Main Menu

Indikasi Geografis Berikan Nilai Tambah Ekonomi

Dara Purnama
21-03-2018 17:08

Direktur Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kemenkumham, Freddy Harris memberikan pemaparan saat Diskusi Indikasi Geografis di Jakarta.(GATRA/Dara Purnama/re1)

Jakarta,Gatra.com- Direktur Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham), Freddy Harris mengatakan sudah cukup banyak produk Indonesia yang telah memiliki Indikasi Geografis (IG) menembus pasar internasional. Contohnya adalah IG Kopi Toraja dan Ubi Cilembu yang diminati konsumen Jepang. Selanjutnya Kopi Gayo,Garam Amed Bali, Pala Siau dan Lada Putih Muntok yang diminati oleh konsumen di negara-negara Uni Eropa.

 

Yang dimaksud dengan IG adalah sebuah tanda yang menunjukkan daerah asal suatu barang. IG juga menunjukkan suatu produk karena faktor lingkungan geografis termasuk faktor alam, faktor manusia atau kombinasi dari kedua faktor tersebut sehingga memberikan reputasi, kualitas dan karakteristik tertentu pada barang atau produk yang dihasilkan.

 

Pasar internasional sangat tertarik dengan produk yang sudah memiliki IG. Hal ini tentunya adalah peluang besar untuk berkontribusi meningkatkan nilai devisa negara. Produk yang sudah besertifikat IG juga memiliki nilai tambah ekonomi.

"Tengoklah ketika Kopi Arabika Toraja dan Kopi Arabika Gayo sebelum terdaftar sebagai produk IG. Harga jualnya berada di kisaran Rp25.000 per kg. Setelah terdaftar, harganya Rp120.000 per kg. Begitu juga dengan Lada Putih Montok. Sebelum terdaftar produk IG kisaran harganya Rp30.000 per kg. Setelah tetdaftar harganya Rp150.000 per kg," katanya saat diskusi mengai Indikasi Geografis di Jakarta Selatan, Rabu (21/3).

 

Freddy mengatakan, bagi produk yang sudah terdaftar IG, maka tidak ada lagi produk sejenis yang boleh memakai nama geografis tersebut. Sebab dengan adanya IG sudah menjamin keaslian asal dan kualitas suatu produk. "IG juga menjamin konsumen dari produk palsu dan menjaga reputasi dari produsen," katanya.

 

Berdasarkan penelusuran DJKI, kata Harris masih banyak produk Indonesia yang belum terdaftar IG. Salah satunya adalah kopi. Padahal dengan adanya IG, produk tersebut mendapatkan perlindungan baik di Indonesia maupun di luar negeri.

"Produk kopi Indonesia sangat potensial. Saat ini posisinya nomor tiga terbesar di dunia. Persentase  produksi 6,6% dari produksi kopi dunia dengan perkiraan luas lahan perkebunan kopi mencapai 1,3 juta hektare," katanya.


Reporter : DPU

Editor : Birny Birdieni

Dara Purnama
21-03-2018 17:08