Main Menu

Waspada Luberan Produk Cina Dampak Perang Dagang AS-Cina

Aulia Putri Pandamsari
07-07-2018 13:03

Pabrik baja di Cina (Reuters/Tyrone Siu/yus4)

Jakarta, Gatra.com. Perang dagang antara Amerika Serikat dengan Cina sudah dimulai pada Jumat (6/7) lalu. Perseteruan kedua negara itu dinilai akan mempengaruhi mitra dagang mereka, termasuk Indonesia.

Menangapi hal tersebut, Dirjen Ketahanan Industri dan Pengembangan Akses Industri Internasional, Kementerian Perindustrian, I Gusti Putu Suryawirawan mengatakan bahwa memang ada kekhawatiran bila barang impor dari kedua negara itu bakal membanjiri pasar di Indonesia. “Yang dikhawatirkan itu kan luberan barang dari Cina dan Amerika Serikat ke sini," ujarnya kepada awak media di Warung Daun, pada Sabtu(7/7).

Putu menyebut bahwa ada dua industri yang memang menjadi perhatian Menteri Perindustrian akan dampak perang dagang tersebut. Yaitu industri baja dan keramik. "Jangan sampai terjadi luberan itu (baja dan keramik) akibat perang dagang,” ia menegaskan.

Presiden Amerika Donald Trump memberlakukan tarif impor pada produk Cina sebesar 34 milyar US Dollar. Ini berlaku pada produk seperti alat bajak, bahan semi konduktor, dan komponen pesawat. Tak hanya itu, Trump juga akan meningkatkan pengenaan tariff impor hingga 450 milyar US Dollar.

Cina kemudian membalas Amerika Serikat dengan berencana akan memberlakukan tariff pada ratusan barang Amerika Serikat. Dimana targetnya adalah beberapa produk ekspor teratasnya, seperti kedelai sorgum, dan kapas.

Sebelumnya Ketua Tim Ahli Wakil Presiden, Sofjan Wanandi juga menyampaikan bila Trump sedang mereview Generalized System of Preference atau pembebasan tarif bea masuk terhadap impor barang-barang tertentu dari negara-negara berkemban. Termasuk satu-satunya tumpuan Indonesia untuk menjalin hubungan dagang dengan Amerika Serikat.

“Ini kan belum terjadi. Mau kita rapatkan dulu dengan kementerian terkait termasuk dengan Kementerian termasuk Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Perdagangan," ungkap Putu.

Namun menurut Putu, di Kementerian Perindustrian yang kita perkuat pelaku usaha.  Apa yang dia rasakan ada masalah kita tangani terlebih dahulu, kalo ada masalah dengan bahan baku atau dengan pemerintah daerah ya kita tangani dulu masalah itu,” tanggap Putu.

Sementara itu, Ketua Umum Gabungan Asosiasi Pengusaha Makanan Minuman Indonesia(GAPMMI), Adhi Lukman mengatakan bila industri Makanan dan Minuman tidak banyak mendapat fasilitas dari GSP sehingga diperkirakan tidak mendapat dampak langsung dari perang dagang tersebut.

“Saya pikir industri agro dan pangan kita dengan Amerika itu komplementer. Kita banyak impor dari Amerika seperti kedelai, terigu, gandum sementara Amerika butuh udang, ikan, dan kopi dari kita. Mudah-mudahan tidak berdampak langsung tapi yang perlu diwaspadai itu luberan barang impor dari Cina dan Amerika,” terang Adhi.


Reporter: APP

Editor : Birny Birdieni

 

Aulia Putri Pandamsari
07-07-2018 13:03