Main Menu

Pengamat: Green Economy Perlu Perhatian Khusus

Nur Hidayat
27-06-2018 18:53

Transtoto Handadhari (tengah) bersama pembicara lain dalam diskusi GNI-Berbangsa dan Paguyuban Wartawan Sepuh (Gatra/dok/nhi)

Yogyakarta, Gatra.com - Pembangunan ekonomi yang berwawasan lingkungan (green economy) tampaknya masih merupakan harapan negeri ini. Praktik pembangunan ekonomi rendah karbon dan tidak merusak ekosistem, pembangunan yang tidak menyebabkan bencana alam, maupun terdegradasinya kekayaan biodiversitas alam masih sulit terwujud. Itulah salah satu masukan penting yang tergambar dalam diskusi dengan topik "Green Economy untuk Kesejahteraan Bangsa".

 

Diskusi yang diselenggarakan Perkumpulan Green Network Indobesia (GNI)-BERBANGSA bekerjasama dengan Paguyuban Wartawan Sepuh itu menampilkan pembicara Prof. Dr. Cahyono Agus, Guru Besar Fakultas Kehutanan UGM, Dr. Ir. Transtoto Handadhari, M.Sc (Ketua Umum GNI-BERBANGSA/Dirut Perum Perhutani 2005-2008/Pakar Ekonomi Kehutanan dab Lingkungan) serta Drs. HM. Idham Samawi (Anggota DPR/MPR-RI) tersebut dilaksanakan di Yogyakarta. 

 

Melalui berbagai kebijakan pemerintah sebenarnya sudah terjadi langkah-langkah pengendalian. Misalnya dengan diwajibkannya para pengusaha ekonomi menyusun dokumen-dokumen Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal), maupun kebijakan monitoring, pengawasan, dan pemberian sanksi yang berat terhadap terjadinya pelanggaran atau perusakan. "Namun efektivitas segala aturan tersebut nyaris belum dapat dirasakan apalagi bila indikatornya adalah kerusakan dan adanya bencana lingkungan yang relatif meluas dan membesar," tutur Transtoto dalam siaran pers, Rabu (27/6).

"Praktik pembangunan ekonomi sulit dijamin tidak merusak ekosistem lingkungan apabila ketegasan menerapkan sanksi terjadinya kecurangan tidak dilakukan dengan baik. Praktik kolusi dan korupsi nampaknya belum mudah diberantas, meski sudah ada KPK", Transtoto menambahkan. "Pembangunan olah lahan, pertambangan maupun infra-struktur dan industri, bahkan wisata alam acapkali dituduh menjadi sumber perusak lingkungan, meskipun diakui merupakan penghasil dana kesejahteraan yang relatif besar".

Prof Cahyono menyatakan tentang keprihatinan dunia atas rusaknya "jagat biru", timbulnya bencana-bencana lingkungan sebagai efek pembangunan yang lebih mahal biayanya daripada rusaknya nilai ekonomi lingkungan. Sedangkan Drs. HM. Idham Samawi banyak mengupas ideologi Pancasila dan implementasi adil makmur dalam pembangunan berwawasan lingkungan yang akhir-akhir ini sedang digalakkan pemerintah.

Acara diskusi yang dihadiri sekitar 250 orang di antaranya oleh perwakilan Menteri LHK Dr. Ruanda Agung, Kepala Pusat KLHK Region Jawa, Perwakilan Direksi Perum Perhutani Ir. Soesilo, Kepala Perencanaan Wilayah Hutan Perhutani Dr. Widodo, Sekjen GNI-BERBANGSA Rudhito Widagdo, MBA dan pengurus lainnyabanta lain Marsda TNI AU pur. Suwitno Adi, Dr. Petrus Gunarso, Prof. Dr. Cahyono, Dr. Tjipta Purwita, serta Guru Besar UGM Prof. Dr. Moh. Naiem dan Prof. Dr. Djoko Marsono

Acara ini kemudian ditutup dengan pemberian Wakaf 500 Al Qur'an Halal tahan usia 400 tahun dari Sinar Mas. 


Editor: Nur Hidayat

Nur Hidayat
27-06-2018 18:53