Main Menu

Ekspor Mebel Turun, Kemenperin Ubah Aturan Verifikasi Kayu

Mukhlison Sri Widodo
11-03-2018 19:11

Showroom mebel di Jogja. (GATRA/Arif Koes/FT02)

Yogyakarta, Gatra.com - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) akan mengubah sistem verifikasi legalitas kayu (SVLK) yang dinilai memberatkan pengusaha furniture di Indonesia. 

Revisi ini diharap dapat menggenjot nilai ekspor yang menurun.

Sekretaris Jenderal Kemenperin Haris Munandar berkata salah satu sebab penurunan ekspor adalah penerapan SVLK ke seluruh negara tujuan ekspor. 

Padahal SVLK diterbitkan khusus oleh Uni Eropa.

“Ada beberapa negara yang tidak memerlukan SVLK. Ketika produk masuk pengusaha dikenakan biaya tambahan. Ini menjadi beban pengusaha,” kata  Haris usai membuka Jogja International Furniture and Craft Fair Indonesia (JIFFINA), di Yogyakarta, Sabtu (10/3).

Salah satu revisi Kemenperin tersebut adalah membatasi penggunaan SVLK untuk negara-negara tertentu saja, dan membebaskan SVLK untuk negara lain.

Haris menjelaskan revisi juga akan diterapkan pada biaya pengurusan sertifikasi SVLK, misalnya dengan memberikan subsidi kepada pengusaha furniture.

“Karena menyangkut APBN, subsidi akan diberikan ke UKM yang memiliki rekam jejak ekspor yang baik,” katanya.

Selain merevisi SVLK, Kemenperin meminta pengusaha mebel menggarap pasar China yang semakin terbuka dan sangat potensial.

Namun berbeda dengan pasar Uni Eropa atau Amerika, pasar China lebih suka melanggar hak cipta konsumen dengan meniru komoditas dagang.

“Kami sangat menyarankan pengusaha maupun perajin mengutamakan hak cipta produk. Jika sampai lengah, saat berpameran di China bisa-bisa barang itu ditiru dan kalah karena tidak ada hak ciptanya,” kata Haris.

Selama 2017, nilai ekspor furniture Indonesia mencapai US$ 1,25 milyar. Angka ini turun dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai US$ 1,35 milyar. 

Khusus Yogyakarta-Jawa Tengah, sebagai pengekspor tertinggi, nilainya naik 15% dengan nilai total mencapai US$ 500 juta.

Direktur Industri Kecil dan Menengah, Pangan, Barang dari Kayu, dan Furniture Kemenperin Sudarto menyatakan, adanya pameran-pameran ini diharap mampu menggenjot daya beli pasar domestik.

“Pasar domestik terus naik namun kami belum mengukur besaran serapan. Ini peluang yang harus diperhatikan. Artinya kreativitas produk-produk furniture sudah mulai dilirik,” katanya.

Berlangsung pada 10-13 Maret di Java Exo Center DI Yogyakarta, JIFFINA diikuti tiga komunitas pengusaha yaitu Komunitas Industri Mebel dan Kerajinan Solo (KIMKAS), Komunitas Mebel dan Kerajinan Asal Jepara (KIDJAR), dan Masyarakat Kerajinan Mebel Mataram (MAKARENA).


Reporter : Arif Koes

Editor : Mukhlison

 

Mukhlison Sri Widodo
11-03-2018 19:11