Main Menu

Memberdayakan Ekonomi Umat: Dari Mikro ke Korporasi Syariah

Aditya Kirana
14-06-2018 16:07

Founder Medco Group, Arifin Panigoro (kiri) dan Ketua Umum MUI Ma’ruf Amin (koperasisyariah212.co.id/yus4)


Jakarta, Gatra.com - Kongres Ekonomi Umat yang diselenggarakan akhir April lalu ditindak lanjuti dengan peluncuran program pemberdayaan ekonomi umat dengan nama Program Arus Baru Ekonomi Indonesia. Program diluncurkan bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI), Medco Group dan PT. Bahana Artha Ventura (BAV).

 

Program ini rencananya akan melibatkan pondok pesantren dan ormas Islam dalam pengembangan ekonomi umat. Edi Setiawan, ekonom Muhammadiyah dan dosen di Fakultas Ekonomi Universitas Hamka mengatakan bahwa upaya untuk mendongkrak ekonomi umat harus didasarkan pada data statistik mengenai keadaan ekonomi umat Islam saat ini.

Menurut Edi, umat Islam yang mendominasi hingga 87% demografi nasional berbanding terbalik dengan penguasaan faktor ekonomi. “Hanya 12% yang menguasai faktor ekonomi Indonesia,” ujarnya. Dengan jumlah yang amat besar itu, umat muslim bukan menjadi faktor pemecah masalah. “Tapi justru faktor pembuat masalah,” katanya.

Umat muslim, lanjut Edi, hanya berkontribusi pada unit usaha kecil menengah. Karena itu, maka sumbangan umat muslim terhadap produk domestik bruto (PDB) hanya sekitar 39% saja. “Itu artinya masih sangat sedikit,” katanya. Hal ini karena pola pemikiran umat muslim yang masih terjebak dalam ekonomi mikro.

Lalu, dengan adanya gelombang 212 yang kemudian melahirkan koperasi, Edi melihat itu sebagai salah satu faktor meningkatnya gejala ekonomi umat. “Paling bagus misalnya koperasi syariah di Sidogiri (Baitul Maal wat Tamwil Usaha Gabungan Terpadu Sidogiri),” ujarnya. Koperasi syariah ini, kata Edi, memiliki aset yang cukup fantastik senilai Rp 5 miliar.

Belum lagi dengan potensi zakat yang mendekati angka Rp 200 triliun. Sementara itu, menurut Edi, zakat yang terkumpul di Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) hanya sekitar Rp 6 triliun. “Itu artinya masih banyak potensi,” ujarnya. Dengan demikian, itu potensi untuk usaha kreatif dan produktif.

Terkait dengan usaha mikro yang masih digandrungi sebagian umat muslim, Edi mengatakan saat ini semestinya umat sudah harus memikirkan proyeksi membangun korporasi syariah. “Industri skala besar itu penting,” katanya.

Di pasar modal, lanjut Edi, sudah ada sedikit kemajuan dengan adanya pasar modal syariah. Hanya saja, pengetahuan umat terkait pasar modal syariah itu masih kurang. “Di pasar modal, penguatan korporasi syariah bisa didorong,” katanya.

Menurut Edi, ada dua pendekatan yang bisa digunakan untuk menganalisis ketertinggalan umat muslim dalam perekonomian nasional. Pertama adalah soal mind set umat yang meyakini agama hanya sebatas teks, bukan aksi. “Padahal dalam Al Quran sudah jelas bahwa suatu kaum harus merubah dirinya sendiri,” katanya.

Kedua, terkadang umat tidak berpikir lebih jauh tentang kerjasama antar umat. “Kita malah lebih senang kerjasama dengan orang yang bukan saudara seiman,” katanya. Solusinya, menurut Edi, adalah aksi pemberdayaan ekonomi umat yang juga memerlukan dukungan penuh dari pemerintah.

Kebijakan nawacita, kata Edi, harus memiliki kontribusi terhadap penguatan ekonomi umat. Belum lagi persoalan kekhawatiran umat untuk menjajaki pola bisnis yang baru. Umat muslim takut terjebak dalam riba jika mengembangkan bisnis dengan skala besar. “Padahal hukum yang terkait muamalah sudah jelas,” katanya.

Terkait program arus baru ekonomi Indonesia yang diluncurkan MUI, Edi mengatakan memang yang punya peluang besar untuk mendakwahkan pemberdayaan ekonomi umat adalah ormas Islam seperti NU dan Muhammadiyah.

“Karena mereka punya lahan dakwah di bidang ekonomi,” katanya. Itu bisa dimulai dari hal terkecil seperti penguatan UKM dan bisa dinaikkan skalanya menjadi korporasi syariah.

Memang hampir semua ormas kecuali Muhammadiyah tidak terlalu menaruh perhatian terhadap pemberdayaan umat. Muhammadiyah yang memang sempat memiliki Bank Persyarikatan yang hari ini sudah diakuisisi oleh Bank Bukopin. “Itu salah satu contoh dakwah di bidang ekonomi,” katanya.

Reporter : Aditya Kirana

Editor: G.A. Guritno

 

 

Aditya Kirana
14-06-2018 16:07