Main Menu

Tinggal Empat Bidang Lahan Sengketa Bandara Segera Disidangkan

Mukhlison Sri Widodo
21-03-2018 20:17

Lahan New Yogyakarta Airport International.(GATRA/Arif Koes/re1)

Yogyakarta, Gatra.com - Pengadilan Negeri (PN) Wates, Kulonprogo, DI Yogyakarta mengagendakan sidang konsinyasi terakhir sengketa lahan New Yogyakarta Airport International (NYIA) pada Jumat (23/3). 

Saat ini tinggal empat bidang lahan yang belum menjadi milik negara.

“Kami menargetkan sidang konsinyasi Jumat besok adalah yang terakhir. Hanya tersisa empat bidang tanah yang semuanya berupa tanah wakaf,” kata Humas PN Wates Nur Kholida Dwiwati, Rabu (21/3).

Selama Maret ini PN Wates memutuskan 14 kasus perkara konsinyasi tanah bandara. Alhasil selama 2018 ini tercatat 22 berkas perkara telah diputus. 

Ada pun pada 2017 sekitar 250 berkas telah diselesaikan oleh PN Wates, kemudian selama 2016 ada 6 berkas yang selesai disidang.

Karena sudah diputuskan, sebanyak 278 bidang tanah menjadi milik negara secara hukum.

“Dengan keputusan ini, maka warga tidak bisa melakukan upaya hukum lagi. Karena dalam kasus ini tidak ada kasasi atau peninjauan kembali,” lanjut Kholida.

Jika memang ada  yang keberatan, maka warga dipersilakan melakukan gugatan kepada pihak-pihak terkait seperti PT Angkasa Pura I dan Pemkab Kuloprogo.

Langkah hukum ini dimungkinkan mengingat beberapa kasus gugatan muncul dari ahli waris dan diselesaikan di pengadilan.

Menurut Kholida, empat bidang yang disidang pada Jumat ini berupa musala, masjid, dan sawah.

Akhir Maret ini semua masalah konsinyasi tanah terdampak bandara NYIA ditargetkan selesai.

“Saat ini total dana yang dititipkan oleh PT Angkasa Pura I ke PN Wates tersisa Rp8,14 miliar. Beberapa pemilik belum mengambil karena masih bersengketa, termasuk untuk tanah Paku Alaman Ground (PAG),” katanya.

Adapun General Manager PT Angkasa Pura I Agus Pandu Purnama juga ingin semua masalah konsinyasi lahan terdampak NYIA selesai Maret ini.

“Dari 38 kepala keluarga, kabar terakhir hanya tersisa 11 kepala keluarga dengan enam bidang tanah. Ada 26 kepala keluarga sudah menerima kompensasi penggantian lahan yang kami titipkan di pengadilan,” ujarnya saat dihubungi.

Pandu mengatakan masalah konsinyasi ini harus secepatnya diselesaikan sebab Angkasa Pura I menargetkan pembangunan kontruksi dilaksanakan akhir April ini.

Saat ini pembersihan lahan sudah selesai, bahkan pembangunan landasan pacu memasuki tahap pemadatan tanah. Jika tidak ada kendala,  NYIA siap beroperasi pada April 2019.

“April ini ditentukan siapa pelaksana proyeknya. Yang pasti, rekanan kami semuanya dari BUMN dan saat ini dalam proses lelang. Total nilai kontraknya belum bisa kami sampaikan,” pungkasnya.


Reporter : Arif Koes

Editor : Mukhlison

Mukhlison Sri Widodo
21-03-2018 20:17