Main Menu

Tiga Puluh Menit Pidato, Jokowi Kesal Karena Pertumbuhan Kredit Rendah

Hendry Roris P. Sianturi
16-03-2018 09:55

Presiden Jokowi memberikan arahan saat bertemu pimpinan industri perbankan nasional, di Istana Negara.(Dok. Setkab/OJI/Humas/re1)

Jakarta, Gatra.com - Presiden RI Joko Widodo tampak kesal dengan rendahnya pertumbuhan kredit perbankan tahun 2017 lalu  yang hanya 8,24%. Padahal, target pertumbuhan kredit tahun lalu disepakati di angka 12%.

 

Dalam pidatonya selama 30 menit di depan para pimpinan Bank Umum Nasional di istana negara, kamis kemarin (15/3), Jokowi menyampaikan bahwa jika perbankan tidak berani mengambil risiko bisnis, maka bisnis perbankan akan kolaps. “Saya ingat waktu kita berkumpul di sini, yang kita pegang adalah (target pertumbuhan kredit) senilai 9% sampai 12%. Kalau saya ditargetkan 9% sampai 12%, tentu yang saya ambil 12%. Kalau bicara perbankan, mau tidak mau suatu saat kita harus bicara risiko. Risiko yang paling gawat adalah, kalau tidak berani mengambil risiko. Itu yang saya lihat di 2017,” katanya.

 

Jokowi memahami, bahwa perbankan memiliki azas pruden dalam mengelola bisnis. Hanya saja, Jokowi menilai, ekspansi bisnis perbankan nasional masih lembek. Menurut Jokowi, jika perbankan mengambil risiko bisnis, maka lebih besar peluang untuk memperoleh keuntungan bagi perusahaan. “Memang, perbankan harus pruden, saya setuju. Tapi sudah berkali-kali saya katakan, kalau kita nggak berani mengambil risiko, yah selesai sudah. Kalau di dalam bisnis, pasti akan mati atau mati pelan-pelan,” ujarnya.

 

Menurut Jokowi, pengelolaan bisnis secara aman dengan mengharapkan keuntungan yang besar, hanyalah ilusi. “Di dunia yang sangat dinamis ini, era globalisasi, teknologi berkembanng sangat cepatnya. Yang namanya main aman nggak ada. Karena ketidakpastian itu hampir setiap hari kita alami. Yang namanya main aman nggak ada. Yang ada malas, kurang cerdas atau ragu-ragu,” katanya.

 

Saat ini capital adequacy  ratio (CAR) atau rasio kecukupan modal rata-rata perbankan nasional mencapai angka 23,36 persen. Padahal, jika CAR sebesar ini dikelola dengan baik, harap Jokowi pertumbuhan kredit dapat digenjot. “(CAR) 23,36%, sangat kuat. Setahu saya di negara-negara maju, hanya di tingkat 12% sampai 15%. Perbankan kita juga sangat likuid. Tapi mohon maaf, apakah perbankan kita terlalu aman? Apakah bapak ibu sekalian main aman?,” tanya Jokowi di depan pimpinan bank-bank umum.

 

Oleh karena itu, Jokowi menginstruksikan agar, perbankan harus lebih agresif di tahun 2018. Menurut Jokowi, peningkatan pertumbuhan kredit dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi. “Angka 12% pertumbuhan kredit tahun ini tidak mungkin tercapai, kalau kita hanya main di zona aman. Terakhir saya titip, agar pertumbuhan ekonomi kita tahun ini bisa mencapai 5,4%,” ujarnya.

 

Menanggapi kekesalan Jokowi tadi, Ketua Dewan Komisioner (DK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Wimboh Santoso berjanji, pertumbuhan ekonomi dapat ditingkatkan tahun ini. Mengingat, kondisi ekonomi nasional telah membaik. “Suku bunga sudah murah, inflasi rendah, dan harga komoditas sudah mulai naik, ekonomi dunia sudah mulai membaik. Maka ini momentum jangan sampai hilang. Jangan nunggu lagi,” katanya.

 

Tahun ini, Wimboh meminta agar perbankan tidak lagi khawatir dengan risiko bisnis. Wimboh memprediksi kredit perbankan di kuartal pertama akan tumbuh. “Kalau ekonomi tumbuh, inflasi rendah, itu berarti risikonya kan sudah lebih rendah daripada sebelum-sebelumnya. Nah, gak usah terlalu khawatir dengan risiko. Ini momentumnya sekarang ini. Jangan sampai nanti behind the curve,” ujarnya.

 

Wimboh beralasan, tidak tercepainya target pertbumbuhan kredit tahun lalu disebabkan karena beberapa bank mengalami kredit macet yang tinggi. “Karena banyak bank swasta yg kemarin masalah-nya NPL. Jangan sebut nama bank-nya. Ada-lah,” katanya.

 

Menurut Wimboh, saat ini personil-personil di perbankan sudah profesional dan memiliki pengalaman untuk menggenjot target pertumbuhan kredit. “Kayak kita pegawai bank baru saja. Kita kan sudah teruji lama. Perbankan kita saya rasa ngerti-lah. Ini waktunya untuk menunjukkan,” katanya.

 


Reporter: Hendry Roris Sianturi

Editor: Hendri Firzani 

Hendry Roris P. Sianturi
16-03-2018 09:55