Main Menu

Ini Dampaknya ke Indonesia, Jika Fasilitas GSP dari AS Dihapus

Hendry Roris P. Sianturi
08-07-2018 19:41

Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Oke Nurwan. (GATRA/Arif Koes/re1)

Jakarta, Gatra.com - Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan, Oke Nurwan mengatakan, penghapusan Generalized System of Preference (GSP) oleh Amerika Serikat akan berdampak bagi produk ekspor Indonesia. Hal ini akan mempengaruhi neraca surplus perdagangan Indonesia ke AS.


GSP merupakan kebijakan AS yang berupa pembebasan tarif bea masuk terhadap impor barang-barang tertentu dari negara-negara berkembang.

“Tentu jelas akan berdampak ke perdagangan kita. Jadinya produk kita kurang kompetitif. Karena harganya naik,” katanya di gedung Kemenko Perekonomian, Jakarta Pusat, Minggu (08/07).

Berdasarkan data BPS, ekspor non migas ke AS dari Januari sampai Mei 2018 tercatat sebanyak 10,91 persen dari total ekspor atau setara dengan nominal US$ 7,43 miliar. Jika GSP dihapus, kemungkinan surplus semester ini bisa menurun.

“Itu ada (penurunan). Tapi saya nggak boleh ngomong (berapa), karena itu nanti akan mau dibahas dengan presiden. Kan sudah jelas yang kena fasilitas GSP itu 10 persen-lah dari produk kita,” katanya.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump memberikan sinyal perang dagang ke Indonesia. Hal ini disebabkan jumlah ekspor Indonesia ke AS lebih tinggi daripada ekspor AS ke Indonesia.

Trump pun berencana menghapus fasilitas GSP kepada Indonesia.


Reporter: Hendry Roris Sianturi

Editor: Anthony Djafar

Hendry Roris P. Sianturi
08-07-2018 19:41