Main Menu

Lewat Bekraf Game Prime, Bekraf Dukung Industri Gim Indonesia

Fitri Kumalasari
19-07-2018 09:20

BEKRAF Game Prime 2018 (gameprime.org/yus4)

Jakarta, Gatra.com - Jarum jam belum juga menunjukkan angka 9 meski matahari sudah naik. Sejumlah orang masih sibuk merapikan booth gim atau pameran.

 

Namun, antrian di meja pendaftaran untuk dapat masuk ke arena Bekraf Game Prime (BGP) 2018 di Balai Kartini, Jakarta pada Sabtu pekan lalu, terus bertambah.

Acara BGP jadi salah satu perhelatan akbar pameran gim terbesar di Indonesia. Para developer, publisher, investor, hingga masyarakat bisa hadir di acara yang sudah tiga tahun terakhir didukung Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf).

Game Prime sebelumnya meski sudah sering dilaksanakan, tapi cakupan gelarannya belum maksimal.

BGP diharapkan menjadi acara tahunan terbesar bagi pemangku kepentingan industi gim nasional untuk dapat bertemu, berjejaring, berbagi pengetahuan dan mendiskusikan tentang peluang-peluang baru di subesktor ini.

“Saya berharap melalui kegiatan ini lahir produk-produk gim nasional melalui talenta lokal yang mampu menjadi tuan rumah di negara sendiri sekaligus dapat bersaing dengan produk-produk negara lain di tataran global,” kata Triawan Munaf dalam sambutannya pada gelaran BGP, Sabtu lalu (14/7).

Gim dan aplikasi sendiri masuk subsektor prioritas Bekraf bersama dengan film dan musik. Sementara tiga subsektor unggulan Bekraf yakni kuliner, fesyen, dan kriya.

Tugas utama Bekraf memang untuk membantu menciptakan ekosistem kondusif 16 subsektor ini untuk mengakselerasi diri dan potensi.

“Bekraf ini kan menangani dari hulu ke hilir. Ada kreasi, produksi, distribusi, konsumsi dan konservasi,” kata Hari Sungkari, Deputi Infrastruktur Bekraf kepada GATRA.

Aspek kreasi memiliki arti Bekraf bertugas memfasilitasi (dalam hal ini) para developer gim dan HAKI.

Aspek produksi berarti Bekraf juga membantu menghubungkan para developer pada akses permodalan. Bekraf sendiri memiliki Bantuan Insentif Pemerintah yang bisa diperoleh para pelaku gim. Besarannya Rp50 hingga Rp200 juta yang diberikan tiap tahun.

Aspek distribusi adalah membantu agar developer gim bermitra dengan publisher untuk peroleh akses pemasaran lebih luas di sejumlah platform gim.

Pada aspek konsumsi, gelaran hajatan semacam BGP membantu masyarakat luas makin kenal dengan produk lokal.

Pada tahun 2017 industri gim Indonesia menempati peringkat 16 dunia. Posisi ini naik satu peringkat dari tahun sebelumnya. Diperkirakan pada tahun 2017 nilai industri game di Indonesia mencapai US$882 juta, naik kurang lebih US$200 juta dibandingkan tahun 2016.

Angka ini menempatkan Indonsia sebagai pasr gim terbesar di Asia Tenggara, bahkan mengalahkan India. Angka ini juga menunjukkan pertumbuhan sekitar 25%-30% year on year.

Jika pertumbuhannya konsisten, diprediksikan nilai industri gim Indonesia dapat mencapai US$1,82 milyar di tahun 2021.

Ironisnya, pada tahun 2017 pangsa pasar perusahaan lokal untuk gim hanya 5%, turun dari tahun sebelumnya yang mencapai 9,5%. Juga secara nominal, dari US$60 juta pada tahun 2016 menjadi US$40 juta pada tahun 2017.

Tahun lalu, Bekraf bekerja sama dengan Nikkei Jepang menggelar acara Game Networking Jakarta. Tujuan acara ini adalah untuk mempercepat akselerasi industri game Indonesia dengan cara pertukaran ilmu dengan industri game Jepang.

Selama tahun 2017 Bekraf juga menyelenggarakan Bekraf Developer Day yang digelar di 9 kota di Indonesia dan mencatat lebih dari 7000 peserta developer game dan aplikasi.

Bekraf juga mendukung Global Game Jam 2017 digelar secara serentak di 10 kota dan diikuti oleh kurang lebih 500 developer game di seluruh Indonesia.

BGP 2017 diselenggarakan di dua kota (Surabaya dan Jakarta) dan mencatat total 13.200 pengunjung, menjadikannya sebagai event industri game terbesar di Indonesia dan salah satu event papan atas di Asia Tenggara.

Pada tahun 2017, Bekraf bekerja sama dengan Nikkei Jepang menggelar acara Game Networking Jakarta. Tujuan acara ini adalah untuk mempercepat akselerasi industri game Indonesia dengan cara pertukaran ilmu dengan industri game Jepang.

 Asosiasi Game Indonesia (AGI) dan Bekraf, melalui program Archipelageek, membantu developer game Indonesia untuk memamerkan karya di berbagai event konsumen, baik lokal maupun internasional seperti PopCon Asia (Jakarta), Tokyo Game Show (Tokyo, Jepang), SXSW (Austin Texas) dan CeBIT Australia (Sydney).

AGI dan Bekraf juga bekerja sama untuk membantu developer Indonesia dalam membawa development kit konsol ke Indonesia. Beberapa game developer Indonesia mulai melirik untuk mengembangkan game di konsol tersebut.

Salah satu yang sudah menghasilkan adalah Toge Production dengan Mojiken Studio.

Di sisi lain, Sistem Game Rating Indonesia (IGRS) mulai diimplementasikan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo). Tujuannya adalah sebagai pedoman untuk orang tua dalam memilih game yang sesuai dengan usia putra putri mereka

Pada tahun 2017, Discovery Nusantara Capital (DNC) mulai masuk Indonesia dan memberikan investasi ke beberapa perusahaan game Indonesia, antara lain: Touchten Games (developer game), Toge Productions (developer game), RevivalTV (media eSports), IDEA Network (media game dan pop culture), Arsanesia (developer game) dan OmniVR (developer game virtual reality). 

Tahun 2017 juga ditandai dengan bermunculannya komunitas game developer di berbagai daerah seperti di Salatiga, Medan, Tasikmalaya, dan Madura yang didukung secara penuh oleh institusi pendidikan setempat.


Reporter : Fitri Kumalasari
Editor : Mukhlison

Fitri Kumalasari
19-07-2018 09:20