Main Menu

Sektor Kelistrikan Sumbang 70% dari Permintaan Energi Primer

Fitri Kumalasari
25-02-2018 17:16

Pembangkit listrik tenaga batubara. (Shutterstock/FT02)

Jakarta, Gatra.com -  Sektor kelistrikan menyumbang 70% dari total peningkatan permintaan energi primer. Hal ini disampaikan Spencer Dale, chief economist BP Energy dalam rilis Outlook Energi 2018 pada 20 Februari 2018 di London.

Bauran bahan bakar yang digunakan dalam pembangkit listrik meningkatkan porsi energi terbarukan. Naiknya porsi energi terbarukan mencapai 25% pada tahun 2040. “Meski demikian, batu bara masih menjadi sumber energi terbesar bagi pembangkit listrik hingga 2040,” kata Dale.

Energi terbarukan seperti angin dan surya tumbuh cepat dibanding sektor energi lainnya. Pertumbuhannya sekitar 40% dari total energi primer. Akselerasi ini dipacu lebih cepat oleh kebutuhan sektor listrik. Cepatnya pertumbuhan energj terbarukan bahkan menyaingi pertumbuhan pemanfaatan nuklir di masa sebelumnya.

Dale menjelaskan, pengembangan energi terbarukan memang membutuhkan modal besar dengan teknologi mumpuni. Komponen kunci untuk bisa berkortribusi di peluang pasar ini adalah adanya dukungan kuat pemerintah terhadap sektor ini. “Energi terbarukan bisa makin murah dengan adanya dukungan pemerintah.”

Energi terbarukan ke depan, akan mampu menyumbang 25% kebutuhan energi dunia. Porsi ini bahkan, bukan tak mungkin menggesar porsi sumbangan minyak, gas, bahan bakar fosil dan nonfosil. Apalagi komitmen dunia dalam mengurangi emisi karbon juga menjadi pertaruhan. Dalam outlook, emisi karbon akan meningkat 10% pada tahun 2040. Angka ini masih jauh dari target yang telah disepakati pada komitmen Paris sebelumnya.

Dalam rencana Sustainable Development yang dimiliki Badan Energi Internasional, emisi karbon turun hampir 50% pada tahun 2040. Pengurangan emisi ini sebagian besar berasal dari sektor kelistrikan yang hampir seluruhnya didekarbonisasi pada tahu. 2040. BP plc sendiri mendorong konsumen menggunakan energi secara efisien hingga peodusen menyediakan lebih banyak bentuk energi dengan tingkat karbon rendah.


Reporter : Fitri Kumalasari

Editor : Bernadetta Febriana

Fitri Kumalasari
25-02-2018 17:16