Main Menu

Ekosistem Demi Suburnya Industri Gim Tanah Air

Fitri Kumalasari
19-07-2018 09:28

Ilustrasi.(Shutterstock/re1)

Artikel Terkait

Jakarta, gatra.com - Pertumbuhan industri gim di Indonesia tergolong cepat. Data dari Bekraf menyebut pada awal 2000-an belum ada industri gim di Indonesia yang naik ke muka. Belum ada perusahaan gim yang benar-benar peroleh untung dari membuat dan memasarkan gim. Berselang beberapa thaun kemudian, industri gim Indonesia mulia tampak dengan kehadiran Multiplayer Massive Online (MMO) seperti Nexia dan Ragnarok Online.

Hadirnya Facebook pada 2007 juga ikut mengangkat gim ke level panggung makin tinggi dengan basis gim sosial maupun banyaknya komunitas gim terbentuk. Industri ini pun terus berkembang seiring smartphone bergaung sekitar 2010-2011. Platform bermain gim makin bertambah dan membikin geliat developer gim lokal perlahan terbentuk.

Berdasarkan hasil riset Newzoo pada 2015, Indonesia menjadi negara dengan pertumbuhan industri gim paling cepat di Asia Tenggara. Dengan jumlah penduduk saat itu 250 juta, populasi gamer-nya sekitar 42 juta jiwa. Para pelaku di industri gim global meraup dari pasar Indonesia hingga USD 321 juta atau Rp 4,2 triliun.

Pada tahun 2017 industri gim Indonesia menempati peringkat 16 dunia. Posisi ini naik satu peringkat dari tahun sebelumnya. Newzoo memperkirakan pada tahun 2017 nilai industri game di Indonesia mencapai USD 882 juta, naik kurang lebih USD 200 juta dibandingkan tahun 2016.

Angka ini menempatkan Indonsia sebagai pasr gim terbesar di Asia Tenggara, bahkan mengalahkan India. Angka ini juga menunjukkan pertumbuhan sekitar 25%-30% year on year. Jika pertumbuhannya konsisten, diprediksikan nilai industri gim Indonesia dapat mencapai USD 1,82 miliar di tahun 2021.

Ironisnya, pada tahun 2017 pangsa pasar perusahaan lokal untuk gim hanya 5%, turun dari tahun sebelumnya yang mencapai 9,5%. Juga secara nominal, dari USD 60 juta pada tahun 2016 menjadi USD 40 juta pada tahun 2017.

Asosiasi Game Indonesia (AGI) mengoreksi sedikit informasi tersebut. Menurut Ketua AGI, Narendra Wicaksono peran pemain lokal di pasar industri gim Indonesia masih satu digit. “1 persen, lah,” katanya kepada Gatra (14/7). Peran pemain lokal dalam pasar Indonesia masih jauh panggang dari api.

Industri gim Indonesia memang menarik. Narendra menceritakan potensi pendapatan dari sektor ini luar biasa besar. Apalagi untuk para pemain global di industri gim, posisi Indonesia terbilang seksi, yakni jumlah penduduknya yang besar. “Kita nomor 16 dunia. Tahun lalu revenue dari kita USD 880 juta. Itu gede banget. Sebanarnya secara angka itu tiga kali lipat dari industri film. Yang menjadi problem adalah nggak banyak kontribusi dari pemain lokal.”

CEO Dicoding ini juga memaparkan ada tiga hal yang menjadi masalah di industri gim dalam negeri. Pertama, ketersediaan talent yang bisa membuat gim. Butuh minimal 3 tahun untuk gimnya diterima di pasar. “Itu belum dihitung laku. Tiga tahun itu gim rilis ke publik.” Ada orang Indonesia yang bisa tabah melewati proses 3 tahun itu.

“Tapi orang mau mencoba lalu gagal, gagal lagi dan mencoba terus nggak banyak. Kita harus memperbanyak orang yang mau gagal dalam proses tiga tahun itu. Supaya studio-studio ini punya lebih banyak orang untuk di-hire,” jelas Naren. Ini pun akan ikut studio-studio berkembang lebih banyak.

Kedua, studio-studio yang mature di Indonesia kurang jumlahnya. Akhirnya yang mau investasi juga tak banyak. ““Makanya kita harap talent makin banyak, studio makin banyak, dan pasar juga makin gede.”

Ketiga, investasi. Hanya sedikit orang yang berani investasi di industri gim. Di Indonesia hanya sekitar USD 2 juta pada tahun 2017 dari riset Agate. Dibandingkan dengan Vietnam yang investasi USD 50 juta. Kalau negara seperti Korea Selatan, Jepang itu investasinya udah milyaran. Jangan dibandingkan.”

Naren mengakui di Indonesia stigma gim belum positif. Masyarakat belum teredukasi cukup mengenai peluang industri gim. Gim masih dipandang sebagai sesuatu yang abstrak. Ini membuat industri gim sepi investor lokal. Padahal, investor luar negeri sudah banyak melirik potensi Indonesia. Jika ekosistem industri gim di Indonsia solid, masa depan perekonomian tentu cerah.

AGI sendiri memiliki sekitar 180-an anggota yang terdiri dari developer gim hingga publisher. Gim yang dimiliki para anggota AGI sekitar 600-an jumlahnya, karena tiap anggota minimal memiliki 3 buah gim. Idealnya, lanjut Naren, jumlah talent dan studio lokal harus beratus kali lipat lebih banyak lagi dari sekarang untuk negara sebesar Indonesia.

Terkait membikin gim yang tak kalah siang dengan gim luar, Deputi Infrastruktur Bekraf Hari Sungkari berpendapat untuk membuat gim yang berbeda dari pasar global. “Memang harus dicari ynag unik dari Indonesia agar bisa jadi diferensiasi. Kalau sama kan susah.”

Salah satu terobosan penting yang berhasil dilakukan Bekraf bersama dengan AGI adalah menghadirkan development kit untuk membikin gim konsol. Untuk mengembangkan gim konsol, gim developer harus mendapatkan development kit dan terdaftar sebagai developer partner untuk mulai mengembangkan game. Development kit adalah sebuah alat atau perangkat hardware khusus yang bentuknya mirip dengan konsol komersil, tapi memiliki banyak fleksibilitas yang mendukung para developer dalam mengembangkan video game untuk dirilis di sebuah konsol.

Mengingat Indonesia sebagai salah pasar prospektif bagi gim dan membuat geliat industri gim lokal berdaya saing global masih panjang. Ekosistem mesti terus dibentuk dan disemai dengan kemudahan-kemudahan dalam iklim yang mendapat dukungan penuh negara. Semua masih mungkin bagi Indonesia, kan?


Reporter: Fitri Kumalasari

Editor: Rosyid

Fitri Kumalasari
19-07-2018 09:28