Main Menu

Capaian Lifting Migas Di Bawah Target, Mampukah Pertamina Garap Blok Rokan?

Hendry Roris P. Sianturi
06-07-2018 20:47

Ilustrasi aktivitas pengolahan minyak.(ANTARA/Wahyu Putro A/re1)

Jakarta, Gatra.com -- Pencapaian lifting minyak dan gas PT Pertamina (Persero) semester I Tahun 2018 masih di bawah target. Laporan SKK Migas mencatat lifting migas semua anak usaha PT Pertamina gagal target. “Yang menarik adalah yang warnanya merah-merah. Banyak Pertamina-nya,” kata Kepala SKK Migas Amien Sunaryadi ketika mempresentasikan capaian lifting migas nasional, di Jakarta, hari ini (6/7/2018).

Ia mengambil contoh pada pencapaian lifting minyak bumi, Pertamina EP hanya mampu memproduksi 70.031 BOPD atau 81,6% dari target 85.869 BOPD. Pertamina Hulu Mahakam memproduksi minyak bumi sebanyak 46.376 BOPD atau 96,1% dari target 48.271 BPOD. Pertamina Hulu Energi ONWJ memproduksi 30.489 BOPD atau 92,4% dari target 33.000 BOPD.

Di pencapaian lifting gas bumi, Pertamina juga gagal target semester ini. Pertamina Hulu Mahakam misalnya, capaian lifting sebesar 916 MMSCFD atau 83,3% dari target 1.100 MMSCFD. Pertamina EP sebesar 816 MMSCFD atau 98,1% dari target 832 MMSCFD. Sedangkan lifting Pertamina Hulu Energi WMO sebesar 125 MMSCFD 92,6% dari target 135 MMSCFD.

Amien juga sempat menyoroti penurunan lifting minyak bumi di Wilayah Kerja Mahakam. Semester I tahun 2017, ketika dikelola Total E&P Indonesia (TEPI), realisasi lifting Mahakam sebesar 55,1 BPOD melewati target 53,6 BPOD.  “Mahakam sebelumnya dipegang Total. Kemudian per 31 Desember 2017 kemarin dipegang Pertamina, angkanya seperti ini,” katanya sambil menunjukan data lifting nasional.

Bahkan kata Amien, setahun sebelum kontrak habis, TEPI sudah mempersiapkan banyak sumur untuk dieksplorasi Pertamina. “Jadi aspek transisi nggak mempengaruhi turunnya lifting di Mahakam sekarang. Lebih pada prediksi atau prognasa masing-masing sumur. Ternyata tidak sebesar seperti yang dihitung dulu,” katanya. 

Menurut Amien ada dua penyebab penurunan lifting migas Pertamina. Penyebab pertama, Pertamina lebih banyak mengelola sumur-sumur tua. Kedua, karena alasan manajemen korporasi. “Jadi walaupun direksi mengasih arahan, tapi di bawah nggak sepenuhnya jalan,” ujar mantan pimpinan KPK ini.

Agar bisa mengejar target lifting migas semester kedua tahun ini, kata Amien, Pertamina perlu menggunakan teknologi yang tepat untuk memproduksi sumur-sumur tua. “Tentu penggunaan teknologi itu, menggunakan data yang akurat tentang sumur. Kalau nggak akurat, maka pennggunaan teknologinya kurang optimal,” ujarnya.

Direktur Hulu Pertamina, Syamsu Alam mengakui semester ini lifting pertamina gagal target. “Memang ada beberapa anak perusahaan yang liftingnya masih di bawah target,” ujarnya ketika dikonfirmasi GATRA, (06/07).

Oleh karena itu, Syamsu pun berjanji Pertamina akan berupaya meningkatkan lifting migas semester kedua agar target tahunan tercapai. “Masih ada satu semester tersisa untuk mengejar defisit,” katanya.

Lalu bagaimana peluang Pertamina menggarap Blok Rokan jika blok yang sudah dikelola saja, tidak mencapai target lifting? “Iya nanti dievaluasi. Kan kita secara prinsip, pemerintah mencari kontraktor terbaik utuk mengelola lapangannya (Rokan). Kalau reputasinya (Pertamina) nggak baik, jangan,” jawab Amien.


Reporter: Hendry Roris Sianturi

Editor: Aries Kelana

 

Hendry Roris P. Sianturi
06-07-2018 20:47