Main Menu

Klarifikasi Kelangkaan Pasokan Batubara ke PLN, APBI Berkomitmen Penuhi Kebutuhan Dalam Negeri

didi
26-04-2018 10:11

Aktivitas pabrik tambang Batu bara di Kalimantan Timur. (Dok. GATRA/Suhartono/FT02)

Jakarta, Gatra.com - Pengusaha batu bara Tanah Air berkomitmen untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri ‎atau domestic market obligation (DMO) minimal 25%, meski terdapat disparitas harga untuk batu bara yang dipasok ke pembangkit listrik.

 

Hal itu ditegaskan Direktur Eksekutif Asosiasi Pengusaha Baru Bara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia. Menurutnya,  perusahaan batu bara yang tergabung dalam APBI sudah berkomitmen untuk tetap memasok ke PLN, terutama yang sudah melakukan penandatangan kontrak.

"Kami pun sudah mengimbau para anggota untuk mematuhi komitmen ke PLN, bahkan komitmen tersebut disampaikan juga oleh 15 perusahaan anggota kami dalam RDPU dengan Komisi VII DPR awal April lalu," kata Hendra dalam keterangan resminya, Kamis (26/4).

APBI yang memiliki anggota 85 perusahaan tambang batu bara ini dimana delapan perusahaan diantaranya  memasok hingga 80% hasil produksinya ke PLN‎, menepis adanya kabar pengurangan pasokan ke PLN. 

‎"Kalaupun kemarin ada keluhan dari PLN, menurut kami data tersebut perlu diklarifikasi dan beberapa perusahaan yang telah dihubungi telah menyampaikan langsung klarifikasinya ke PLN," ujar Hendra.

‎Hendra juga meminta PLN untuk memperjelas, pembangkit listrik di wilayah mana saja yang diklaim pasokan batu baranya langka.

"Diperjelas perusahaan apa saja yang seharusnya memasok ke pembangkit tersebut, karena sebagian PLTU (pembangkit listrik tenaga uap) lain stoknya cukup baik," papar Hendra.

Adapun pemerintah baru-baru ini menerapkan harga khusus bagi batu bara yang dipasok ke pembangkit listrik dalam negeri. Hal tersebut sempat dikhawatirkan mengganggu pasokan untuk dalam negeri karena harga ekspor yang bisa jauh lebih tinggi.

Seperti diketahui, dalam Kepmen ESDM No. 1395 K/30/MEM/2018, harga jual batu bara untuk PLTU dalam negeri senilai US$70 per ton untuk kalori acuan 6.322 kkal/kg GAR atau menggunakan HBA. Apabila HBA berada di bawah nilai tersebut, makan harga yang dipakai berdasarkan HBA.

Kementerian ESDM pun menetapkan jatah pembelian maksimal untuk batu bara bagi PLTU dalam negeri tersebut sebanyak 100 juta ton. Jumlah tersebut sesuai dengan kebutuhan batu bara untuk pembangkit yang tidak melebihi 100 juta ton per tahun.

"Pelaku industri memang menghadapi berbagai tantangan salah satunya dari sisi eksternal yaitu fluktuatifnya harga. Namun di sisi lain, untuk mendukung national interest (kepentingan nasional) kami sepakat terus berkomitmen guna memasok batubara untuk kebutuhan dalam negeri," tutupnya.



Reporter: Didi Kurniawan

Editor: Hendri Firzani 

didi
26-04-2018 10:11