Main Menu

Kementan Harus Perhatikan Kenaikan Harga Telur

didi
20-07-2018 17:52

Ilustrasi.(Shutterstock/re1)

Artikel Terkait

Jakarta, Gatra.com - Tingginya harga telur maupun daging ayam ras semenjak bulan Ramadhan disinyalir adanya kelangkaan pakan ternak dalam proses produksinya. Swasembada bahan pakan tak tercapai, yang pada akhirnya menyebabkan biaya produksi menjadi kian tinggi.


Oleh sebab itu, Kementerian Pertanian (Kementan) diminta memperhatikan terhadap kenaikan harga ini. Program upaya khusus (upsus) padi, jagung dan kedelai (upsus pajale) besutan Kementan nyatanya belum sepenuhnya berkontribusi pada industri pakan.

“Problemnya bukan hanya masalah produksi, namun juga kontinuitas. Jangan dilihat ketika panen jagung, terus kita swasembada. Jagung masih diragukan bisa memasok kebutuhan industri pakan,” ujar Ketua Pusat Kajian Pertanian Pangan dan Advokasi (Pataka) Yeka Hendra Fatika, Jumat (20/7).

Untuk tahun ini, sasaran upsus adalah peningkatan produksi jagung menjadi 33,08 juta ton. Angka produksi ini bisa dicapai dengan dukungan program 4 juta ha lahan, alat, dan mesin pertanian serta bantuan pembinaan. Namun, Yeka menilai, konsistensi menjadi persoalan.

Yeka menganalisa, dalam setahun kebutuhan industri pakan hanyalah 8 juta ton. Jika dirata-rata, maka kebutuhan per bulan berkisar 660 ribu ton. Namun, budaya petani yang menanam jagung, padi dan palawija secara bergantian tiap musim sehingga menyebabkan produksi jagung tak merata sepanjang tahun.

Pada saat yang sama, depresiasi rupiah juga turut mendorong lonjakan harga pakan. Hal ini karena bungkil kedelai masih harus didatangkan dari luar negeri.

Meroketnya harga telur sebulan terakhir juga disebabkan minimnya pasokan akibat berkurangnya populasi ayam petelur. Menurut Yeka, berkurangnya jumlah pasokan akibat banyaknya pelaku usaha skala kecil yang bangkrut ketika harga jatuh dua tahun lalu.

Ia memperkirakan setidaknya 30% peternak ayam kecil yang terpaksa menutup usahanya akibat harga telur yang terlalu rendah. Faktor lain yang lebih berpengaruh, adanya penyebaran penyakit yang ditemui di beberapa sentra penghasil telur, yang menyebabkan tingkat kematian hingga 40%-100%.

Lanjut Yeka, fenomena penurunan produktivitas ini terjadi setelah adanya larangan pengunaan antibiotic growth promoter (AGP). “Penyakit yang menyebabkan produktivitas lebih massif dan inilah yang menyebabkan biaya produksi mahal. Akibatnya, harga telur juga menjadi mahal. Tanpa adanya upaya dari pemerintah membenahi masalah ini, maka biaya produksi akan tetap mahal dan berimbas pada harga telur,” jelasnya.

Peneliti Indef, Ahmad Heri Firdaus mengungkapkan hal senada. Masalah pakan ternak ini terlihat dari kurangnya suplai jagung khusus untuk pakan ternak yang dihasilkan dari dalam negeri.

Sementara itu, sudah sejak tahun lalu diketahui ada pembatasan impor jagung. Pembatasan mengenai impor jagung ini diputuskan lewat Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 57 Tahun 2015.

“Intinya masalah di pakannya ini cukup krusial. Itu berdampak terhadap outputnya, dalam hal ini adalah telur dan daging ayam,” ujar Heri.

Jika suplai pakan saja sudah langka, maka bisa dipastikan biaya produksi telur maupun ayam ras melambung tinggi. Pasalnya, komponen pakan dalam peternakan ayam maupun unggas lainnya bisa mencapai 20-30%. Di sisi lain, mengharapkan suplai nasional jagung untuk pakan ternak ibaratnya bertaruh seorang diri karena kerap produksi jagung tidak berkelanjutan sepanjang tahun. Padahal, peternakan membutuhkan asupan yang tetap.

“Sementara impornya itu kadang dibuka, kadang ditutup. Akhirnya kalau ditutup, harusnya pastikan dulu pasokan lokalnya mencukupi atau tidak,” ujar alumnus IPB ini.

Untuk saat ini, rata-rata harga ayam ras secara nasional berada di angka Rp39.100 per kilogram. Sementara itu, harga telur ayam ras sudah mencapai posisi Rp27.200 per kilogram.

Keduanya mendukung langkah pemerintah untuk bergerak cepat. Mengumpulkan para stakeholder terkait untuk bisa memastikan tidak ada masalah dalam pakan ternak hingga ke pendistribusian menjadi urgen dilakukan. Pelonggaran impor DOC juga perlu dilakukan untuk menambah populasi ayam.


Reporter: Didi Kurniawan
Editor: Arief Prasetyo

didi
20-07-2018 17:52