Main Menu

Jika Ingin Bertahan, Pengusaha Ritel Perlu Kembangkan Marketing Online-Offline

Aries Kelana
23-07-2018 17:50

Talkshow branding update. (Dok Prasetya Mulya/RT)

Menghadapi masa suram bisnis ritel di Indonesia, perlu trik khusus. Prof. Agus W. Soehadi selaku Dekan School of Business & Economics Universitas Prasetiya Mulya mengatakan bahwa bukan hanya menjalankan bisnis secara online dan offline, melainkan juga dibutuhkan omni-channel marketing. Ini karena konsumen cenderung mengombinasikan aktivitas di toko online dan offline sebelum melakukan pembelian.

 

“Kadang mereka review produk secara online, lalu ke toko offline untuk membeli. Sehingga kegiatan marketing antara online dan offline yang terintegrasi sangat dibutuhkan,” kata Agus dalam talkshow Branding Update yang berlangsung di Financial Club, CIMB Niaga, Jl Sudirman, Jakarta Selatan, seperti dalam rilisnya yang dikirimkan ke gatra.com (23/7/2018).

Agus berbicara itu lantaran masa-masa emas bisnis ritel di Indonesia sudah mulai redup beberapa tahun belakangan ini. Ini ditandai banyaknya ritel-ritel raksasa yang gulung tikar dan menutup gerainya. Hal yang sama lebih dahulu mendera pebisnis ritel di Amerika akibat maraknya bisnis belanja online. Tantangan tersebut harus segera diantisipasi oleh semua pelaku bisnis ritel di sini. Penyesuaian terhadap perkembangan pun harus dipikirkan dengan matang, bukan hanya sekedar dengan merubah bisnis model.

Berdasarkan riset Asosiasi Pengusaha Retail Indonesia (APRINDO), pertumbuhan bisnis ritel di Indonesia per 2016 mengalami penurunan menjadi 9% dibandingkan tahun 2014 yang sempat mencapai angka dua digit di kisaran 14-15%.

Dalam kesempatan yang sama, Krisetiadi Purwanto selaku Product Leadership Director Nielsen Indonesia, dalam talkshow itu, menjelaskan bahwa menurut hasil riset The Nielsen Company Indonesia, penetrasi internet yang luar biasa membuat daya beli masyarakat Indonesia kian mengalami transisi dari yang mengutamakan belanja produk menjadi mendahulukan belanja pengalaman.

“Dari hasil riset terhadap 1.500 responden rumah tangga di Indonesia, konsumen masa kini lebih cenderung menghabiskan dana untuk rekreasi dan gaya hidup ketimbang untuk konsumsi fast moving consumer goods (FMCG),” ujarnya.

Sementara itu, Jessica Carla, Chief Marketing Enabler startup Anterin, kegiatan berbelanja kini bukan semata hanya sebatas pada proses membeli kebutuhan, tetapi konsumen menuntut adanya pengalaman yang ‘lebih’ ketika mereka berbelanja.

Konsumen saat ini melihat social currency yang akan didapat ketika melakukan pembelian terhadap suatu merk. “Peritel harus mengedepankan pengalaman dan interaksi dalam setiap touch point dengan konsumennya,” kata Jessica Carla.


Editor: Aries Kelana

 

Aries Kelana
23-07-2018 17:50