Main Menu

Perekonomian Indonesia Perlu Didorong Ekspor

Mukhlison S Widodo
12-05-2018 06:20

Deput Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara GATRA/Arif Koes Hernawan/yus4)

Yogyakarta, Gatra.com - Ekonomi Indonesia tak bisa dipisahkan dari ekonomi global. Jika kondisi ekonomi dunia membaik, Indonesia pun punya peluang meningkatkan ekonominya, termasuk aktif menggerakkan ekonomi berorientasi ekspor dan menjadi sumber-sumber devisa.

 

Deput Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara mengatakan saat ini ekonomi dunia mulai bagus.

Ekonomi Amerika Serikat juga mulai membaik dengan kenaikan suku bunganya tahun ini.  

Tahun lalu, penaikan suku bunga ini juga dilakukan sejumlah Negara seperti Inggris, Kanada, bahkan Meksiko.

Fenomena tersebut turut memberi pengaruh terhadap ekonomi nasional. Sebab ekonomi nasional juga turut dibiayai oleh dana dari luar negeri. 

Selain itu, pasti ada komponen luar negeri bahkan sepenuh impor pada komoditas di dalam negeri

“Pembiayaan ekonomi Indonesia tidak cukup hanya dari dalam negeri. Jika dana bank-bank digabung semua, kredit perbankan hanya 35% dari ekonomi kita. Dana asuransi dan reksadana digabung juga masih kecil,” katanya. 

Uraian Mirza itu disampaikan saat menjadi pembicara kunci di seminar nasional BI dan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) “Pengembangan dan Pembiayaan Industri Padat Karya Berorientasi Ekspor di Gedung BI Perwakilan DI Yogyakarta, Senin lalu.

Menurut Mirza, jika hanya mengandalkan dana dalam negeri, pertumbuhan Indonesia hanya sepertiga dari pertumbuhan kita saat ini yang berkisar 5,1 %. 

Konsekuensinya, Indonesia membutuhkan dana dari luar negeri plus kebijakan impor.

“Suka tidak suka, kita membiayai perekonomian kita dengan dana dari luar. Saya bicara sebagai ekonom, bukan politisi,” kata Mirza.

Ia menjelaskan pembiayaan dari luar negeri itu dalam bentuk surat utang negara, investasi, saham, kredit luar negeri, dan penanaman modal asing. 

Untuk membayar utang-utang itu, Indonesia mesti meningkatkan transaksi valuta  asing (valas).

“Untuk bayar utang, kita perlu valas. Datangnya valas dari ekspor, pariwisata, dan tenaga kerja Indonesia di luar negeri TKI. Saat ini sumber valas kita kurang besar,”kata Mirza.

Untuk itu, saat ini pemerintah menggenjot pariwisata dan menargetkan kunjungan 20 wisatawan asing. Mirza membandingkan dengan Thailand yang telah didatangi 30 juta turis asing.  

Sementara Indonesia bisa meningkatkan dari 9 juta menjadi 14 juta turis. Untuk eskpor, Indonesia juga tertinggal.

“Thailand dan Indonesia utangnya sama sekitar 35% PDB, tapi aktivitas ekspor dan wisatanya besar sekali, sehingga devisa Thailand juga  besar,” kata dia.

Untuk itu, Mirza berkata, pemerintah tengah bekerja keras mendongkrak sektor wisata. Presiden Joko Widodo juga mendorong peningkatan ekspor.  

“Dibanding negara-negara lain, utang kita tidak besar. Yang kurang besar itu ekspornya.  We are in the right track,” ujar Mirza.

Pengajar Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada Edhi Purnawan menilai pengusaha bisa meningkatan nilai ekspor melalui intelijen pasar dan pelayanan yang baik.

“Melalui market intelligence, perusahaan bisa mengetahui apa yang dibutuhkan di tingkat lokal dan internasional. Strateginya memberikan lebih dari yang dibutuhkan oleh partner dan konsumen,” kata Edhi.

Menurut dia, kebutuhan pasar harus diketahui dan dipelajari secara detail. Langkah ini sudah ditempuh sejumlah perusahaan tekstil nasional yang padat karya dan berorietasi ekspor. 

Jika langkah ini konsisten dan ditempuh usaha lain, ia yakin ekspor bisa mencapai 25% seperti pada 1980-an.

“Kiatnya, beri hasil orderan lebih dari yang diinginkan. Give it more than expected,” ujar Edhi.


Reporter : Arif Koes
Editor : Mukhlison

Mukhlison S Widodo
12-05-2018 06:20