Main Menu

Cengkeh dan Taratan Jadi Jagoan Indonesia di Pameran Desain dan Furniture Internasional

Putri Kartika Utami
22-04-2018 17:46

Dirjen Industri Kecil Menengah Kementerian Perindustrian Gati Wibawaningsih. (ANTARA/Sella Panduarsa Gareta/re1)

Jakarta, Gatra.com – Dua produk kerajinan karya anak bangsa Indonesia berhasil tampil pada ajang pameran internasional, Salone del Mobile Milano 2018 di Italia. Produk lampu dengan nama Cengkeh karya Genie Anggita dan produk lampu rotan bernama Taratan rancangan Ilhamia Nuantika tampil bersama karya dari 27 desainer Indonesia di pavilion Indonesia yang dinamakan IDentities berada di Hall 14 stand F30.

Kedua produk kerajinan tersebut merupakan jebolan prgram Bali Creative Industri Center (BCIC), salah satu pusat inovasi di bawah Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah (IKM) Kementerian Perindustrian.


“Selama tiga tahun belakangan, program andalan BCIC di antaranya adalah Design Lab. Alhasil, tahun ini mampu membawa produk terbaik kami untuk ditampilkan di Salone del Mobile Milano 2018,” ujar Dirjen IKM Kemenperin, Gati Wibawaningsih dalam rilis yang diterima Gatra, Minggu (22/4).


Pameran desain dan furnitur internasional ini berlangsung selama tanggal 17-22 April 2018. Hajatan ini diikuti sebanyak 2.000 peserta dari berbagai negara di dunia untuk menghadirkan inovasi produk kontemporer yang menggabungkan unsur desain, teknologi, flesibilitas dan keberlanjutan.


Cengkeh karya Genie terinspirasi dari masa kejayaan rempah Indonesia dalam perdagangan Internasional. Produk ini diproduksi bekerja sama dengan para kriyawan di Sentra Tembaga Tumang, Boyolali.

 
“Kita mencoba memperkenalkan kekayaan Indonesia di produk kami. Kita mendukung material lokal yaitu rotan, bambu, dan juga pengrajin lokal. Tak hanya itu, kami juga ingin memperkenalkan nilai-nilai budaya, sejarah dan cerita rakyat Indonesia di produk tesebut,” papar Genie.

 
Sementara, Taratan rancangan Ilhamia Nuantika merupakan produk kerja sama dengan para pengrajin rotan asal Jawa Timur. Taratan terinspirasi dari filosofi budaya Madura dan menggunakan sifat rotan untuk memainkan impresi cahaya yang dihasilkan.


“Di proses pembuatannya, kami berdiskusi dengan para pengrajin lokal. Akhirnya, kami memilih menggunakan proses handmade dibanding buatan pabrik, untuk mendukung pengrajin lokal,” jelas Nuantika.

 

 
Penumbuhan IKM Alas Kaki

Ditjen IKM Kemenperin juga fokus pula pada penumbuhan dan peningkatan daya saing IKM alas kaki nasional. Melalui Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia (BPIPI), Kemenperin sedang melaksanakan lomba desain alas kaki yang bertajuk International Footwear Creative Competition (IFCC).

 
“Sejak tahun 2017, lewat IFCC, kami ingin memperkuat branding BPIPI sebagai salah satu benchmark untuk pelaksanaan event kreatif di Indonesia dengan meluncurkan paket 3in1 creative footwear competition, yaitu Design, Photography, dan Videography,” papar Gati.


Target dari kegiatan tersebut adalah partisipasi dari generasi milenial. Pasalnya, mereka akan menjadi peluang dan potensi bisnis jangka panjang. Hal ini seiring jumlah populasi Indonesia pada tahun 2025 yang akan didominasi oleh usia 20-39 tahun sebanyak 30 persen. Desain, fotografi dan videografi dinilai bisa memberikan inspirasi baru bagi generasi muda untuk lebih mendalami bisnis IKM alas kaki.


Gati optimistis, di masa datang, konsumsi alas kaki akan semakin meningkat seiring pertumbuhan penduduk dan tingkat daya beli. Tidak hanya pasar lokal yang berpotensi besar, peluang pasar ekspor untuk produk alas kaki juga sangat menjanjikan. ”Dengan potensi jumlah penduduk yang besar, captive local market sudah jelas menjadi peluang yang harus dikuasai tuan rumah sendiri,” tuturnya.


Kemenperin mencatat, dalam periode lima tahun (2012-2016) terjadi peningkatan signifikan terhadap konsumsi perkapita masyarakat indonesia terhadap alas kaki yang semula hanya 1,8 pasang menjadi 3,3 pasang per tahun. Artinya rata-rata kebutuhan sepatu orang indonesia lebih dari 3 pasang per tahun. Bahkan, kinerja industri alas kaki nasional mampu tumbuh positif. Pada tahun 2017, kontribusi PDB industri alas kaki sebesar Rp26,5 triliun, dengan pertumbuhan mencapai 2,4 persen.


Sementara, nilai ekspor industri alas kaki juga tumbuh sebesar USD4,9 miliar pada tahun 2017. Selain itu, tahun 2016, Indonesia menempati peringkat ke-4 sebagai produsen alas kaki terbesar di dunia dengan total produksi mencapai 1,110 miliar pasang setelah China, India dan Vietnam.


 Reporter : Putri Kartika Utami

editor : Bernadetta Febriana

 

 

Putri Kartika Utami
22-04-2018 17:46