Main Menu

Kementan Harus Tanggung Jawab untuk Kenaikan Harga Telur

Cavin Rubenstein M.
21-07-2018 14:37

Ilustrasi.(ANTARA/re1)

 

Jakarta, Gatra.com - Kelangkaan pakan ternak dalam proses produksinya diduga menjadi salah satu penyebab tingginya harga telur maupun daging ayam ras sejak bulan Ramadhan kemarin. Program upaya khusus padi, jagung, dan kedelai dari Kementerian Pertanian tak bisa sepenuhnya berkontribusi pada industri pakan.


“Bukan hanya produksi, namun juga kontinuitas. Jangan dilihat ketika panen jagung, terus kita swasembada. Jagung masih diragukan bisa memasok kebutuhan industri pakan,” urai Ketua Pusat Kajian Pertanian Pangan dan Advokasi (Pataka) Yeka Hendra Fatika, dalam keterangan tertulisnya yang diterima redaksi Gatra.com, Sabtu (21/7) pagi.

Untuk tahun ini, sasaran upsus adalah peningkatan produksi jagung menjadi 33,08 juta ton. Angka produksi ini bisa dicapai dengan dukungan program 4 juta ha lahan, alat dan mesin pertanian, serta bantuan pembinaan. Namun, Yeka menilai, konsistensi menjadi persoalan.

Yeka menganalisa, dalam setahun kebutuhan industri pakan hanyalah 8 juta ton. Jika dirata-rata, kebutuhan per bulan berkisar 660 ribu ton. Namun, budaya petani yang menanam jagung, padi dan palawija secara bergantian tiap musim menyebabkan produksi jagung tak merata sepanjang tahun. Pada saat yang sama, depresiasi rupiah juga turut mendorong lonjakan harga pakan. Hal ini karena bungkil kedelai masih harus didatangkan dari luar negeri.

Meroketnya harga telur sebulan terakhir juga disebabkan minimnya pasokan akibat berkurangnya populasi ayam petelur. Menurut Yeka, berkurangnya jumlah pelaku usaha akibat banyaknya pelaku usaha skala kecil yangbangkrut ketika harga jatuh dua tahun lalu menjadi penyebab terpangkasnya populasi ayam petelur.

Ia memperkirakan setidaknya 30% peternak ayam kecil yang terpaksa menutup usahanya akibat harga telur yang terlalu rendah.

Faktor lain yang lebih berpengaruh, adalah adanya penyebaran penyakit yang ditemui di beberapa sentra penghasil telur, yang menyebabkan tingkat kematian hingga 40%-100%. Selain itu, juga ditemui penurunan produktivitas ayam petelur akibat serangan penyakit.

Menurut Yeka, fenomena penurunan produktivitas ini terjadi setelah adanya larangan pengunaan antibiotic growth promoter (AGP).

“Penyakit yang menyebabkan produktivitas lebih massif dan inilah yang menyebabkan biaya produksi mahal. Akibatnya, harga telur juga menjadi mahal. Tanpa adanya upaya dari pemerintah membenahi masalah ini, biayaproduksi akan tetap mahal dan berimbas pada harga telur,” jelasnya. Oleh karena itu, ia berharap Kementerian Pertanian bisa lebih fokus bekerja menangangi masalah-masalah tadi.

Tentu Pemerintah tidak bisa diam saja menghadapi kondisi ini. Sejauh ini, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita sudah berupaya menurunkan harga telur, dengan cara intervensi pasar. Keputusan tersebut diambil awal pekan ini, setelah rapat dangan pengusaha perunggasan, mulai dari pakan, ayam broiler, sampai telur. Hadir juga Ketua Satgas Pangan Polri, Irjen (Pol.) Setyo Wasisto.

"Kami siapkan langkah intervensi pasar, meminta integrator besar mengeluarkan stoknya, dan kami akan lakukan penjualan langsung di pasar jika harga tidak turun dalam seminggu," tutur Menteri Enggartiato, Senin (16/7) awal poekan kemarin.

Pemerintah mendesak para distributor telur ayam untuk menurunkan harga jual komoditas tersebut secara perlahan dalam waktu sepekan. Ini seiring kondisi pasokan yang sudah membaik usai Lebaran 2018.

Ia memastikan, mahalnya harga telur maupun ayam ras saat ini bukan disebabkan aksi penimbunan. Hal ini lantaran kedua komoditas tersebut bukan barang yang tahan lama dan membutuhkan biaya untuk menahannya didalam peternakan atau gudang.



Editor : Cavin R. Manuputty

Cavin Rubenstein M.
21-07-2018 14:37