajah Islam adalah bagian dari kampanye Islamophobia di negara yang memang minoritas kaum muslimin.

“Saya amat menyesal dengan sikap pemerintah Amerika yang ikut andil dalam mengkampanyekan Islamophobia,” ujar dia.


Reporter: Wem Fernandez
Editor: Arief Prasetyo

Wem Fernandez
17-10-2016 18:41