Main Menu

Pengamat: Pertamina Harus Tambah Alokasi Premium

Muchammad Egi Fadliansyah
28-03-2018 01:51

BBM Bersubsidi. (GATRA/Erry Sudiyanto/FT02)

Jakarta, Gatra.com - Anggota Komite BPH Migas Hendri Achmad menyatakan secara umum penyebab kelangkaan BBM penugasan seperti Premium, karena tingginya harga minyak global, dan terjadi kenaikan harga cukup signifikan tahun ini dibandingkan tahun lalu.


“Kondisi ini menyebabkan harga jual BBM non subsidi lainnya seperti Pertalite dan Pertamax memiliki disparitas harga yang cukup besar dibandingkan Premium. Saat ini sudah banyak masyarakat yang kembali menggunakan Premium sehingga kebutuhan premiun meningkat,” katanya kepada Gatra.com, di kantornya, Jakarta, Selasa malam (27/03).

Meski di Pertamina kejadian ini dapat dimaklumi, kata Hendri namun pemerintah dan masyarakat tentunya tidak bisa menerima kelangkaan BBM jenis Premium di beberapa daerah. Terlebih, Premium merupakan BBM Penugasan yang wajib disalurkan oleh Pertamina sesuai kuota yang ditetapkan oleh BPH Migas.

“Baik diluar Jawa, Madura, dan Bali,” ucapnya.

Karena itu menurut Hendri, Pertamina sebagai BUMN perlu mengedepankan dan mendukung kebijakan Pemerintah. Apalagi dalam kondisi era new ekonomi yang semakin kompetitif.

"Artinya kebutuhan masyarakat harus menjadi prioritas untuk dipenuhi, persoalan lainnya tentu dapat dibicarakan dengan pemerintah," katanya.

Alumni Tekni Kimia UI ini menjelaskan, adanya kompensasi atas kerugian Pertamina ini tidak harus dalam bentuk penambahan jumlah subsidi BBM saja, tapi juga bisa menggunakan instumen pengurangan deviden ke Pemerintah misalnya, yang biasa dilakukan setiap ada beban kerugian Pertamina.

Sementara itu, pengamat energi UGM Fahmi Radi mengatakan bahwa penetapan harga Pertalite sepenuhnya diserahkan mekanisme pasar. karena itu, bukan masalah ketika terjadi kenaikkan harga Pertalite. Itu seiring dengan kenaikkan harga minyak dunia.

Fahmi menyakini, kenaikan harga BBM non subsidi. Seperti Pertalite dan Pertamax tidak memicu kenaikan inflasi. Namun, kenaikkan harga Pertalite akan memicu remigrasi dari Pertalite ke Premium.

"Jika Pertamina tidak menambah alokasi Premium, yang terjadi adalah kelangkaan Premium di SPBU, seperti yang terjadi akhir-akhir ini," katanya.

Menurut Fahmi, Pertamina dapat saja mengalokasikan penambahan premium.

“Hanya konsekuensinya dengan tidak menaikkan harga premium, beban biaya penambahan premium akan semakin menbengkak," katanya.

Jika itu terjadi, tentu Pertamina tidak akan pernah menambah alokasi premium. Justru Pertamina akan mengurangi pasokan premium sebagai upaya mengurangi beban biaya

“Di sinilah dampaknya terjadi, premium akan langka di pasar," katanya.

Apapun itu kata Fahmi, walaupun beban biaya premium meningkat, tapi tidak seharusnya Pertamina mengurangi pasokan premium, Pasalnya, distribusi premium merupakan penugasan pemerintah.

"Mestinya Pertamina menambah alokasi premium untuk antisipasi peningkatan permintaan akibat kenaikan harga pertalite," katanya.

Reporter: MEF
Editor: Anthony Djafar

Muchammad Egi Fadliansyah
28-03-2018 01:51