Main Menu

Analis : Penguatan Rupiah setelah BI Naikkan Suku Bunga Diperkirakan Bertahan dalam Jangka Pendek

Flora Librayanti BR K
18-05-2018 17:55

Ilustrasi nilai tukar rupiah. (REUTERS/Beawiharta BEA/RT)

Jakarta, Gatra.com - Rupiah tertolong karena Bank Indonesia (BI) meningkatkan suku bunga acuan untuk pertama kalinya sejak November 2014. “Seperti diperkirakan, BI meningkatkan suku bunga 7-day repo sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 4,50% guna membantu Rupiah,” kata Research Analyst ForexTime (FXTM), Lukman Otunuga di Jakarta, Jumat (18/5).

 

Rupiah, sebutnya, dapat semakin menguat di jangka pendek. Tapi peningkatan ini akan dibatasi oleh semakin besarnya ekspektasi kenaikan suku bunga AS. Pertanyaan berikutnya, apakah langkah BI di Mei ini akan membuka jalan untuk kenaikan suku bunga BI selanjutnya di 2018? “Apabila Federal Reserve meningkatkan suku bunga empat kali tahun ini, BI mungkin terpaksa mengikutinya guna menjaga nilai tukar Rupiah,” ujar Lukman.

Ekspektasi pasar yang semakin besar mengenai kenaikan suku bunga AS tahun ini memastikan bahwa Dolar terus menguat. Kombinasi antara data ekonomi domestik yang positif, kenaikan imbal hasil obligasi AS, serta spekulasi kenaikan suku bunga telah mengantarkan USD ke level tertinggi dalam lima bulan terakhir. Aksi harga mengatakan bahwa bulls jelas sedang berkuasa. Dolar dapat semakin menguat karena selisih suku bunga terus mendukung mata uang Amerika Serikat.

Dari sudut pandang teknikal, Indeks Dolar sangat bullish pada rentang waktu harian karena secara konsisten level tertinggi yang lebih tinggi (HH) dan level terendah yang lebih tinggi (HL). Breakout di atas 93.50 dapat membuka peningkatan lebih lanjut menuju 94.00 dan kemudian 94.20. Sebaliknya, jika bulls gagal bertahan di atas 93.50 maka akan memicu penurunan menuju 93.00.

Degan demikian, komoditas yang disorot Lukman adalah emas. Setelah berada di rentang lebar US$60 selama lebih dari empat bulan, emas akhirnya melintas ke bawah level support psikologis US$1300 pekan ini.

“Alasan utama penurunan tajam harga emas adalah semakin besarnya ekspektasi bahwa Fed berpotensi meningkatkan suku bunga AS empat kali tahun ini. Dolar yang menguat secara agresif juga membuat emas rentan mengalami penurunan tajam,” beber Lukman.

Harga emas merosot menuju level terendah tahunan baru yaitu US$1285 pada saat laporan ini dituliskan. Minat terhadap logam mulia tersebut terancam merosot di lingkungan suku bunga tinggi, sehingga harga emas pun berpotensi terus melemah.


 

Editor : Flora L.Y. Barus

Flora Librayanti BR K
18-05-2018 17:55